Siap-siap Didenda 100 Juta Jika Menolak Vaksinasi COVID-19

Dulohupa.id- Arus penolakan masyarakat terhadap vaksin COVID-19 produksi sinovac terus terjadi. Banyak masyarakat yang menyatakan secara tegas tidak mau divaksin. Merespon hal tersebut, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menegaskan bahwa masyarakat harus siap didenda 100 juta jika menolak vaksinasi COVID-19.

“Maka bagi mereka yang sudah wajib divaksin dan menolak, berdasarkan UU Nomor 4/1984 dan UU Nomor 6/2018, siapa yang menolak vaksinasi, ditahan satu tahun atau denda maksimal Rp100 juta,” ungkap Ridwan, Rabu (13/1).

Sebab kata Ridwan, penerima vaksin yang menolak merupakan orang yang membahayakan karena saat ini urgensi vaksinasi COVID-19 di masa pandemi.

“Mungkin itu hak, menolak masih boleh. Tapi karena darurat, situasi perang, emergency, maka menolak vaksin sama dengan anda membahayakan lingkungan sekitar. Anda menjadi sumber penyakit, sehingga membahayakan keselamatan masyarakat dan negara,” katanya.

Kata Ridwan, solusi mengakhiri pandemi COVID-19 telah dilakukan oleh pemerintah hampir satu tahun. Sehingga ketika solusi itu muncul dengan hadirnya vaksin COVID-19, maka itu berita baik. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan informasi baik, sekaligus mengedukasi terkait vaksinasi COVID-19 agar tidak ada lagi penolakan atau keraguan dari masyarakat.

“Tapi vaksin ini direspons dua cara. Mereka yang rasional, maka vaksin direspons positif. Tetapi mohon maaf, masih banyak di antara jemaah, umat, rakyat, yang merespons dengan ketakutan karena tiga hal, (yakni) tidak bertanya kepada ahlinya, terkena provokasi dan terkena hoaks,” katanya.

Padahal menurut Ridwan, fatwa MUI dan Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM untuk vaksin Sinovac telah keluar pada 11 Januari 2021.

“Kita titip kepada semua, ulama hingga pejabat, mari edukasi (warga) bahwa kalau bertanya (tentang vaksin) itu ke tiga pintu, (yaitu) ahli vaksin sesuai ilmunya, MUI terkait halalnya, dan BPOM tentang uji klinis. Dan fatwa MUI juga EUA BPOM sudah keluar,” katanya. **(viva)