Dulohupa.id- Matahari sore itu mulai bergeser, Mohamad Wikal (22) dan beberapa kawan relawannya bersiap-siap kembali ke rumah mereka masing-masing. Masa tugas mereka telah selesai, dan akan dilanjutkan di hari berikutnya, sesuai dengan jadwal yang telah mereka terima dari pihak rumah sakit tempat mereka mengabdikan diri sebagai relawan covid-19 sekarang ini.
Wikal, begitu sapaan akrabnya, mulai menjalani kegiatan relawan covid-19 sedari bulan Mei tahun 2020, dan terhitung sudah setahun lebih melakoni aktivitas sebagai relawan.
“Dari awal bulan Mei tahun 2020 saya menjadi relawan covid-19 di RSUD Bumi Panua ini, sampai sekarang ini,” ujar Wikal, saat ditemui selepas piket tugasnya, Kamis (29/7).
Ia bercerita, sebenarnya pilihan menjadi relawan covid-19 yang ia jalani sekarang ini bukanlah impiannya, sebab, ia ingin menjadi tenaga kesehatan seutuhnya setelah menyelesaikan masa studinya dua tahun silam.
Setelah lulus, Wikal mengurus berkas lamaran pekerjaan dan mendaftarkan diri ke beberapa instansi kesehatan baik tingkat dinas maupun puskesmas tingkat kecamatan. Namun, berkas-berkas yang ia masukan tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Setelah lulus saya coba daftar jadi tenaga kesehatan, misalnya di dinas kesehatan atau puskesmas kecamatan,” kata Wikal.
Keterlibatannya menjadi seorang relawan covid-19 bermula ketika ia mulai resah dengan keadaannya yang begitu-begitu saja, dan hanya berdiam di rumah. Tuntutan keluarga dan kebutuhan istri dan anak juga menjadi motivasi Wikal untuk terjun langsung dan terlibat dalam aktivitas penanganan covid-19 di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
“Motivasi saya sebenarnya keluarga, setelah lulus tidak mendapatkan pekerjaan. Dan saat dibukanya relawan covid-19 pada bulan Mei tahun 2020, karena latar pendidikan saya juga diploma kesehatan jadi saya tertarik melibatkan diri menjadi relawan pada saat itu, dan sampai sekarang ini saya jalankan,” ujarnya.
Namun, Wikal mengetahui, menjadi relawan covid-19 banyak tantangan yang akan dihadapi. Potensi terbesar ialah, dirinya akan ikut terpapar juga dan akan ikut berdampak pada keluarga, anak dan istri, serta kerabatnya.
Bukan hanya itu saja, upaya penolakan dan pemahaman di kalangan masyarakat tentang bahayanya virus covid-19 yang masih berlangsung saat ini, adalah kendala besar yang juga dihadapi oleh seorang relawan covid-19. Dan di luar kendala dan masalah yang akan dihadapi itu, Wikal juga harus tabah menunggu insentif yang akan diterima setiap tiga bulan sekali, bahkan bisa saja terjadi kendala terlambatnya pembayaran insentif relawan covid-19.
Suka Duka Jadi Relawan Covid-19
Cerita Wikal sore itu terputus, ia memohon izin balik ke rumah duluan, dan akan melanjutkan ceritanya jika sudah sampai di rumah. Dari arah rumah sakit menuju rumahnya cukup jauh. Apalagi kondisi langit yang mulai malam, jalanan yang harus ia lewati mulai gelap. Beruntung malam ini bulan lagi purnama, jalanan Wikal terbantukan dengan cahaya bulan yang menembus setiap sudut jalan yang gelap.
Butuh waktu 30-45 menit untuk sampai di rumahnya. Setelah sampai, ia segera mungkin memarkirkan kendaraan, membuka pintu rumah, berselang 15 menit kemudian ia datang dari dalam rumahnya. Ia menyiapkan kopi untuk menghangatkan badannya, selepas melewati jalan-jalan yang dingin tadi. Dua tiga kali ia menyeruput kopi seduhannya, dan tak lama berselang, ia melanjutkan kembali ceritanya yang terputus.
“hal yang paling saya takutkan akhirnya terjadi juga. Saya terpapar covid-19. Saya gelisah memikirkan keluarga, anak, dan istri di rumah,” ucap Wikal begitu lirih, sambil sesekali meminum kopinya.
Kata Wikal, dirinya tidak menyangka akan terpapar, padahal ia sudah menerapkan protokol kesehatan yang begitu ketat saat menangani pasien yang positif covid-19. Tapi, tetap saja ia terpapar.
Mendengar kabar itu, ia langsung mengabari anak dan istri, serta keluarganya di rumah. Bahwa dirinya saat itu positif covid dan akan diisolasi jika memiliki gejala.
“Khawatir juga ada, apalagi kasus saat itu masih sementara melonjak. Saya harus menahan jarak dengan orang-orang terdekat saat itu. Yang membuat saya tidak nyaman, banyaknya isu yang beredar nakes sering didiskriminasi karena membawa virus, dan itu hal yang paling saya hindari ketika terjadi pada diri saya nanti,” terang Wikal.
