Untuk Indonesia

Langgilo dan Bacoho, Tradisi Warga Gorontalo Menyambut Ramadhan

Dulohupa.id – Umat muslim di Gorontalo memiliki tradisi Langgilo dan Bacoho saat menyambut bulan suci Ramadan.
Seperti yang dilakukan Martin Ali, seorang warga di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo yang masih melestarikan adat tersebut setiap tahunnya.

Dalam tradisi Langgilo biasanya warga membersihkan atau merendam perlengkapan Salat dengan menggunakan air rebusan berbahan rempah. Untuk membuat ramuan Langgilo, diperlukan beberapa bahan rempah berupa jeruk, kelapa parut, daun pandan, daun kunyit, nilam dan sereh wangi.

“Semua bahan ini direbus hingga mengeluarkan aroma harum yang khas,” ucap Martin saat ditemui Dulohupa.Id di Rumahnya, Rabu (30/3/2022).

Kemudian air rebusan inilah yang dipakai untuk merendam alat salat seperti sarung, sajadah, mukena dan pakaian salat lainnya.

tradisi jelang ramadhan
Martin Ali saat menaruh air rebusan berbahan rempah di Loyang yang berisikan perlengkapan Alat Salat. (F. Sadam/ Dulohupa.id)

“Aroma khas yang dihasilkan ini bisa bertahan sebulan lamanya, yang penting jangan dijemur di teriknya panas matahari,” tuturnya.

Selain langgilo, Martin juga membuat ramuan Bongo yiladu untuk keperluan Bacoho atau keramas rambut. Ramuan Bongo Yiladu, bahan utamanya adalah kelapa parut. Kemudian dicampurkan dengan bahan lainnya, seperti bahan rempah yang digunakan dalam ramuan Langgilo.

“Untuk Bongo Yiladu tidak direbus tapi dilakukan pengasapan menggunakan bara api, hingga kelapa yang sudah diparut itu berubah warnah menjadi kecoklatan. Terus dikeremas ke rambut sampai rambutnya harum,” jelas Martin.

 

Tradisi yang Mulai Dilupakan

Tradisi ini sudah dilakukan keluarga martin sejak turun temurun. Biasanya tradisi langgilo dilakukan generasi muda di gorontalo sejak dulu. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini sudah mulai dilupakan.

Untuk tetap melestarikan adat ini, martin membuat ramuan pengharum lebih banyak agar bisa dibagikan kepada tetangga yang tidak sempat membuatnya. Tradisi Langgilo dan Bacoho sudah dilakukan keluarga Martin sejak turun temurun. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini sudah mulai dilupakan di Gorontalo.

“Tradisi ini pertanda bahwa kita sudah akan menyambut bulan suci yang tidak lepas dari adat-adat Gorontalo yang kebiasaan orangtua dulu sebagai pembersihan diri,” paparnya.

“Tapi sudah langka tradisi ini karena mereka sudah mengaku sudah ada alat dan bahan yang lebih canggih, seperti kelapa yang akan dipakai keramas rambut, sudah diganti sampo dan langgilo sudah diganti dengan molto” tambah Martin.

Untuk tetap melestarikan adat Gorontalo ini, Martin dan keluarganya membuat ramuan pengharum lebih banyak untuk dibagikan kepada tetangga yang tidak sempat membuatnya.

 

Reporter: Sadam

Comments are closed.