Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Desa Mekarti Jaya Diusulkan Menjadi Desa Ekowisata di Pohuwato

Dulohupa.id – Burung Indonesia, bersama Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Asosiasi Pengusaha Restoran dan Hotel, dan Pembina Badan Promosi Wisata Gorontalo, Ida Syaidah memfokuskan Desa Mekarti Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, sebagai desa dengan konsep ekowisata.

Upaya mencanangkan desa ekowisata itu sendiri dipaparkan masing-masing lembaga, dalam kegiatan kunjungan lapangan (field trip) pengembangan pemasaran wisata minat khusus, di kantor Burung Indonesia wilayah Gorontalo.

“Saat ini, desa yang dipersiapkan dalam hal ekowisata, yang sudah ada home stay dan sudah terintegrasi dengan destinasi wisata, ialah desa Mekarti Jaya, Kecamatan Taluditi, Pohuwato. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga, desa-desa yang lain (di Gorontalo) bisa dijadikan ekowisata. Hanya saja, saat ini yang baru didorong untuk program ekowisata ialah Desa Mekarti Jaya,” kata Amsurya Warman Amsa, Manajer Program Burung Indonesia untuk wilayah Gorontalo, Jumat (7/8/2020).

Menurut Amsurya, daerah Pohuwato khususnya area Kecamatan Taluditi memang memiliki potensi untuk dijadikan ekowisata. Sebab, di wilayah ini terdapat sebuah kawasan yang disebut ‘Banuroja’, yang terkenal dengan keragaman budayanya, juga tradisi lokal dari masing-masing lintas agama.

Meski begitu, menurutnya, tidak hanya soal potensi lokal tersebut, namun paling penting juga dalam ekowisata itu ialah masyarakatnya ramah, baik, dan mampu bersosialisasi dengan wisatawan. Karena sikap masyarakat desa terhadap wisatawan dapat menjadi sebuah kenyamanan untuk wisatawan itu sendiri.

Ekowisata sendiri menurutnya, merupakan bagian dari program yang didukung oleh Burung Indonesia, agar wisata yang ramah lingkungan tercipta dan memberikan dampak ekonomi, sosial, dan dampak yang baik terhadap lingkungan kepada masyarakat.

Meski begitu, kata Amsurya, program ekowisata bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi masyarakat. Karena sejauh ini, ekowisata itu dianggap mesti dikunjungi oleh wisatawan asing. Padahal kenyataanya tidah harus seperti itu.

“Apa itu ekowisata? Di benak masyarakat ekowisata itu harus ada wisatawan asing dan sebagainya, padahal tidak seperti itu. Tamu-tamu lokal juga bisa dijadikan sebagai wisatawan yang berkunjung. (jadi) kami berharap melalui ekowisata ini, masyarakat bukan lagi berperan sebagai pelaku tapi juga berperan dalam hal mengelola ekowisata,” harap Amsurya di akhir wawancara. **(Zul)