Untuk Indonesia

Denyut Ekonomi Desa di Tangan Perempuan Juriya (bagian 1)

Dulohupa.id- Ruangan itu memang tidak terlalu luas. Hanya berukuran satu kali dua meter. Namun, di tempat itulah produk stik jagung diolah oleh para perempuan Juriya.

Pagi itu, Minggu 17 Januari 2021, lima perempuan Juriya yang tergabung dalam kelompok Cinta Kasih, berjanji bertemu di tempat tersebut. Sekira pukul 08:00 WITA, beberapa dari mereka mulai memadati rumah produksi, yang merupakan rumah salah seorang anggota. Ketika dirasa anggota kelompoknya telah lengkap, dari arah dapur, seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, lalu mulai mengeluarkan bahan-bahan produksi. Ia meletakan minyak goreng, tepung terigu dan beberapa bumbu lainnya di atas meja.

Sementara itu, seorang anggota perempuan lainnya mulai memasang mesin penggiling. Ia meletakkannya tepat di bibir meja, mengencangkan baut penahan mesin, dan mulai memutar pedal dari mesin penggiling tersebut.

“Sudah siap,” kata perempuan bernama Riana Haiti tersebut sambil tersenyum.

Riana Haiti adalah ketua UMKM perempuan Juriya bernama Cinta Kasih. Katanya, penamaan Cinta Kasih merujuk pada pemaknaan cinta yang selalu dihaturkan kepada sang pencipta dan kasih yang selalu dipegang erat-erat oleh manusia.

Produk unggulan Cinta Kasih adalah stik jagung opa lo tilo. Diberi nama opa lo tilo karena sebelum diolah menjadi stik, jagung direbus bersama zat kapur. Jagung sendiri dalam bahasa Gorontalo disebut binde, namun jika sudah direbus, sebutannya menjadi opa. Sementara tilo adalah bahasa Gorontalo dari zat kapur.

Merebus jagung dengan zat kapur berguna melepas peringkarp dari biji jagung, mengeraskan teksturnya, serta melunakkan jagung.

“Biasanya memang jagung tersebut direbus menggunakan kapur, pak. Karena kalau pakai kapur itu, jadi lebih lunak jagungnya. Lalu kulit-kulitnya itu kan hilang. Jadi lebih mudah dimakan ataupun digiling,” kata Riana.

Sembari menjelaskan, Riana mulai menakar jagung yang ia ambil dari sebuah karung ke dalam wadah besar berwarna biru. Ia menuangkan beberapa liter hingga sekiranya mencapai lima kilogram. Biji jagung tua itu lalu ia tuangkan ke dalam air panas yang sudah dicampur zat kapur.

“Karena alhamdulillah ada pesanan, kali ini kami akan buat stik jagung dari lima kilo jagung. Makanya ini (jagung) direbus dulu baru nanti akan digiling,” katanya bersemangat.

Riana menjelaskan, lima kilo jagung dapat disulap menjadi sepuluh toples stik jagung dengan berat setiap toples 900 gram. Artinya, jika harga per toples Rp 100 ribu, maka dalam satu kali produksi lima kilo jagung, kelompok Cinta Kasih meraup Rp 1 juta.

“Tapi itu belum dipotong biaya produksi dan modal yang dikeluarkan. Satu kali biaya produksi bisa mencapai Rp 300.000. Artinya masih ada Rp 700.000 untuk dibagi lima, lumayan,” ungkap Riana tersenyum.

Selain dijual per toples, stik jagung juga dijual dengan kemasan paperbag berukuran 100 gram, dengan harga Rp 15.000 per satu kemasan.

Namun, harga tersebut terbilang memang terlalu mahal untuk dijual di desa tersebut. Makanya, kelompok ini hanya berharap dari pasar yang ada di luar desa.

