Scroll Untuk Lanjut Membaca
PEMKAB POHUWATOPOHUWATO

Bupati dan BNPB Tinjau Saluran Air yang Rusak di Paguat

×

Bupati dan BNPB Tinjau Saluran Air yang Rusak di Paguat

Sebarkan artikel ini
Saluran Air
Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga bersama Rombongan saat Meninjau Saluran Air yang Ada di Desa Soginti, Kecamatan Paguat.foto/Hendrik Gani

Dulohupa.id – Sering terjadi banjir, Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga mendampingi anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia meninjau langsung saluran air atau sungai kecil yang ada di Desa Soginti, Kecamatan Paguat.

Drainase yang sudah tidak mampu mengaliri air itu ditinjau langsung Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga bersama Penata Penanggulangan Bencana Ahli Madya, BNPB, Rudy Supriyadi, didampingi Anggota DPRD Pohuwato, Otan Mamu, Kadis PU, Risdiyanto Mokodompit, Camat Paguat, Ikbal Mbuinga serta Sekretaris Camat, Ayub Mohi, Selasa (24/6/2025).

Saluran yang menjadi pusat masuknya air ke pemukiman warga itu dilihat dari dekat oleh bupati bersama rombongan. Terdapat beberapa titik dari saluran itu sudah rusak akibat dihantam air bercampur material.

Saipul berharap pengalihan saluran dari cabang sungai menuju sungai Bumbulan bisa segera dilakukan mengingat banyaknya warga yang terdampak saat masuknya air ke pemukiman.

Diakui bahwa pekerjaan ini tidak bisa ditangani akibat efisiensi anggaran, sehingga diharapkan bantuan dari BNPB untuk pembuatan saluran baru mengarah ke sungai Bumbulan dengan panjang kurang lebih 400 meter dapat segera direalisasikan.

Kadis PU, Risdiyanto Mokodompit memastikan bahwa pekerjaan saluran ini akan diusulkan ke BNPB meski demikian tentu kehadiran dari BNPB saat ini bisa memberi peluang bagi Kabupaten Pohuwato khususnya dalam rencana pembangunan saluran untuk pengalihan air menuju sungai besar Bumbulan.

Dikonfirmasi, Camat Paguat, Iqbal Mbuinga menjelaskan bahwa hujan lebat yang terjadi pada Jumat lalu itu turut dirasakan oleh warga di 5 desa.

Air dari anak sungai Bumbuan ini selain melewati sekolah MTs Negeri 1 Pohuwato juga merendam rumah warga yang berada di Dusun 2, Desa Soginti.

“Ia, sekitar 20 KK yang terendam air pada pukul 23.00 Wita Jumat lalu itu, selain merendam MTs 1 Pohuwato dengan ketinggian air diatas lutut. Wilayah ini memang menjadi langganan air lewat sejak dulu ketika air hujan turun dengan intensitas tinggi,” kata Camat Iqbal.

Selain itu, di Desa Sipayo juga mendapat kiriman air tersebut, air dari Soginti mengarah sampai ke pasar sore Desa Sipayo dan merendam 114 KK.

“Warga tidak mengungsi, karena hanya air lewat setinggi 1 meter dan tidak bertahan lama, karena mengalir ke arah pantai,” kata Iqbal.

Untuk Desa Buhu Jaya, kata Iqbal itu sudah menjadi isu klasik, memang dari tahun-tahun sebelumnya persoalan ini mengemuka di Buhu Jaya karena tidak adanya saluran air.

“Dari Balai Jalan dan Balai Sungai sudah sempat beberapa kali melakukan survei bahkan dari Pemda itu sendiri sudah melakukannya, hanya saja belum menemukan yang terbaik untuk pembangunan saluran,” ucapnya.

Menurut Iqbal, rendaman air di Buhu Jaya dari bagian Sipayo, atau dikenal dengan nama Gunung Injereku atau biasa disebut Hulapadaa. Air dari gunung itu mengalir ke Desa Buhu Jaya dan juga Desa Sipayo.

“Kalau intensitas hujan tinggi, maka air hujan akan mengendap kepada kurang lebih ratusan rumah warga, karena tidak adanya saluran. Alhamdulillah, hari kelima pasca banjir tinggal menyisakan sedikit air. Meski demikian untuk pembuatan saluran sangat diharapkan guna antisipasi kedepannya,” papar Iqbal.

Lain lagi di Desa Bunuyo, efek dari curah hujan tinggi dan akibat rusaknya saluran yang ada maka luapan air mengarah ke rumah warga. Olehnya diharapkan ada normalisasi saluran yang ada karena kuncinya ada pada normalisasi.

“Ya, meski baru kemarin akibat saluran sudah tertutup, namun luapan itu merendam sekitar 88 KK di Bunuyo, sehingga sudah seharusnya dilakukan normalisasi dan penghijauan/penanaman pohon kembali di lereng-lereng gunung yang ada di 2 desa yakni Desa Soginti dan Sipayo,” ujar Camat Ikbal Mbuinga.

Reporter: Hendrik Gani