Waktu sudah menunjukan pukul 20.00 wita, ia tetap melanjutkan ceritanya. Kata Wikal, istri dan anaknya sudah tidur, dan sudah terbiasa dengan saya pulang agak larut begini.
Wikal memiliki waktu pulang ke rumah setelah tugasnya selesai, dan harus memeriksakan dirinya terlebih dahulu sebelum balik ke rumah, agar tidak membawa virus dan dapat menyebabkan orang lain terpapar.
“Saat saya terpapar itu, saya merasakan bagaimana apa yang dirasakan oleh pasien yang positif. Saya merasakan tidak bisa mencium bau, dan sesak, tapi tidak berlangsung lama. Keadaan saya sudah kembali normal.”
Wikal melanjutkan, suka dan duka menjadi relawan covid-19 ini tak ada habisnya. Sukanya, ia bisa mendapatkan rekan dan keluarga baru di tempat bekerja.
“Dukanya banyak sekali, salah satunya jauh dari istri, anak, dan keluarga, serta rawan terpapar virus,” katanya dengan pelan.
Ia menceritakan, pernah menangani pasien yang terpapar covid-19, seluruh keluarga pasien menaruh harapan kepadanya, seakan-akan dia bisa menolong orang yang sekarat menjadi sembuh.
Situasi saat itu, katanya memang sedang genting, kasus lagi naik-naiknya, tapi, seperti yang bagaimana beredar, tenaga kesehatan dan relawan nakes covid-19 adalah garda terdepan untuk menangani lonjakan kasus yang terjadi.
“Pasien itu sesak nafas, dan saya menyaksikan bagaimana perjuangannya bertahan hidup,” ujarnya dengan mata yang mulai berembun.
Gejala covid-19 memang ditandai dengan demam, sesak nafas, flu berat, hilang penciuman, dan gejala ini semua sudah menjadi hal yang lumrah untuk dilihat setiap harinya oleh relawan nakes covid-19, termasuk Wikal.
Katanya, ada beberapa orang yang berjuang dan berhasil sembuh dari situasi tersebut, tapi ada juga beberapa orang yang gagal bertahan. Semua kejadian itu, ia saksikan dengan matanya sendiri. “Ada yang meninggal karena virus ini, ada juga yang selamat. Saya senang ketika ada yang berhasil sembuh dan bisa bersama-sama dengan keluarga tercinta mereka dan saya bangga bisa terlibat dalam kesembuhan mereka itu.”
“tapi saya juga sedih ketika ada yang meninggal akibat keganasan dari virus tersebut, ” ia menyeka air matanya.
Duka lainnya yang dirasakan Wikal, ialah bertemu dengan orang-orang yang masih bebal dan belum mau memahami kondisi pandemi seperti sekarang ini bisa membahayakan diri sendiri dan orang banyak.
Menurut Wikal, terkadang ia selalu terbentur dengan keluarga pasien yang tidak percaya dengan adanya virus covid-19, yang sudah menelan banyak korban sampai saat ini. Terkadang, adu mulut sering terjadi.
“Keluarga pasien kadang ada yang tidak percaya, dan itu terkadang menjadi halangan bagi kami juga. Untuk memberi pengetahuan dan kesadaran kepada mereka akan bahayanya virus covid-19 ini,” ujarnya.
Namun, perlahan-lahan, beberapa orang mulai teredukasi, dan ada juga yang enggan mau mengubah pemahaman mereka tentang keadaan sekarang.
Wikal juga membeberkan, awalnya ikut menjadi relawan covid-19 ini, ia semata-mata hanya untuk mencari kerja agar dapat membiayai hidup anak dan istrinya. Karena memang sulit mendapatkan pekerjaan dan diperburuk oleh keadaan.
Namun lambat laun, sikap awalnya berubah. Ia mulai sadar, menjadi seorang relawan covid-19 bukan hanya bekerja dan mendapatkan insentif yang dibayarkan setiap bulan bahkan per tiga bulan, lebih dari itu, ia menyadari menjadi relawan covid-19 bekerja untuk orang banyak—untuk kemanusian.
“awalnya memang saya ingin bekerja mencari nafkah buat anak dan istri, tapi, setelah bertemu banyak orang, menangani pasien, bertatap muka dengan keluarga pasien, saya sadar. Ternyata menjadi relawan ini bekerja untuk orang banyak,” tutup Wikal.
Saat ini data dari satgas covid-19 Pohuwato dengan jumlah yang terpapar covid-19 di Kabupaten Pohuwato per tanggal 27 Juli 2021 totalnya sebanyak 442 kasus; yang dirawat sebanyak 48, sembuh 383, meninggal 11 orang.
Dengan jumlah kasus yang tidak sedikit itu, relawan covid-19 seperti Mohamad Wikal dan rekan-rekannya terus bekerja menangani kasus-kasus lainya yang ada di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, dan berharap, keadaan segera membaik.