“Iya tapi kalau dijual di desa ini, memang tidak ada yang beli stik jagung kami. Karena Rp 15.000 itu di desa sudah sangat mahal. Setara dengan beras satu liter lebih,” ungkap Riana sambil tertawa.

Sambil mengaduk jagung yang sementara direbus, Riana mengungkapkan, rata-rata perempuan di Desa Juriya tidak memiliki pekerjaan tetap. Pada masa tanam misalnya, banyak perempuan yang bekerja sebagai tenaga penanam jagung. Sebaliknya pada musim panen, perempuan ini bekerja sebagai tukang panen. Pengupahan untuk masing-masing pekerjaan itu menggunakan sistem harian.

Desa Juriya sendiri adalah desa yang berada di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Posisinya terletak di pesisir sungai Paguyaman hingga pesisir laut sebagai tapal batas Kabupaten Gorontalo dengan Kabupaten Boalemo. Permukimannya pun berada di pesisir sungai tersebut.

Jumlah penduduk di desa ini mencapai 699 jiwa atau 234 kepala keluarga (KK) dengan kepadatan 88 orang per kilometer persegi. Sementara luasnya mencapai 9,10 kilometer persegi. Perjalanan ke Desa Juriya dari Bandara Djalaludin Gorontalo memakan waktu sekitar 1,5 jam. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan sementara sisanya sebagai buruh perkebunan, pedagang, dan penambang.

Pertanian utama warga Juriya adalah jagung. Ada juga kelapa namun jumlahnya tidak begitu banyak. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kepemilikan lahan, yang buntutnya pada kendala masyarakat dalam mengembangkan desanya.

Baca Juga:  Hadapi Pandemi, Seniman: Jadikan Setiap Perubahan dan Perbedaan Adalah Energi

Meski mayoritas penduduk di desa ini adalah petani jagung, namun kadang sulit untuk para perempuan Juriya menemukan bahan baku untuk pembuatan stik jagung. Sebab, jenis jagung yang digunakan adalah jagung dengan nama lokal binde kiki atau “jagung kecil”. Ini merupakan jagung varietas lokal Gorontalo yang telah terdaftar secara resmi pada Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) tahun 2018. Jenis jagung ini dinyatakan hampir punah karena kalah saing dengan jagung hibrida sejak Gorontalo menggaungkan diri sebagai ‘provinsi jagung’.

Menyiasati hal tersebut, biasanya sekitar 30% dari wilayah pertanian masyarakat di desa ini, ditanami binde kiki, sedangkan sisanya ditanami jagung hibrida.

Riana menuturkan, dengan menginisiasi produk olahan jagung yang memiliki nilai jual, artinya setiap keluarga di desa tersebut tidak perlu menunggu penghasilan panen jagung dari suaminya untuk bisa bertahan hidup. Dari pengalamannya, biasanya hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup akan menumpuk dalam masa menunggu panen jagung.

“Maka kalau kita berproduksi jagung, artinya kita tidak perlu menunggu panen dulu. Ada pegangan untuk kita agar dapat terus menghasilkan uang setiap hari,” ungkap Riana.

Meski hanya mampu menghasilkan uang sebesar Rp 50.000 dalam satu kali produksi, namun kata Riana, uang tersebut sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga. Jumlah itu kata dia sudah bisa membeli beras, ikan, dan jajan sekolah anaknya atau paket data untuk belajar daring.

“Rp 50.000 itu kalau dalam satu kali produksi satu hari, sudah sangat cukup. Karena sudah bisa untuk beli beras dan lain-lain,” kata Riana.

Riana pun merincikan, sejak 2019 kelompok Cinta Kasih dibentuk, sudah setidaknya melakukan produksi sebanyak 28 kali atau berproduksi setiap bulan sekali. Padahal, peminat stik jagung ini sendiri memang tidak bisa dibilang sedikit. Beberapa kali melalui lembaga NGO di Gorontalo, mereka mampu mendapatkan pesanan dari luar daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Beberapa waktu lalu kami buat sekitar 45 bungkus untuk dikirim ke Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Mereka suka dengan stik jagung Opa Lo Tilo ini,” ujar Riana.

