Dulohupa.id- “Penghasilan di bawah, kasihan sekarang petani,” sahut Pak Saiful.
Jumat 10 Desember 2021. Sore itu saya sedang di area persawahan yang berada di bagian timur dari pusat Kota Gorontalo. Tepatnya di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Mengitari petak-petak sawah, menyaksikan petani yang lagi tengah sibuk bekerja.
Sembari mengambil gambar, beberapa petani terlihat tengah sibuk gotong royong. Mempersiapkan bibit-bibit padi mereka yang sudah siap tanam setelah dirawat tumbuh selama 18 hari.
Akhir tahun ini, memang sudah memasuki musim tanam padi. Khususnya di Wilayah Bone Bolango. Petani yang saya jumpai di Desa Talango tersebut, terlihat riang, bercanda tawa lepas menyambut musim tanam akhir tahun ini. Sesekali canda tawa mereka tertangkap oleh kamera HP kusam saya. Tak peduli lumpur yang menempel di pipi, mereka terus bekerja dengan riang.
Namun di luar dugaan, ternyata di balik riang tawa itu terselip segudang kesedihan, keresahan, kegelisahan, akan bagaimana nasib padi mereka usai di tanam nanti. Saya merasa terpedaya oleh riang tawa itu, saya pun berhenti ikut tersenyum. Setelah di sahut oleh salah satu petani di Desa itu, saya berhenti mengambil gambar aktivitas petani yang tengah serius bekerja bermandikan.
Perhatian saya langsung tertuju pada seorang pria tidak jauh dari saya. Ia bernama Pak Saiful, menyahut saya tiba-tiba dengan pelan. Saya langsung mendekatinya yang tengah duduk beristirahat, sembari menghisap sebatang rokok.
“Iya, bagaimana pak,?” tanya saya.
“Sekarang petani itu kasihan, kendala pupuknya yang dibatasi,” ketusnya pelan.
Karena itu, dengan cepat saya pun langsung aktifkan rekaman. Kata pak Saiful, petani sekarang tengah susah. Ia menjelaskan, itu karena diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang telah membatasi kebutuhan pupuk.
Kata dia, sekarang itu petani hanya bisa menggunakan pupuk untuk satu petak, hanya dibolehkan sebanyak 30 kilo saja. Sedangkan menurutnya aturan itu, membuat patani kewalahan sebab hasil panennya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.
Satu petak itu kata dia, mestinya pupuknya 300 kilo, itu pun sudah paling minimal. Bukan 30 kilo. Tak tanggung-tanggung, hasil panen bisa kalah.
“Kalah, hasilnya satu kali panen satu pantango (petak) itu, yang biasanya bisa sampai 22 karung, kini tinggal enam karung. Selisihnya sangat jauh,” ujarnya
Kadang-kadang ia bilang, dirinya banyak merenung dan bertanya-tanya, mengapa pemerintah bisa-bisanya membikin kebijakan itu. Tapi, ia tidak bisa berbuat banyak. Kata dia, kebijakan itu membuat para petani menjerit, bahkan menangis. Tapi meski begitu ia tetap sabar dan mengucapkan syukur masih dapat menggarap sawahnya tersebut.
“Iya. Pernah menangis. Yah. Maksudnya begini, kita memang betul-betul merawat sawah. Tapi yahh. Biarlah, cuman Allah yang bisa tahu,” tandas Saipul.
Mendengar itu, saya terdiam, tidak berani bersuara. Pandangan saya alihkan lagi pada para petani yang lagi tengah sibuk bekerja. Kurang lebih tiga menit saya belum juga berani menatap kembali wajahnya. Pak Saiful pun masih terpaku pada kerabatnya yang sedang bekerja itu, dengan sebatang rokok di antara jari telunjuk dan tengahnya.
“Kalau dulu belum dibatasi pupuknya itu, hasil panen sangat bagus,” lanjutnya.
Lebih lanjut kata dia, di tahun 2021 ini hasil panen yang dihasilkan dalam satu petak hanya berkisar enam sampai tujuh karung karung saja. Itu ia dapatkan dalam dua kali panen terakhir di tahun ini. Padahal sebelumnya hasilnya mencapai 20 karung.
Tapi kata dia juga, dirinya menduga kalau kebijakan pemerintah dalam membatasi kebutuhan pupuk yang kini tinggal 30 kilo per petak itu, petani akan dialihkan kepada pupuk non-subsidi, yang katanya harga satu bantalnya berkisar Rp 450 ribu.
Itu kata dia, walaupun tidak dibatasi pemakaiannya, tapi dua kali lipat harganya dengan pupuk yang bersubsidi yang biasa digunakan.
“Petani ini sudah dua kali panen, memang kalah total. Padahal aturan itu bikin susah juga rakyat, kita petani kasihan,” ungkapnya.
Dirinya menjelaskan, satu petak itu biaya untuk penggarapannya tidak sedikit. Ia merincikan, baru biaya dalam membajak sawah Rp 330 ribu, biaya untuk tanam Rp 220 ribu, jadi sudah Rp 550 ribu. Belum ditambah obat rumput, pupuk, biaya semprot, dan merawat. Baru tiba waktu panen hasilnya tidak seberapa.
“Tetap biar rugi, kita tetap menggarap sawah, karena buat makan. Kalau sudah tidak mengharap lagi, aduhh,” pungkasnya tertawa
Tiba-tiba di tengah percakapan kami. Ada seorang pria tua menghampiri, dan lalu langsung disambut ejekan canda oleh pak Saiful, “Ini ti Opa ini ta dumpul baru-baru, hahaha, ta dumpul patah,” (Ini Opa ini, baru-baru dapat hasil banyak, hahaha alias banyak ruginya,)” guraunya.
Meski di tengah-tengah kesedihan dan keresahan mereka. Pak Saiful dan para petani di sini terlihat tegar menjalani pekerjaan mereka sebagai petani, yang kata pak Saiful, hanya dengan itu mereka mengangtungkan harapan untuk terus menyambung nafas di esok hari, sebab hanya sawah itu satu-satunya tempat mereka mengharapkan sesuap nasi.
“Kalau so tidak akan menggarap sawah, pasti akan mati kelaparan,” kata Pak Saiful
Di akhir percakapan kami, Pak Saiful bilang kalau Opa yang bernama lengkap Nurdin Pano itu, bernasib sama. Dia pun di tahun ini, dua kali mendapatkan hasil panen yang sedikit. Akibat dari pembatasan kebutuhan pupuk tersebut.
“Keluhan petani ini cuman pupuk itu, tidak ada yang lain,” kata Nurdin
“Opa ini sudah dua kali panen kalah, kalah terus,” tambahnya.
Reporter: Faisal Husuna











