Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIPERISTIWA

Petani Gorontalo Kecewa, Harga Beras Anjlok Jelang Masa Panen

×

Petani Gorontalo Kecewa, Harga Beras Anjlok Jelang Masa Panen

Sebarkan artikel ini
Petani sedang panen padi/FOTO: Faisal Husuna

Dulohupa.idSejumlah petani di Tilongkabila, Bone Bolango, mengeluhkan harga beras yang anjlok, di saat mereka akan memasuki panen. Harga tersebut hanya berkisar Rp 375 ribu hingga Rp 400 ribu per koli atau per 50 kilogram. 

Abdullah Saleh (51), petani setempat mengungkapkan, bahwa dalam beberapa bulan ini memang, hasil panen mereka susah dijual. Jika terjual pun, harga sangat rendah. Karena itu, tidak jarang hasil panen akan habis terjual menjelang panen berikutnya. Agar tak malah membusuk di gudang, kadang ia menjual berasnya hingga Rp 250 ribu per koli. Apalagi dalam waktu-waktu panen, harga beras katanya akan jatuh sangat rendah. 

“Tahun 2018 pernah naik sampai 500 ribu, 600 ribu (juga) pernah. (Sekarang) Setengah Mati menjual, bahkan pernah di jual sampai Rp375 ribu per koli, (Bahkan) setiap panen begitu,” ungkap Abdullah, Jumat (7/5). 

Ia pun menduga, anjloknya harga ini karena masuknya beras impor. “Katanya (beras) dari luar ada, dari Sulteng (Sulawesi Tengah), dan Makassar. kan itu, mempengaruhi harga di sini,” tambahnya.

Petani sedang memanen padi.FOTO: Faisal Husuna

Belum lagi ditambah situasi pandemi Covid-19. Katanya, sejak saat itu beras sudah murah. Namun yang justru membuat para petani ini kecewa, beras di pasaran yang mereka beli berkisar hingga Rp 500 ribu, namun jika mereka yang menjual, justru hanya dihargai lebih rendah dari harga tersebut. 

“Kalau (hasil panen) kita di sini terjual 400, sedangkan kalau kita beli di pasar, ada yang dijual 500 sampai 600 ribu per koli,” jelasnnya.

Ia pun meminta kepada pemerintah, agar memperhatikan nasib mereka. Ia meminta pemerintah menstabilkan harga tersebut. 

“Stabilkan harga 480 atau 500 (untuk) beras per koli. (Dan) itu beras yang dari luar daerah itu, jangan kasih masuk di Gorontalo. Susah sekali kita kalau menjual beras,” tutupnya.

Senada dengan itu, Idris Ishak (55) mengungkapkan, bahwa memang harga beras hasil panen cenderung mengalami penurunan.  “Harga (beras) ini, di bawah sekali harganya,” ujarnya.

Harusnya kata dia, di musim panen seperti saat ini, pemerintah tidak menerima beras dari luar daerah. Sebab, pengaruhnya pada harga lokal. Sudah begitu, pun tidak ada yang beli. Karena itu, ia pun berharap kepada pemerintah, agar tidak menerima lagi beras dari luar, sebab itu akan menyusahkan para petani lokal.

“Sebenarnya jika panen di sini (Gorontalo), pemerintah jangan menerima beras dari luar daerah,” kata Idris.

” Di sini panen, (masa pemerintah) menerima (beras) yang dari luar daerah,” pintanya.

Reporter: Faisal Husuna