Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Jurusan Teknik Arsitektur UNG Akan Dampingi 5 Desa di Gorontalo Selama 4 Tahun, Ini Misinya

Dulohupa.id – Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan pendampingan masyarakat di tiga desa dan dua kelurahan di Gorontalo. Pendampingan itu setidaknya akan berlangsung selama empat tahun di tiga desa di Torosiaje Serumpun di Kabupaten Pohuwato, dan Kelurahan Talumolo, dan Kelurahan Tanjung Keramat di Kota Gorontalo

Dosen jurusan Teknik Arsitektur UNG, Sri Sutarni Arifin kepada dulohupa.id menjelaskan, bahwa pendampingan di desa dan kelurahan tersebut berkaitan dengan penataan bangunan dan lingkungan permukiman. Jadi kata dia, jika ada program pemerintah desa yang ingin mengembangkan ekowisata, dan butuh master plan atau rencana detail desain kawasannya, maka pihaknyalah yang nantinya akan melakukan itu.

“Kita yang akan bantu di situ, sama dengan ada masalah di desa situ terkait arsitektural, ya kita akan bantu dan support. Program ini akan berlangsung selama empat tahun, jadi dari penandatanganan kontrak kemarin (Oktober 2020) hingga nanti empat tahun ke depan,” kata Sri.

Secara rinci ia menyampaikan, dalam empat tahun tersebut, kegiatan semacam KKS mahasiswa arsitektur, kerja prakter, KKL, magang serta program kerja merdeka, akan diarahkan ke desa desa dampingan tersebut.

“Termasuk kegiatan pengabdian dosen. Misalnya bikin pelatihan dan pendampingan akan diarahkan ke sana. Di luar itu, baru kita menyesuaikan dengan program pemerintah desa, apa yang bisa torang (kita) support,”

Dijelaskan Sri, bahwa yang nantinya akan diterapkan di desa dampingan itu, adalah konsep pembangunan yang tanpa mengubah unsur budaya lokal.

“Misalnya permukiman Torosiaje Serumpun. Kami akan desain sanitasi yang bagus,(tapi) tidak mengubah kelokalannya masyarakat yang ada di situ. Misalnya material. Bisanya kan materialnya diubah, nah kita tidak mengarah ke sana. Mungkin bentuknya saja yang diperbagus, sirkulasi diatur kembali, lebih ditata, karena itu pemasalahnya di sana. Hanya saja, kita mau tetap mempertahankan nilai-nilai lokalnya. Misal material bangunan dijaga, termasuk menata kawasan, mempertahankan kebiasan masyarakat dan tradisinya,” jelas Sri.

Sedangkan Kelurahan Tanjung Keramat dan Kelurahan Talumolo kata dia, masalah terbesarnya adalah kawasan permukiman kumuh dengan sanitasi yang tidak bagus. Sehingga misinya adalah, bagaimana menata kawasan kelurahan tersebut agar nilai estetikanya muncul. Selain itu, juga menata permukiman tersebut dalam memitigasi bencana.

“Kayak Kelurahan Tanjung Keramat, kita berharap ditata kawasan permukiman nelayan, walaupun di sana lokalnya tidak muncul, tapi setidaknya lebih ditata (kawasannya) agar nilai estetika muncul. Dan tentu sesuai standar permukiman lokal itu bagaimana. Jadi kami akan menata kawasannnya sih,”

Program dalam waktu dekat ini kata Sri, “dari hasil diskusi dengan kades (kepala desa) karena mereka mau bikin perencanaan dulu, mereka 2021 mau mengembangkan pariwisata di sana. Jadi kita mau mensupport dulu terkait dokumen perecanaannya. Jadi mungkin desain kawasanya seperti apa, termasuk desain detailnya, gambar-gambar dua dimensi, tiga dimensi,” tutup Sri.

Reporter: Wawan Akuba