Scroll Untuk Lanjut Membaca
BUDAYAEKONOMIPENAS Gorontalo

Melestarikan Budaya: Upiya Karanji Laris di PENAS ke-XVII Gorontalo

×

Melestarikan Budaya: Upiya Karanji Laris di PENAS ke-XVII Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Upiah Karanji Gorontalo
Upiya Karanji menjadi salah satu oleh-oleh khas Gorontalo. Peserta PENAS asal luar daerah saat mengunjungi lapak penjualan. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Upiya Karanji merupakan songkok khas Gorontalo yang terbuat dari bahan tumbuhan mintu (sejenis rotan). Kini telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia asal Gorontalo sejak tahun 2019 silam.

Dalam pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII di Gorontalo, upiah karanji ini laris diboyong pembeli.

Salah satu pedagang di pameran PENAS, Jemi (penjual Upiya Karanji) mengatakan bahwa penjualan cukup signifikan naik.

“Untuk penjualan Alhamdulillah lumayan,” ujar Jemi kepada Dulohupa saat diwawancarai pada Rabu sore (24/06/2026).

Dijelaskan Jemi, untuk harga Upiya Karanji itu sendiri bervariatif, tergantung jenis dan modelnya. Namun untuk harga umumnya, ia menjual dari yang terbawah Rp 100 ribu sampai yang termahal Rp 400 ribu per satu songkok.

“Harganya ada yang 100 ribu, 150 ribu, ada yang 200 ribu sampai ada yang harga 400 ribu,” pungkasnya.

Jadi kata Jemi, makin mahal harga Upiya Karanji maka makin kompleks sulaman songkok tersebut.

Ia menjual dari mulai pembukaan kegiatan PENAS, dan akan sampai hari terakhir pelaksanaan even nasional tersebut.

“Alhamdulillah sampai hari ini lumayan, saya jualan dari sore sampai malam,” tutupnya.

Saat dilokasi, terpantau sejumlah peserta PENAS asal luar Gorontalo sedang asik melihat sulaman khas Gorontalo ini. Upiya Karanji sendiri memang sering menjadi salah satu buah tangan masyarakat luar Gorontalo ketika berkunjung ke daerah ini.

Reporter: Yayan