Dulohupa.id – Empat hari di tengah lautan, 3 orang nelayan asal Desa Loho Bubba, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara hanyut hingga ke perairan Gorontalo.
Dari keterangan, tiga nelayan ini hanyut sejak hari Kamis (23/07/2026) kemarin. Dan nanti ditemukan pada pada Minggu (26/07/2026) oleh nelayan Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango.
Ketiganya ini, semulanya berangkat menggunakan perahu katinting dari Desa Kalumbatan, Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah menuju Taliabu Maluku Utara. Namun di tengah perjalanan, kandas dikarenakan cuaca ekstrem saat itu, hingga menyebabkan ketiga nelayan ini hanyut hingga ke perairan Gorontalo.
Dari penjelasan salah satu korban, Candri Awir (43 tahun) mengatakan bahwa kedatangan mereka ke Sulawesi Tengah itu dalam rangka menjenguk keluarganya yang sakit.
Menurutnya, setelah beberapa hari dikampung keluarganya itu, mereka bertiga kemudian kembali pulang ke Taliabu pada Kamis (23/07/2026). Diperjalanan, mereka sempat singgah di salah satu pulau untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Kebetulan juga pas kepulangan itu, ada ba belanja bahan makanan,” ujar Candri kepada awak media pada Senin (27/07/2026).
Setelah merasa cukup yang dibelanja, ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Loho Bubba, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara.
Naas, musiba itu menghampiri mereka. Cuaca ekstrem di tengah laut, membuat ketiganya hilang arah, hingga perahunya terbalik. Syukurnya, mereka segera berusaha menyelamatkan diri, dengan cara membalikkan kembali perahu tersebut. Namun apa daya, ditengah hantaman ombak yang kencang, perahu yang ditumpangi mereka tak dapat lagi berfungsi dengan normal, karena mesin katinting sudah basah kuyup dengan air laut. Harapan seakan hilang, barang-barang dan kebutuhan harian yang baru saja dibeli hanyut mengikuti derasnya lautan.
“Tidak ada yang bisa diselamatkan, tinggal mesin katinting yang melekat di perahu. Tenggelam semua, sisa baju di badan,” ucapnya.
Ditengah lautan itu, ditambah cuaca yang luar biasa, seakan ketiganya tinggal berpasrah menunggu keajaiban dari pemilik alam semesta.
“Itu sekitar jam 11 siang. Jadi saat itu cuaca sudah ba kabut tidak kelihatan pulau lagi (kompas alam), jadi kami sudah tabuang jauh dari daratan,” jelasnya.
Sejak Kamis siang itu, ketiganya terombang-ambing ditengah lautan. Siang dan malam silih berganti, hingga di Sabtu malam mereka menemukan salah satu rakit (rompong). Ketiganya kemudian memutuskan untuk mengikatkan perahu mereka di rakit itu, dengan harapan akan ada yang menolong.
Akhirnya, keajaiban itu datang. Di hari Minggu pagi, nelayan asal Bone Raya, Bone Bolango menemukan mereka, dan kemudian diselamatkan.
Selama 4 hari itu, bukan waktu yang pendek bagi mereka. Tanpa makanan dan minuman ditengah lautan, hampir sesuatu yang mustahil untuk dilalui. Bahkan, untuk menutupi dahaga, dan rasa lapar itu, terpaksa air laut menjadi pengganjal sementara diperut.
“Iya, minum air laut saja,” ucapnya pilu.
Menurut Candri, perjalanan pulang-pergi dari Taliabu-Bangkep bukan kali pertamanya, melainkan sudah sering dilakukan. Perjalanan antara dua pulau ini memakan waktu sekitar 8 jam. Namun kali ini, memang petaka itu hinggap di perahu mereka, sehingga membawa mereka ke negeri yang lebih jauh dari kampung halaman.
“Perjalanan Taliabu-Bangkep itu so banyak kali,” tutupnya.
Reporter: Yayan











