Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Virus Corona dan Alasan Mengapa Gorontalo Butuh RS Ainun

Dulohupa.id – Penularan Covid-19 atau virus corona yang sangat cepat menjadi wabah seantero dunia membuat masyarakat sadar akan betapa pentingnya fasilitas layanan kesehatan.

Memang benar, dalam sebuah pernyataan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 baru-baru ini, Provinsi Gorontalo, Alhamdulillah, masih negatif virus corona. Namun jangan sampai takabur. Bisa saja sewaktu-waktu, tanpa sadar, virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu tiba-tiba sudah sampai di bumi Serambi Madinah ini.

Di Gorontalo, baru Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo saja yang sudah ditunjuk sebagai rujukan penanganan virus corona. Namun, Walikota Gorontalo Marten Taha belum lama ini menyatakan, jika corona benar-benar masuk ke Gorontalo, RSAS hanya bisa menampung tak lebih dari 10 pasien saja.

Itu pun dokter spesialis paru saja di RSAS hanya berjumlah 2 orang. Ingat, penyebaran virus corona sangat cepat jika tidak ditangani sangat serius.

“Saat RSAS yang menjadi rujukan kondisinya sangat terbatas, baik dari ruangan, alat kesehatan dan tenaga medis,” sebut Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan (Bapppeda) Provinsi Gorontalo Budiyanto Sidiki, Jumat (20/3/2020).

Dengan situasi seperti ini, harusnya Gorontalo sudah bersiap soal layanan kesehatan. Tidak hanya RSAS, paling tidak Rumah Sakit Hasri Ainun Habibie (RS Ainun) sudah bisa ikut “menepuk dada”.

Namun, jangan dulu bicara soal cita-cita jadi rumah sakit rujukan, pengembangannya pun kerap kali jadi pertentangan. Sering-sering pula diseret ke arah politis.

“Berbagai argumentasi tentang perlunya kita punya rumah sakit skala provinsi selalu saja dimentahkan dengan berbagai argumen yang tidak rasional dan tidak proporsional dari oknum tertentu,” kata Budiyanto.

“Mungkin karena mereka tidak pernah mengalami kejadian ketika sakit tapi ditolak karena alasan ruangan penuh,” sesal dia.

Kini, proses panjang menuju cita-cita itu secara bertahap telah dipenuhi. Tak lama lagi, melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), RS Ainun akan dikembangkan menjadi rumah sakit rujukan tipe B.

KPBU RS Ainun akan masuk proses lelang. Nilainya pun mencapai Rp 596 Miliar, setelah “dikuliti” dari angka Rp 801 Miliar.

Nantinya, RS eks Mall Limboto itu akan semakin lengkap. Mulai dari ketersediaan ruangan, alat kesehatan yang canggih, jumlah perawat hingga dokter spesialisnya. (Adv/Rls)