Dulohupa.id- Mesin jahit di ruangan itu bersahut-sahutan. Suara kain yang digunting oleh seorang wanita paruh baya, serta jarum yang digerakan dengan mesin, terdengar seperti irama. Seperti itulah aktivitas ibu-ibu di Desa Ayula Tilango, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo pagi itu, Senin (16/8/2021).
Para ibu rumah tangga ini sebelumnya berprofesi sebagai pedagang di kantin Sekolah, namun karena kebijakan sekolah daring akibat pandemi Covid-19, menyebabkan ibu-ibu ini beralih menjadi penjahit masker.
Tak ada pilihan lain untuk mereka. Pandemi yang tak kunjung selesai, serta keluarga yang harus dinafkahi, membuat mereka memilih pekerjaan yang bahkan tak pernah mereka sentuh sebelumnya.
Beruntung, ada para mahasiswa dari perguruan tinggi di Gorontalo, mau mengajari dan berbagi ilmu dengan para ibu-ibu ini untuk keterampilan menjahit.
“Sebelumnya saya jualan di sekolah. Karena adanya pandemi sekolah tutup jadi saya ikutan pembuatan masker. Alhmdulilaah bisa membantu perekonomian,”ungkap salah satu eks pedagang di Kantin Sekolah di Bone Bolango, Desi Saleh.
Desi mengaku harus berjuang di tengah pandemi, karena harus membantu perekonomian keluarganya. Apalagi, anaknya yang harus bersekolah secara daring, tentu membutuhkan biaya untuk membeli paket data.
Tak jauh berbeda dengan Desi, Irma Rahman, ibu rumah tangga yang sebelumnya berprofesi sebagai penjual makanan di salah satu kantor instansi pemerintahan, juga memilih banting setir menjadi tukang jahit masker.
Irma sendiri adalah ibu rumah tangga asal Pohuwato yang kemudian menikah dengan warga Kota Gorontalo. Awalnya ia merasa cukup, karena dari penghasilannya sebagai penjual makanan di kantin sebuah instansi pemerintahan, ia mampu membantu penghasilan suaminya yang hanya pengemudi ojek bentor.
Namun, kebijakan susulan akibat pandemi, merenggut pekerjaan itu. Nyatanya, suaminya kehilangan penumpang karena siswa beralih belajar daring, dan ia kehilangan pelanggan karena pegawai kantoran yang beralih bekerja dari rumah, dan tak lagi makan di kantin yang berkerumun.
“Ya satu-satunya cara adalah jualan masker mas. Karena saat ini, rupanya masker lebih laku. Apalagi saya hanya perlu untuk menjualnya via online,” ungkap Irma.
Saat ditemui, Irma sedang berkutat dengan mesin jahitnya. Mesin yang diwariskan oleh neneknya tersebut, ia angkut dari tempat asalnya di Pohuwato, untuk digunakan menjahit masker di rumahnya.
“Waktu itu tidak tau mau kerja apa. Saya lantas melihat di online (medsos) bahwa banyak yang pesan-pesan masker. Nah saya coba saja buat masker,” curhatnya.
Meski begitu, bukan sekejap. Sebab, ia mengaku harus memberanikan diri mengambil uang tabungannya untuk modal. Irma, wanita usia 45 tahun dengan tiga anak itu, berjuang agar uang tabungan itu bisa kembali.
“Karena itu hanya pegangan saya. Rencananya untuk menyekolahkan anak tahun depan,” ungkapnya.
Menjual ‘Kukis’
Berbeda dengan Irma, Ade Rahayu, wanita 28 tahun yang bekerja sebagai pegawai toko di Kota Gorontalo, memilih untuk banting setir jadi penjual ‘kukis’ atau kue, setelah dirinya di PHK di pertengahan 2020 kemarin. Kondisi ekonomi yang tak menentu, serta kebijakan PSBB saat itu, memaksa bosnya untuk melakukan PHK kepada dia dan 20 orang pegawai lainnya.
Akibat pemutusan hubungan kerja itu, ia harus memutar otak untuk bertahan. Apalagi suaminya yang juga baru saja di PHK dari pekerjaannya sebagai sales.
“Jadi saat ini, saya dibantu suami untuk membuat kukis. Alhamdulillah ini membantu kebutuhan kami selama PPKM ini,” cerita Ade, Selasa (17/8/2021).
Dalam sehari katanya, ia mampu meraup omset Rp 150 ribu. Penghasilan itu menurutnya cukup menutup kebutuhan harian. Apalagi kini ia mulai mencoba untuk juga menjual minuman.
“Coba-coba saja, pak. Di masa sulit begini, memang harus kreatif dan mau bekerja. Karena jika tidak, sulit untuk hidup,” curhat Ade.
Kini, bersama suaminya, Ade mampu meraup Rp 2- 3 juta per bulan. Penghasilan itu cukup menurutnya. Setara dengan upahnya selama sebulan bekerja di toko.
“Memang kalau mau berusaha, ya pasti ada jalan,” ungkap Ade. (WA)