Walaupun begitu, perjalanan kelompok Cinta Kasih agar dapat memberdayakan perempuan desa agar bisa berpenghasilan dan menjadi alternatif ekonomi dalam keluarga, tidak lantas berjalan mulus. Karena berbagai tantangan bermunculan. Salah satunya keterbatasan alat penggilingan. Saat ini, mereka masih menggunakan alat yang manual. Tidak heran, para perempuan ini kesulitan memaksimalkan produksi, atau mengoperasikan mesin tersebut.

“Jadi kadang minta tolong kepada suami masing-masing untuk dapat mengoperasikan mesin tersebut,” kata Riana.

Mesin penggilingan itu sendiri ukurannya kecil dengan pedal yang berfungsi untuk memutar roda penggilingan. Hanya saja, tahap membuat stik jagung ini dilakukan dengan dua kali penggilingan jagung. Penggilingan pertama untuk menghaluskan jagung agar bisa dicampur dengan tepung terigu dan bumbu. Lalu setelah adonan sebelumnya tercampur dengan bumbu dan tepung, adonan jagung tersebut digiling kembali dan langsung digoreng.

Kendala lainnya adalah, kelompok UMKM Cinta Kasih belum mengantongi izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) dari dinas kesehatan setempat. Kendati PIRT sebagai sebuah sertifikasi perizinan bagi industri yang memproduksi makanan dan minuman dengan skala rumahan, sangat dibutuhkan oleh kelompok ini.

Karena dengan nomor PIRT yang dicantumkan di kemasan produknya, akan meyakinkan pembeli bahwa produk makanan tersebut terdaftar di Dinas Kesehatan area di mana makanan itu diproduksi. Intinya, PIRT adalah tanda bahwa produksi makanan yang mereka buat layak untuk dijual dan dikonsumsi.

Kendala lainnya yang tidak kalah menyusahkan adalah musim kemarau. Sebab, jika kekeringan melanda, maka berimbas pada sulitnya pasokan bahan baku. Misalnya saja pada 2020 kemarin, sebagian besar lahan perkebunan gagal panen.

Di sisi lain, Desa Juriya sendiri mendapatkan predikat desa inovasi dari pemerintah tingkat Kabupaten Gorontalo. Predikat itu diberikan karena keberhasilan warga desa memanfaatkan komoditas menjadi olahan makanan pangan lokal seperti stik jagung ini.

Keberhasilan ini lantas memberikan dampak pada pengambilan kebijakan di dalam pemerintahan di Desa Juriya. Misalnya pemerintah desa setempat mulai mengakomodir suara-sura perempuan di desa tersebut. Salah satu anggota kelompok ini bahkan diangkat menjadi bagian dari aparatur desa. Perannya tersebut, lantas digunakan untuk mengusulkan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan para kelompok UMKM perempuan.

Baca Juga:  Disporapar Pohuwato Genjot Rencana Pembangunan Sport Center

Tidak hanya itu, dari kelompok Cinta Kasih kemudian muncul kelompok lainnya yang diberi nama Mawar. Kelompok ini juga diisi oleh para perempuan Desa Juriya. Bedanya, mereka memproduksi minyak kelapa kampung.

Saya mendatangi rumah produksi ketua kelompok Mawar pada Rabu, 20 Januari 2021. Malam itu, ia tengah beristirahat usai memproduksi minyak kelapa kampung. Wanita berusia 30 tahun itu mempersilahkan saya masuk. Ia duduk di kursi di ruang tamu, ditemani dua anaknya yang sedang menonton TV, dan suaminya yang baru saja pulang dari kebun.

Salma Husain namanya. Kepada saya ia mengaku, bersama kelompoknya mampu memproduksi setidaknya enam botol minyak kampung dengan ukuran satu liter. Minyak kelapa yang dikemas dalam botol plastik itu dihargai Rp 50.000.

