Scroll Untuk Lanjut Membaca
PERISTIWA

Terancam Punah, TIM PPDM LP2M UNG Dampingi Pengembangan Konservasi Kelelawar di Desa Olibu

225
×

Terancam Punah, TIM PPDM LP2M UNG Dampingi Pengembangan Konservasi Kelelawar di Desa Olibu

Sebarkan artikel ini
Kawanan Kelelawar Yang berada di Desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Panatai, Kab. Boalemo

DULOHUPA.ID  _ Keberadaan populasi keleawar di Indonesia secara signifikan semakin berkurang, khususnya di wilayah Sulawesi. Hal ini menjadi perhatian sejumlah kalangan seperti keberadaan kelelawar di desa olibu , kecamatan paguyaman pantai, kabupaten boalemo provinsi gorontalo.

Keberadaan kelelawar endemik Sulawesi di desa olibu ini sudah maulai diganggu oleh sejumlah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yakni dengan cara menembak kawanan kelelawar yang menetap di hutan mangrove.

Ironisnya, pelaku penembak kelelawar ini. Tidak berasal dari Desa Olibu, melainkan orang yang datang dari luar Kecamatan Paguyaman Pantai.

Hal inipun mendapat perhatian dari tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Gorontalo (UNG).melalui program pengembagan desa mandiri, menjadikan desa olibuu sebagai kawasan konservasi kelelawar endemik khas sulawesi. Program pendampingan dan penyuluhan terhadap kelompok pemanfaat Kelelawar di Desa Olibu.

Melalui Tim Program Pengembangan Desa Mandiri (PPDM), Universitas Negeri Gorontalo melakukan penanaman 1000 pohon buah, bimbingan, terhadap kelompok pemanfaat kelelawar dan warga lokal.

Salah satu tim PPDM Safriyanto Dako menjelaskan, selain diberikan bimbingan kelompok. Juga melahirkan kesepakatan dasar di kawasan konservasi di Desa Olibu.

Seperti, melarang melakukan penebangan hutan Bakau (Mangrove) tanpa izin Pemerintah. Begtu juga dengan melarang, melakukan penangkapan kelelawar menggunakan senjata api yang menyebabkan, kematian dan terganggunya habitat kelelawaer di hutan bakau.

“Penangkapan kelelawar dilakukan hanya pada jam 3 dini hari hingga jam 5 dini hari. Cara penangkapannya juga harus ramah lingkungan, dengan menggunakan jaring atau net. Sehingga tidak terganggunya aktivitas kelelawar di siang hari,” ujarnya.

Dalam penangkapan Kelelawar ini, harus di lakukan penyortiran. Artinya tidak semua yang ditangkap dapat di manfaatkan. Kriteria kelelawar yang tidak bisa di tangkap itu. Seperti, kelelawar yang masih berumur muda atau berukuran kecil. Hamil dan kelelawar yang sementara mengasuh anak.

“Jika menangkap kelelawar yang sedang hamil, mennyusui dan kelelawar yang masih kecil. Penangkap harus melepaskannya kembali kehabitatnya,” bebernya.

Selain memberikan sosialisasi kata Safriyanto, pihaknya juga akan memberikan bibit buah-buahan makanan kelelawar. Sebab, jika makannya banyak, maka secara otomatis kelelawar akan berkembang biak dihutan manggrove, bahkan banyak satwa lain yang akan mencari makan di Desa Olibu (kelompok burung dll) karena sumber makanan melimpah.

Lebih lanjut kata Safriyanto Dako, Desa Olibu dijadikan sebagai Kawasan Konservasi Kelelawar Endemik Sulawesi, (Accerodon Selebensis dan Pterepus Alecto).

Tim PPDM UNG yang dibiayai Kementerian Ristek Dikti (Safriyanto Dako, Nibras K. Laya dan Netty Ishak.) melaksanakan sosialisasi desa olibuu sebagai desa Koservasi kelelawar endemik  Khas Sulawesi, dalam sosialisasi tersebut di hadiri Masyarakat, kelompok pemanfaat kelelawar, Pemerintah Desa Olibu, Pemerintah Kecamatan Paguyaman Pantai. serta dan Predict Indonesia

Sementara itu Kepala Desa Olibu Suleman Daima, menuturkan pendampingan TIM PPDM LP2M UNG. Terhadap konservasi kelelawar sangat membantu untuk penecegahan jangan sampai punah.

“Alhamdulillah kami juga diberikan bibit buah, untuk makanan kelelawar. Saat ini memang sudah jarang kelelawar datang. Karena makananan mereka sudah sedikit,” ketusnya. (DP/01)