Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

AJI Gorontalo Kecam Tindakan Polisi yang Paksa Jurnalis Hapus Foto Demo Tolak Omnimbus Law

Dulohupa.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo mengecam tindakan aparat kepolisian Polda Gorontalo, yang memaksa jurnalis menghapus foto maupun video kericuhan saat demo tolak omnimbus law, di Simpang Lima Kota Gorontalo Senin (12/10).

Ketua AJI Gorontalo, Andri Arnold mengungkapkan, bahwa saat kericuhan terjadi, sejumlah jurnalis turut mengalami intimidasi oleh polisi karena tidak terima tindakan saat menangkap mahasiswa direkam.

Terhadap kejadian itu, Andri menyatakan mengecam tindakan intimidasi yang dilakukan oleh sejumlah anggota polisi kepada para jurnalis. Padahal para jurnalis yang bertugas telah dilengkapi kartu identitas dan menyebut bahwa mereka jurnalis yang tengah bertugas.

FOTO/Wawan Akuba

“Tapi para jurnalis ini tetap mengalami intimidasi berupa pemaksaan untuk menghapus foto hasil liputan,” kata Andri.

Menurut Andri jika polisi keberatan dengan tugas atau produk jurnalistik, maka silakan menempuh mekanisme penyelesaian sengketa pers yang diatur dalam UU Pers.

“Jika melihat kekhawatiran aparat kepolisian yang menjadi alasan mereka melakukan intimidasi, seperti takut nantinya berita miring atau tidak seimbang, itu sebenarnya bisa diselesaikan melalui jalur Dewan Pers, bukan malah mengintimidasi dan mencederai kebebasan pers,” ujar Andri.

Dari rilis yang diterima redaksi Dulohupa.id, ada setidaknya empat jurnalis yang menjadi korban intimidasi dari aparat kepolisian.

FOTO/Wawan Akuba

1. Elias (reporter IDN Times Sulsel)

Elias dua kali ditegur oleh aparat saat mengambil gambar aparat kepolisian melakukan tindak kekerasan terhadap dua orang yang diduga massa aksi.

“Skip itu gambar, ya,” kata Elias meniru aparat yang menyuruhnya untuk tidak mengambil gambar.

“Saat itu saya sedang mengambil gambar mahasiswa papua yang diringkus di pohon-pohon pisang itu,” ujar Elias.

Kali kedua dia dilarang ketika dia merekam video aparat yang nyaris meringkus seorang jurnalis.

2. Wawan (freelance contributor di Kumparan.com dan editor di Dulohupa.id)

Berbeda dengan Elias, Wawan malah diminta menghapus gambar seorang aparat yang melakukan tindakan kekerasan terhadap terduga peserta aksi yang diringkusnya.

“Ada tiga foto dirinya, tapi hanya satu yang disuruh hapus, karena foto itu yang tepat mengabadikan momennya saat meringkus,” ujar Wawan.

Wawan terpaksa menuruti permintaan si aparat karena takut keselamatannya terancam.

3. Arfandi (kontributor Liputan6.com dan wartawan Prosesnews.id)

Kasus Arfandi sama dengan yang dialami Wawan, walaupun mengantongi kartu identitas wartawan, dia diminta menghapus gambar aparat yang menyeret terduga peserta aksi.

“Saat itu saya dengan dua orang teman sedang meliput aksi, terus saya melihat seorang polisi berpakaian preman menyerat massa aksi yang ditangkap, saya lalu disuruh hapus foto itu, ‘hapus itu, kalian mau buat berita lagi tidak berimbang’,” kata Afandi meniru aparat yang menyuruhnya menghapus foto itu.

4. Hamdi (wartawan Kronologi.id)

Menurut seorang saksi saat kejadian, Hamdi sedang mengambil gambar bersamanya saat terduga peserta aksi diseret polisi, bukan diminta tidak mengambil dan menghapus gambar, tapi Hamdi malah ikut diseret oleh polisi walaupun dirinya mengantongi kartu identitas wartawan dan telah mengaku bahwa dirinya wartawan.

Menurut Pemimpin Redaksi Kronologi.id, Irfan Lussa, Hamdi memang sedang melakukan peliputan di unjuk rasa tersebut.

“Saya kaget dia ditangkap, soalnya HP-nya disita, saya mendapat kabar dia ditangkap dari seorang teman mantan wartawan Kronologi sekira jam 5 sore. Saya lalu menghubungi teman-teman polisi dan meminta dia dibebaskan, akhirnya sekira jam 10 malam baru Hamdi dipulangkan,” kata Irfan.

Irfan menyesalkan hal seperti itu terjadi,

“Diharapkan kepada pihak kepolisian walaupun dalam keadaan chaos tolonglah jeli melihat mana wartawan mana bukan,” kata Irfan.

Merespon intimidasi yang dialami para jurnalis ini, maka AJI Gorontalo menyatakan sikap:

1. Mengecam tindakan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian kepada para jurnalis yang sedang melakukan kerja-kerja jurnalistik di lapangan.

2. Bahwa mengambil gambar, video, dan materi lain untuk kerja-kerja jurnalistik oleh jurnalis dijamin kebebasannya dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

3. Bahwa apa yang dilakukan aparat kepolisian terhadap jurnalis di atas termasuk dalam bentuk penyensoran sesuai dengan Pasal 1 ayat 8 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

4. Mendesak Kapolda Gorontalo untuk mengusut tuntas dan menindak personilnya yang terbukti melakukan tindakan intimidasi kepada para jurnalis di atas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5. Mengimbau kepada para jurnalis untuk memegang teguh kode etik jurnalistik dalam melaksanakan tugasnya di lapangan.

Reporter: Mega