Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Warga Tanam Ribuan Bibit Mangrove untuk Selamatkan Cagar Alam Tanjung Panjang

Dulohupa.id – Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara Seksi Wilayah II Gorontalo, serta Pemerintah Desa Siduwonge dan Mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Negeri Gorontalo, melakukan penanaman mangrove di kawasan konservasi Cagar Alam Tanjung Panjang (CATP), di Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Kamis (1/10) kemarin.

Penanaman mangrove tersebut menghabiskan sekitar tiga ribu bibit mangrove dalam dua hektare lahan. Penanaman itu, terbilang berskala besar dan baru kali ini dilakukan di CATP.

Kepala BKSDA Wilayah II Gorontalo, Sjam Suddin Hadju mengatakan, jika kegiatan tersebut dilakukan untuk memulihkan ekosistem mangrove yang telah dirusak di kawasan CATP. Juga sebagai bentuk komitmen untuk mempertahan kawasan CATP agar tetap menjadi wilayah konservasi, seperti yang telah disepakati oleh berbagai pihak melalui forum diskusi yang dilakukan pada tahun-tahun kemaren.

“Kami dipercayakan oleh BPDAS-HL, untuk melakukan pemulihan ekosistem sebanyak sepuluh hektare lahan di tempat ini,” ujar Sjam di sela-sela kegiatan, Kamis (1/10/2020).

Saat ini kata Sjam, sekitar 3.129,48 hektare luasan hutan mangrove atau sebesar 93.31% alih fungsikan menjadi kawasan tambak.

Sjam sendiri berharap, melalui penanaman mangrove dengan berskala besar ini dapat memulihkan seperempat hutan mangrove yang telah dialihfungsikan menjadi kawasan tambak tersebut.

Kegiatan pemulihan ekosistem tersebut, juga diikuti oleh beberapa orang penggarap tambak yang ada disekitar lokasi pemulihan. Salah satunya Abdul Gani (40), penggarap yang baru dua tahun menetap di Desa Siduwonge itu mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini.

“Selama ada manfaatnya, saya senang mengikuti kegiatan seperti ini,” kata Gani singkat.

Sementara itu, Titi Hawanda Metania Kono (22), salah satu mahasiswi yang mengikuti kegiatan tersebut, mengaku mengetahui isu tentang perambahan yang terjadi pada kawasan konservasi CATP, namun belum pernah melihat langsung kondisi yang ada di tempat itu. “Saya baru pertama kali datang ke tanjung panjang, tapi setelah melihat alihfungsi kawasan mangrove menjadi tambak. Perasaan saya campur aduk, antara marah, kecewa dan sedih semuanya menjadi satu.”

“Saya berharap, masyarakat yang tinggal di kawasan CATP dapat menjaga dan melestarikan kawasan mangrove yang masih tersisa di tempat ini, utamanya pada manggrove yang kami tanam hari ini,” tutupnya.

Reporter: Zulkifli Mangkau
Editor  : Wawan Akuba