Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINE

Asa Petani di Tengah Prediksi Kemarau Panjang di Gorontalo, Gagal Panen Menghantui

×

Asa Petani di Tengah Prediksi Kemarau Panjang di Gorontalo, Gagal Panen Menghantui

Sebarkan artikel ini
Petani Kemarau
Salah satu petani di Desa Pangi, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Hakrin Gaib saat diwawancarai. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi terjadi fenomena El Nino di indonesia pada tahun 2026 ini. Fenomena ini diperkirakan akan mempengaruhi pola cuaca termasuk musim kemarau di wilayah Gorontalo.

Diperkirakan peluang terjadinya fenomena ini berkisar di 50 sampai 60 persen. Dampak El Nino tersebut akan mempengaruhi curah hujan yang cenderung lebih rendah dan memperpanjang musim kemarau.

BMKG memperkirakan awal musim kemarau akan terjadi pada Mei dengan peluang 25 persen.

Di tengah isu kemarau panjang yang diperkirakan akan terjadi ini, banyak hal kemudian menjadi pertimbangan baik buruknya.

Mungkin, fenomena ini disatu sisi cukup menguntungkan bagi masyarakat lain, namun ini juga cukup menghantui bagi mereka para pekerja di sektor pertanian.

Mengapa tidak, kemarau panjang bagi petani adalah ancaman serius yang berpotensi menyebabkan gagal tanam dan gagal panen akibat kekurangan air.

Kondisi ini memicu kekeringan lahan yang menurunkan produktivitas, mengancam ketahanan pangan, dan meningkatkan risiko kerugian ekonomi bagi petani.

Salah satu petani di Desa Pangi, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Hakrin Gaib kepada Dulohupa mengungkapkan kekhawatirannya soal fenomena kemarau panjang ini.

Hakrin menilai jika fenomena ini terjadi kemungkinan besar akan berdampak dan merugikan petani. Meski begitu, soal fenomena ini bukan sesuatu yang dapat diatur oleh sistem tertentu, melainkan kehendak langit.

Maka, pertanyaan mendasar apakah petani akan pasrah saja dengan kehendak alam ini, atau coba bertarung menghadapi ketidakjelasan kapan dan sampai kapan fenomena kemarau panjang ini datang dan berakhir.

Hakrin menjelaskan bahwa jika coba dikategorikan berdasarkan jenis lahan dan aktivitasnya terbagi petani sawah dan petani perkebunan. Menurutnya, dibandingkan dengan petani sawah dampaknya tidak cukup signifikan berpengaruh, dimana pengairan irigasi persawahan mungkin saja telah dipersiapkan, baik petani itu sendiri atau pihak lainnya.

Sementara bagi petani perkebunan, fenomena kemarau panjang akan sangat signifikan berdampak, yang bisa saja menyebabkan gagal tanam dan gagal panen akibat kekurangan air.

Hakrin berharap dari situasi ini bisa ada dukungan mitigasi dari pemerintah untuk menghadapi kemarau panjang ini nanti.

“Kalau petani sawah juga membutuhkan pengairan, mungkin saya lihat, saya rasa dari hal-hal pengairan mungkin pemerintah sudah antisipasi,” ujar Hakrin kepada Dulohupa pada Rabu (06/05/2026).

“Tapi dari lahan kering ini (perkebunan) yang hanya membutuhkan curah hujan, jika hanya dibiarkan (tidak ada langkah mitigasi) sudah bisa dipastikan akan gagal panen,” lanjutnya.

Bahkan Hakrin menambahkan, bahwa pada periode-periode kemarau sebelumnya di wilayah tersebut air bersih sangat sulit didapatkan, terlebih air untuk digunakan sebagai media penyiraman di tanaman.

“Apalagi di wilayah sini, kalau musim kemarau dari segi air minum saja susah. Dampak kemarau sangat luar biasa,” tandasnya.

Kata Hakrin, jika memasuki kemarau di wilayah ini bahkan air di sungai pun ikut mengering. Sungai yang menjadi benteng terakhir bagi petani perkebunan ini, bukan hanya tanaman bahkan harapan petani ikut pupus jika demikian.

“Jangankan (air) untuk penanaman, (tumbuhan) yang hidup saja itu butuh air. Jika berbicara soal penyiraman (tanaman) airnya saja (sungai) kering, sumber airnya kering,” ungkapnya.

Mengacu pada kejadian-kejadian sebelumnya, Hakrin berharap jika memang kemarau panjang nantinya terjadi, perhatian pemerintah juga bisa diberikan kepada petani perkebunan.

“Mungkin wilayah persawahan itu tidak terlalu berdampak besar, cuman untuk kami petani perkebunan yang kira-kira butuh perhatian betul dari pemerintah,” tutupnya.

Reporter: Yayan