Dulohupa.id – Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo kecewa melihat lokasi Taman Budaya yang tidak terawat dan beberapa bangunan yang tidak kunjung selesai. Kekecewaan itu ia perlihatkan saat meninjau lokasi yang akan menjadi pusat pelaksanaan Festival Kabupaten Lestari (FKL) dan HUT Kabupaten Gorontalo ke-348 bersama pihak terkait, Senin (22/11/2021) sore.
Nelson mengatakan, ia kecewa dengan kinerja Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Gorontalo, serta kecewa dengan kontraktor dalam pemeliharaan Taman Budaya Limboto. Apalagi hingga saat ini, ada bangunan yang belum selesai.

Ia menemukan beberapa kerusakan di kedua gerbang masuk taman, baik itu pipa kamar mandi yang bocor, hingga bangunan di belakang rumah adat Bantayo Poboide yang sampai saat ini belum terselesaikan.
“Saya melihat memang secara lokasi pelaksanaan FKL dan HUT Kabupaten Gorontalo sudah siap, hanya saja memang hal-hal yang perlu dilakukan pemeriksaan lokasinya apakah terawat atau tidak. Ini bangunan yang belum selesai itu, sebenarnya sudah lama saya beritahu sama Dinas PU untuk diselesaikan, tapi belum saja diselesaikan” ungkap Nelson, usai meninjau lokasi.
Lebih lanjut kata Nelson, dana pemeliharaan dan pembangunan rumah tersebut sudah dianggarkan, namun sampai saat ini belum ada realisasinya.
“Masakan pembangunan dengan dana yang besar bisa diselesaikan, tapi dana yang kecil kecil tidak bisa. Kalau PU tidak mampu silahkan berikan ke OPD lain, sudah kita berikan kepercayaan, uangnya sudah ada, tapi kerjanya tidak maksimal, itu menjadi catatan bagi saya, baik dinasnya maupun pihak pengusahanya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PU Kabupaten Gorontalo, Romy Syahrain membenarkan adanya beberapa kerusakan di taman budaya tersebut.
“Namun, Kegiatan pekerjaannya akan diakomodir melalui dua paket itu. Sehingga memang kegiatan ini mengalami refocusing anggaran di 2021 ini, dari anggaran induk kita anggaran lagi, kemudian di anggaran APBD perubahan lagi kita anggarkan lagi,” jelas Romy.
Ia menjelaskan pihaknya telah mendorong pihak kontraktor untuk memelihara dan menyelesaikan bangunan tersebut, sesuai dengan target waktu yang ditentukan yakni pada Desember.
“Kita selalu memanggil pihak penyedia untuk membicarakan kendala dan mencari solusi agar bisa selesai. Kendalanya yang jelas material dan tenaga kerja. Untuk anggarannya tidak ada masalah karena kita sudah menganggarkan hal itu, dengan biaya Rp500 juta,” ungkap Romy.
Akibat teguran keras dari bupati tersebut, ia juga akan segera melakukan pembenahan untuk lokasi FKL tersebut, dan tentu hal itu akan menjadi perhatian pihaknya.
“Kami sudah sampaikan kepada pihak penyedia untuk segera melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, karena waktu yang mepet, kalau memang tidak bisa kembali lagi dilakukan semaksimal mungkin. Kita akan lakukan pergantian ataupun putus kontrak ketika tidak dilakukan sampai batas waktu,” tutup Romy.**











