Dulohupa.id – Kekeringan yang melanda Kabupaten Bone Bolango mulai berdampak nyata pada sektor pertanian, khususnya tanaman padi.
Dari data Dinas Pertanian Kabupaten Bone Bolango per 31 Juli 2026, menunjukkan sekitar 148 hektare lahan persawahan terdampak kekeringan yang tersebar di beberapa kecamatan di wilayah kabupaten tersebut.
Berdasarkan data yang tercatat, Kecamatan Tilongkabila menjadi salah satu wilayah terdampak. Di Desa Iloheluma, seluas 0,5 hektare tanaman padi berusia 45 hari tercatat terkena dampak kekeringan. Sementara itu, di Desa Tunggulo pada kecamatan yang sama, luas lahan terdampak mencapai 9,5 hektare dengan usia tanaman 30 hari.
Selain itu, di Kecamatan Kabila juga mencatat angka yang cukup besar, dengan luas 138 hektare lahan padi berusia 15–60 hari mengalami dampak kekeringan.
Dari dua kecamatan itu, setidaknya sekitar 148 hektare lahan pertanian padi tercatat terdampak kekeringan dengan kategori ringan.
Kekeringan ini menjadi tantangan serius bagi petani di Bone Bolango, mengingat padi merupakan salah satu komoditas utama pertanian di daerah tersebut. Usia tanaman yang masih muda ditambah berkurangnya pasokan air sehingga berisiko menurunkan hasil panen petani.
Pemerintah Kabupaten Bone Bolango melalui Dinas Pertanian dan BPBD terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Upaya penyaluran air bersih serta langkah mitigasi kerugian petanian terus dikoordinasikan untuk meminimalkan dampak yang lebih luas.
Kepala Dinas Pertanian Bone Bolango, Roswaty Agus mengatakan bahwa langkah mitigasi seperti rekayasa pompa air ke lahan pertanian terus dilakukan.
Menurut Roswaty, langkah rekayasa pompa air menjadi salah satu opsi dalam mengantisipasi kekeringan saat ini.
“Kalau catatan peminjaman alkon, ini yang tersebar di seluruh BPP itu ada 169 alkon ditambah distribusi lalu ada 26, jadi total ada 195. Itu semuanya terdistribusi di petani dan ketika ada yang tidak digunakan itu bisa dipindahkan ke lokasi lainnya,” ujar Roswaty kepada awak media pada Kamis (06/08/2026).
Meski ratusan alkon telah terdistribusi ke petani, kata Roswaty jumlah itu belum cukup. Pasalnya, dengan kondisi kemarau yang tak menentu kapan habisnya menjadi tantangan bagi petani terlebih di Bone Bolango sendiri.
“Cuma sekarang ini masih kurang, jadi Insya Allah kami akan menelpon provinsi untuk pinjam lagi alkon yang 6 inch ke atas dengan sumber tenaga pakai solar supaya petani lebih hemat,” ucapnya.
Lebih lanjut, dari data yang ada terdapat juga lahan pertanian padi yang terancam gagal panen karena kemarau ini.
“Kalau potensi gagal panen itu sekitar 1 hektare di Poowo. Jadi tadi koordinator Kabila sudah menyampaikan bahwa kalau dilokasi tersebut selama seminggu kedepan tidak ada air, yaa kemungkinan akan puso,” jelasnya.
Sehingga menurut Roswaty, saat ini pihaknya terus berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dari dampak kekeringan ini.
Pemerintah juga meminta para petani untuk melaporkan kondisi lahannya secara berkala guna mendapatkan pendampingan dan bantuan yang diperlukan.
Terakhir, Roswaty mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya masih terus mengumpulkan data lengkap dari seluruh desa dan kecamatan untuk memetakan total kerugian serta menyusun strategi penanganan yang tepat sasaran guna menyelamatkan sisa lahan pertanian yang belum terdampak.
Reporter: Yayan











