Scroll Untuk Lanjut Membaca
BOALEMOHEADLINE

Salam Kemerdekaan Dari Pelajar Limbatihu yang Masih Bersepatu Lumpur

×

Salam Kemerdekaan Dari Pelajar Limbatihu yang Masih Bersepatu Lumpur

Sebarkan artikel ini
Para siswa SMA Negeri 1 Paguyaman Pantai saat melewati jalanan berlumpur untuk sampai ke sekolah mereka/F. Sumitro Igirisa

Dulohupa.id – Hiruk pikuk Kemeriahan peringatan kemerdekaan Indonesia ke-77 tahun ternyata belum sepenuhnya menggambarkan kesejahteraan dan keadilan sosial dibangsa ini.

Masih banyak ketimpangan yang kerap kali hanya menjadi tontonan para penguasa, salah satunya dunia pendidikan. Di Tengah euforia kegiatan oleh dunia pendidikan dalam memeriahkan hari kemerdekaan negeri tercinta.

Gambaran berbeda justru diperlihatkan oleh Alan Mahluk, bersama rekan-rekannya di SMA Negeri 1 Paguyaman Pantai. Demi memperoleh pendidikan yang layak mereka harus rela berjibaku dengan medan yang kurang bersahabat setiap hari agar bisa sampai di sekolah.

Meskipun sekolah dengan tempat tinggal mereka masih berada di satu desa yang sama, yakni desa Limbatihu dan hanya berjarak 4 kilometer, namun para siswa ini harus menghabiskan waktu selama satu jam untuk bisa sampai ke sekolah.

Medan yang berbatu, bahkan berlumpur, terkadang menjadi penghalang mereka sewaktu perjalanan. Sering kali mereka harus melepas sepatu, untuk melintasi medan yang berlumpur.

“Pagi-pagi saya harus bangun lebih awal, biasanya berangkat setengah 6, karena jarak sekolah kurang lebih 4. kilometer” ucap Alan Mahluk.

“Kadang saya pakai sepatu dari rumah, dan harus melepasnya di perjalanan karena berlumpur kalau musim hujan, kemudian baru kami pakai lagi setelah tiba di sekolah” tambahnya.

Kondisi yang sudah dialami Alan bersama teman-temannya selama bertahun-tahun ini telah menjadi hal biasa. Bahkan pihak sekolah pun sudah memaklumi hal ini, terutama ketika mereka tiba di sekolah melewati waktu pembelajaran.

“Keadaan seperti ini memang sudah berlangsung lama di sekolah kami, apalagi untuk siswa yang jaraknya jauh, 4 atau 5 kilometer mereka jalan kaki. Dengan kondisi jalan seperti ini apalagi kalau musim hujan, mungkin keterlambatan seperti ini sudah kami maklumi sebagai pihak sekolah” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan Adnan Una.

Bahkan tak jarang sang wakil kepala sekolah terkadang harus menjemput mereka satu persatu menggunakan sepeda motornya. Supaya bisa lebih cepat tiba di sekolah meskipun para siswa ini dijemput di tengah perjalanan.

“Kami bersama rekan-rekan guru lainnya yang memiliki kendaraan, berusaha menjemput mereka untuk bisa datang ke sekolah” terang Adnan menjelaskan.

Pada momentum hari kemerdekaan ini, Alan bersama rekan-rekan siswa lainnya hanya bisa berangan-angan, agar akses jalan yang menjadi pijakan kaki mereka untuk menuju sekolah, bisa mendapatkan perhatian pemerintah, setidaknya mereka tidak harus melepas sepatu saat perjalanan.

“Kami berharap, supaya pemerintah bisa memperbaiki jalan ditempat kami. Setidaknya kami bisa nyaman dan tidak terlambat lagi ke sekolah” tutur Alan.

Reporter: Sumitro Igirisa