Dulohupa.Id – Warga di Gorontalo memiliki tradisi malam qunut atau menyambut separuh bulan Ramadhan dengan berburu pisang dan kacang.
Lapangan olahraga di Desa Payunga, Kecamatan Batuda’a, Kabupaten Gorontalo menjadi lokasi setiap tahunnya, berkumpulnya para pedagang maupun pengunjung untuk membeli pisang dan kacang yang dijual harga murah. Pasar malam qunut di lokasi itu biasanya akan berlangsung tiga malam.
Biasanya pedagang musiman telah menyiapkan pisang dan kacang dalam jumlah besar. Seperti jenis pisang raja yang biasanya dijual dengan harga 20 ribu rupiah persisir, hanya dijual 10 ribu rupiah.
Begitu juga kacang kulit, hanya dijual 10 ribu rupiah dibanding biasanya dijual dengan harga 15 ribu rupiah.

Seorang warga, Aliyahman Talu mengatakan, kesempatan mendatangi pasar malam Qunut dimanfaatkan dirinya dan keluarga untuk membeli pisang dan kacang sebanyak yang diperlukan.
“Saya kesini hanya membeli pisang dan kacang karena murah. Saya datang dengan keluarga dan pisang kacang ini langsung kami makan di lapangan,” ucap aliyah.
Selain melestarikan tradisi lokal, tradisi itu tak lain sebagai rasa syukur telah menyelesaikan separuh bulan puasa dengan menikmati pisang dan kacang.
Salah satu tokoh adat di Batuda’a, Syamsudin Mohammad menjelaskan, kebiasaan ini berawal dari masyarakat terdahulu yang tinggal di pegunungan Batuda’a.
“Mereka turun gunung untuk shalat Tarwih. Sehabis shalat, ada beberapa pemuda yang mandi kebal di bak air pinggir masjid Batuda’a. Maksud mereka mandi kebal melakukan pertunjukan bermain pedang dengan menghantamnya di sekujur tubuh,” cerita Syamsudin.

Setelah pertunjukan kenal itu, Kata Syamsudin, para pemuda ini kemudian membeli kacang dan pisang untuk dimakan bersama dengan pacar mereka. Saat itu yang menjual pisang dan kacang hanya dua orang yakni bernama Koro dan Sede.
“Mereka membawa pisang dan kacang kepada cewek (Pacar) mereka, atau istilahnya Molohungo. Itu dilakukan setiap tahunnya oleh warga yang dari pegunungan,” tuturnya.
“Mereka yang mandi kebal ini, ada perguruan di gunung sana. Masa-masa itu, orang kalau dengar ada yang baku tikam, tapi ada yang ditikam tapi kebal. Orang tahu itu pasti kejadiannya di Batudaa,” papar mantan kepala Desa Batudaa tersebut.
Syamsudin menegaskan, munculnya tradisi malam Qunut di Batudaa bukan datang dari inisiatif pemerintah, namun dari warga terdahulu sejak itu.
“Berjalannya waktu, warga semakin ramai yang datang. Dari sinilah para pedagang pisang, kacang dan makanan lainnya mulai berdatangan di lapangan olahraga Batudaa. Saya ingat pada tahun 1963, saya datang ke Batudaa, tradisi memang sudah ada. Jadi sebelum tahun 63 itu, memang orangtua dulu menjaga tradisi ini,” pungkasnya.
(SDM/Dulohupa)











