Scroll Untuk Lanjut Membaca
DPRD Kota GorontaloHEADLINEKOTA GORONTALO

Totok Bachtiar: Adakah Konspirasi Dibalik Polemik Mie Gacoan?

×

Totok Bachtiar: Adakah Konspirasi Dibalik Polemik Mie Gacoan?

Sebarkan artikel ini
Gacoan Mie
Anggota DPRD Kota Gorontalo, Totok Bachtiar saat dimintai keterangan soal penutupan outlet mie gacoan. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Penutupan sementara gerai Mie Gacoan di Kota Gorontalo cukup menyita perhatian masyarakat. Mengapa tidak, belum berapa hari di buka (grand opening) dan cukup mendatangkan antri pembeli, seketika digembok untuk sementara tak beroperasi.

Hal ini terjadi karena belum terbayarkan upah pekerja kurun waktu 6 bulan lamanya. Tak sedikit nilai upah para pekerja yang belum terbayar.

Anggota DPRD Kota Gorontalo, Totok Bachtiar turut membuka suara soal dinamika tersebut. Dirinya turut bertanya, adakah konspirasi dibalik ini?.

“Yang perlu saya tanya ke pihak mie gacoan, kenapa mereka tidak mempermasalahkan ini. Tadinya sudah ada pengakuan, yang mana mereka sudah membayar ke kontraktor, tetapi kontraktor yang tidak membayar ke buruh (pekerja),” ujar Totok kepada awak media saat ditemui, Kamis (19/06/2025).

“Nah buruh (pekerja) ini mereka tidak tau, yang mereka tau hanya mie gacoan, nah sekarang yang jadi pertanyaan saya sampai hari ini kenapa mie gacoan tidak mempermasalahkan ke aparat hukum,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, terkait dengan kejadian yang saat ini, pihak mie gacoan telah melakukan wanprestasi, yaitu tidak membayar upah kepada para pekerja yang sejak bulan Desember 2024 dan bahkan bahan bangunan belum terbayar. Namun, jika telah membayarkan dan merasa dirugikan mengapa tidak melaporkannya ke pihak berwajib.

“Kalau saya, sebenarnya ini sederhana. Harusnya Mie Gacoan yang merasa pihak dirugikan, kenapa mereka tidak melapor ke pihak kepolisian. Ini kan jadi tanda tanya besar, ada apa ini sebenarnya,” ujar Totok.

“Apakah ada konspirasi disitu atau bagaimana?,” sambungnya.

Memang hingga saat ini, belum ada titik terang dari persoalan yang ada. Namun, masyarakat (para pekerja) masih tetap kokoh berbaris untuk meminta haknya yang perlu dipenuhi.

Reporter: Yayan