Dulohupa.id – Ratusan warga Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo bersama dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo menggelar tradisi koko’o atau ketuk sahur untuk membangunkan warga.
Dengan berjalan kaki, mengambil start dari pintu gerbang kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Ratusan peserta dari dosen, mahasiswa dan warga Talumolo rela berjalan kaki menyusuri jalan di Kota Gorontalo dengan membunyikan alat musik dari bambu, sambil menyanyikan lagu-lagu religi.
Tak hanya remaja dan orang tua, namun anak-anak juga terlibat dalam tradisi lokal tersebut. Ketuk sahur ini juga diiringi drum band agar menambah semangat warga.
Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Eduart Wolok mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat Gorontalo yang kemudian terus dilestarikan supaya tetap terjaga. Ia juga menjelasakan, selain untuk membangunkan warga, tradisi koko’o ini sebagai rasa syukur warga karena masih dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan.
“Ini adalah sesuatu yang istimewa karena kita dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan, dan ini merupakan budaya masyarakat Gorontalo yang disebut dengan koko’o atau toki sahur. Toki sahur itu artinya kaum muda itu bangun kemudian membunyi-bunyikan untuk membangunkan masyarakat untuk sahur,” kata Eduart Wolok
Koko’o atau ketuk sahur sendiri merupakan tradisi masyarakat Gorontalo untuk membangunkan warga agar tidak terlambat untuk bersantap sahur. Kegiatan ketuk sahur ini dimulai pukul 2:00 hingga pukul 3:00 dinihari.
“Kami berkesempatan untuk ikut melestarikan budaya Gorontalo ini sebagai bentuk kegembiraan menyongsong dan meyambut bulan suci Ramadan. Start nya dari pintu Gerbang UNG dan nanti finisnya di Kelurahan Talumolo,” kata Eduart Wolok
Kegiatan ketuk sahur ini akan digelar selama bulan Ramadan, untuk membantu warga di Kota Gorontalo agar tidak terlambat melaksanakan santap sahur.
“Ini adalah sebuah kegiatan budaya yang memberikan gambaran ciri has masyarakat Gorontalo Ketika menyambut dan bergembira ria menyongsong bulan suci Ramadan,” tutup Rektor UNG, Eduart Wolok
Reporter: Yayan











