Dulohupa.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) stasiun Meteorologi Djalaludin Gorontalo beberkan pemicu terjadinya fenomena angin puting beliung.
Seperti diketahui, belum lama ini Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo diamuk angin puting beliung hingga merusak ratusan rumah warga. Usut punya usut, fenomena angin puting ini dipengaruhi sejumlah faktor.
Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Djalaludin, Naufal Pramudya Irawan mengungkapkan Provinsi Gorontalo saat ini tengah memasuki fase peralihan atau biasa disebut pancaroba.
“Saat ini penyinaran matahari itu lebih masif dari sebelumnya, kemudian kelembaban udara itu masih tergolong lembab. Jadi memang difase ini sering terjadi atau tumbuhnya awan Konvektif. Awan ini adalah penyebab cuaca ekstrem di fase seperti ini,” Jelas Naufal.
Naufal juga menyebut bencana Hidro Meteorologi yang kini terjadi di wilayah Gorontalo adalah fase yang dinamis. Bencana Hidro Meteorologi ini diantaranya seperti fenomena angin puting beliung, hujan lebat hingga ekstrim dan juga banjir.
“Untuk potensinya ini terjadi di wilayah Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, dan juga Bone Bolango. Namun itu masih dalam bentuk potensi, untuk validasinya tentu kita akan melakukan analisis lebih lanjut,” Ujar Naufal.
Sementara dikutip dari sumber lainnya, Seri Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana menjelaskan, proses terjadinya angin puting beliung diawali dengan terbentuknya daerah-daerah konvergen, yaitu tempat berkumpulnya massa udara yang membentuk awan konvektif (awan yang berpotensi menjadi hujan). Awan konvektif ini kemudian berubah menjadi awan cumulonimbus yang menyebabkan turunnya hujan disertai petir.
Terjadinya angin puting beliung erat kaitannya dengan fase pembentukan awan cumulus nimbus. Siklus pertumbuhan awan cumulus nimbus mengalami tiga fase, yaitu fase tumbuh, fase matang, dan fase punah. Awan cumulus terbentuk saat suhu udara di atmosfer siang hari semakin tinggi.
Karena pergerakan udara yang intensif, maka awan cumulus akan berkembang menjadi awan cumulus nimbus. Awan ini berwarna putih atau abu-abu, namun pada saat akan terjadi angin puting beliung (akibat radiasi sinar matahari) awan ini dengan cepat berubah warna menjadi hitam gelap. Selanjutnya, angin akan bergerak akibat tekanan massa air hujan yang besar yang turun dari awan cumulonimbus.
Pada saat hujan akan turun, gerakan massa air hujan yang besar tersebut mendorong udara pada lapisan di bawahnya sehingga terjadi pergerakan angin ke bawah. Arus udara yang turun dengan kecepatan tinggi ini menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan bergerak seperti spiral. Ketika mencapai permukaan tanah atau air, pusaran angin ini akan bergerak secara tegak lurus terhadap permukaan bumi.
Melihat kondisi ini, BMKG mengimbau agar warga senantiasa waspada saat menghadapi cuaca ekstrem yang terjadi di Gorontalo dalam beberapa pekan kedepan. Warga diminta agar lebih aktif dalam memantau setiap informasi prakiraan cuaca yang disampaikan BMKG.
Tim Liputan Dulohupa











