Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEPEMPROV GORONTALO

Dituding Pengaruhi Fadli Zon, Gusnar: Demi Allah Tidak Ada Niat Seperti Itu

×

Dituding Pengaruhi Fadli Zon, Gusnar: Demi Allah Tidak Ada Niat Seperti Itu

Sebarkan artikel ini
Gusnar Ismail
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail saat memberikan sambutan pada rapat paripurna di DPRD Provinsi Gorontalo. Gusnar turut menjelaskan pertemuannya dengan Menteri Fadli Zon. Foto/Diskominfotik

Gorontalo – Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail angkat bicara terkait tudingan Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea yang menyebut dirinya memengaruhi pikiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait pembongkaran rumah jawatan Kepala Kantor Pos Gorontalo yang diduga sebagai cagar budaya.

Gusnar dengan tegas membantah tudingan tersebut. Ia menyatakan tidak pernah memiliki niat untuk memengaruhi Menteri Kebudayaan terkait persoalan cagar budaya tersebut.

“Saya nyatakan di forum yang terhormat ini, demi Allah tidak ada niatan seperti itu,” tegas Gusnar saat memberikan sambutan dalam rapat paripurna DPRD Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Perda Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah untuk ditetapkan menjadi Perda, Senin (07/9/2026).

Gusnar menjelaskan, pertemuan pertamanya dengan Fadli Zon setelah yang bersangkutan menjabat sebagai Menteri Kebudayaan berlangsung pada 25 Oktober 2025. Menurutnya, pertemuan itu terjadi jauh sebelum persoalan rumah jawatan Kepala Kantor Pos Gorontalo mencuat.

Sementara pertemuan keduanya dengan Fadli Zon berlangsung beberapa minggu lalu. Gusnar menegaskan, pertemuan semata-mata untuk memperjuangkan usulan pahlawan nasional dari Provinsi Gorontalo yakni HB. Jassin dan dr. Aloei Saboe.

Diketahui, Fadli Zon juga menjabat sebagai Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (DGTK). Fadli Zon memiliki posisi strategis dalam proses pengkajian gelar Pahlawan sebelum ditetapkan oleh Presiden RI.

Dalam pertemuan, Gusnar mengaku awalnya hanya memaparkan calon penerima gelar pahlawan nasional dari Gorontalo. Setelah pembahasan itu selesai, justru Menteri Fadli Zon yang lebih dahulu menyinggung persoalan cagar budaya di Gorontalo.

“Ketika saya memaparkan calon penerima gelar pahlawan, setelah selesai itu terbesit. Pak Menteri yang mengungkap kepada saya, ‘Pak Gubernur, di Gorontalo itu lagi viral ya?’” ujar Gusnar.

Gusnar mengaku sempat tidak mengetahui persoalan yang dimaksud oleh sang menteri.

“Saya bilang, viral apa ini, Pak?” tuturnya.

Menurut Gusnar, Fadli Zon kemudian langsung mengarahkan pembicaraan kepada jajaran Direktorat Jenderal dan Direktorat terkait di Kementerian Kebudayaan. Penjelasan mengenai persoalan cagar budaya tersebut, kata Gusnar, justru disampaikan oleh pejabat teknis kementerian.

Gusnar kemudian mengungkapkan bahwa dalam pembicaraan tersebut, Menteri Fadli Zon menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga cagar budaya sebagai bagian dari sejarah bangsa.

“Maka apa yang disampaikan Pak Fadli, Pak Menteri, adalah seperti yang diungkapkan di video itu, ‘mencabut memori kolektif bangsa’. Itu-itu kata-kata beliau,” kata Gusnar.

Selain itu, Gusnar mengatakan dirinya justru diminta oleh Menteri Kebudayaan untuk melakukan rekonstruksi ulang terhadap cagar budaya apabila anggarannya telah disiapkan.

Dalam kesempatan yang sama, Gusnar juga menyebut pembahasan mengenai Benteng Otanaha turut disinggung dalam pertemuannya dengan Menteri Kebudayaan.

Menurutnya, Benteng Otanaha juga merupakan cagar budaya. Namun, prosesnya belum dapat dilakukan karena masih terdapat sejumlah bangunan tambahan di kawasan tersebut. Ia mengatakan, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa anggaran untuk penanganan telah tersedia.

“Benteng Otanaha itu cagar budaya, cuma memang belum diproses karena masih ada bangunan-bangunan tambahan di situ,” jelas Gusnar.

Gusnar menegaskan, jika dirinya ingin mencari popularitas dari persoalan, ia sebenarnya bisa saja langsung menggelar konferensi pers ketika masih berada di Jakarta. Namun, ia memilih untuk bekerja tanpa banyak mengumbar rencana kepada publik.

“Kalau saya ingin gagah-gagahan menyangkut itu, masih di Jakarta saya sudah konferensi pers, kalau saya hobi konferensi pers,” katanya.

“Tapi saya ini bekerja diam-diam saja. Biar nanti sudah jadi, baru komentar kiri kanan. Saya bukan tipe pemimpin yang umbar-umbar, harus ini, harus ini,” lanjutnya.

Gusnar juga menegaskan bahwa dirinya lebih memilih menyampaikan sesuatu sebagai harapan daripada memberikan janji yang belum tentu dapat direalisasikan.

“Paling tidak kalau ada yang begitu, saya cuma melabeli ini harapan. Saya tidak menjanjikan apa-apa. Karena syaratnya ada di tangan kita. Kita harus bekerja keras sehingga bisa mewujudkan hitungan-hitungan tadi,” ungkapnya.

Diakhir pernyataannya, Gusnar kembali menegaskan bahwa tudingan dirinya memengaruhi Menteri Kebudayaan terkait persoalan cagar budaya tersebut tidak benar.

Reporter: Enda