“Dengan modal 46 biji kelapa, saya dan kelompok bisa menghasilkan enam botol minyak kampung dijual Rp 50.000 per botol,” kata Salma.

Salma pun merincikan, bahwa satu biji kelapa ia beli dengan harga Rp 1.000. Maka dengan modal Rp 46.000 saja ia mampu membeli 46 biji kelapa dan menyulapnya menjadi enam botol minyak kelapa. Dengan perhitungan satu botol kelapa mencapai Rp 50.000, berarti ia sudah meraup untung sebesar Rp 300.000.

“Lumayan pak. Di masa tanam jagung seperti ini, suami saya yang petani biasanya belum memiliki penghasilan. Pilihannya berarti meminjam uang kepada tengkulak untuk biaya sehari-hari. Namun dengan produksi minyak kelapa, kami (perempuan) bisa bantu suami untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari,” ungkap Salma.

Anak tertua Salma saat ini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), sementara yang bungsu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Mencukupi kebutuhan keduanya kata Salma, tentu membutuhkan uang. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang mengharuskan anak-anaknya belajar daring. Artinya harus membeli paket data atau voucher wifi.

Sebagai istri dari petani jagung yang penghasilannya hanya diterima setiap tiga bulan bahkan lebih, Salma tentu merasa bahwa kelompok UMKM Mawar, sangat membantu kebutuhannya sehari-hari.

Salma pun mengaku, tidak ada kesulitan yang ia alami dalam proses produksi, selain mengalami kendala dalam mendapatkan bahan baku kelapa. Karena wilayah Desa Juriya sendiri jarang ditanami kelapa, pun kalau ada, kadang harganya mahal. Apalagi di saat harga kelapa naik.

Selain itu, kesulitan selanjutnya adalah memasarkan produknya tersebut  ke luar desa. Jarang ada warga Juriya yang mau membeli minyak kelapa kampung. Mereka lebih memilih membeli minyak kelapa pabrikan yang jauh lebih murah. Lagian, hampir setiap ibu rumah tangga di desa itu memang memiliki keahlian membuat minyak kelapa kampung.

“Ini rata-rata ibu-ibu di sini memang bisa membuat minyak kelapa kampung. Jadi memang tidak laku kalau dijual di dalam desa saja. Kami hanya berharap pembeli dari luar desa, tapi kesulitan menjangkaunya. Selain tidak memiliki jaringan ke pasar di luar desa, juga infrastruktur di desa ini tidak memadai. Jaringan telepon saja tidak ada apalagi internet, makanya kalau dipasarkan online, tentu sama sulitnya,” ungkap Salma.

Saat ini, ada setidaknya tiga kelompok UMKM di Desa Juriya. Satu kelompok memproduksi stik jagung, sementara dua kelompok lainnya memproduksi minyak kelapa kampung. Belum ada nama yang disematkan pada dua produk minyak kampung tersebut. Meski begitu, saat ini kelompok UMKM yang mayoritas dikelola oleh perempuan itu juga merasakan dampak besar pandemi COVID-19 terhadap keberlangsungan usaha mereka. Salah satunya adalah jumlah permintaan terhadap produk mereka yang merosot tajam. Makanya, para perempuan ini pun kemudian mengurangi jumlah produksi.

Namun demikian, kerja-kerja para perempuan Juriya sendiri memang tidak bisa dianggap enteng. Sebab, mereka berperan penting dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga dalam masa sulit. Terlebih ketika pandemi COVID-19. Keberadaaan kelompok ini bisa jadi kunci utama untuk menjaga ekonomi desa tetap bergeliat.  [Bersambung]

Baca bagian 2: Dukungan Pemerintah untuk UMKM di Masa Pandemi COVID-19

Reporter: Wawan Akuba

Comments are closed.