Dulohupa.id – Sebanyak 66 peserta Pekan Nasional (PENAS) XVII dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pelatihan pengembangan digitalisasi jaringan Agribisnis Tani Nelayan yang digelar di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo, Minggu (21/6/2026).
Pelatihan pengembangan digitalisasi ini digelar oleh Pusdatin Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan dinas-dinas terkait selaku panitia di daerah Gorontalo. Panitia menghadirkan sejumlah pemateri berkompeten yakni Gordon Arifin Sinaga yang menjabat sebagai Business Development Manager at PT Bina Cipta Teknologi. Gordon Arifin Sinag memberikan materi tentang “Drone Agriculture Mendorong Transformasi Digital Pertanian Indonesia Berbasis Data dan Presisi”.
Adapun pemateri lainnya yakni Totok A Mulyono yang menjabat Demand Generation Manager PT Advanta Sedds Indonesia. Totok memberikan materi pelatihan mengenai “Transformasi Teknologi Keamanan Benih untuk mendukung Manajemen Budidaya Tanaman yang Unggul”.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Banten, Oong SYahroni yang turut menghadiri pelatihan itu mengapresiasi kepada Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemda Kabupaten Gorontalo telah memfasilitasi kegiatan yang sangat bermanfaat bagi para petani dan nelayan untuk lebih maju lagi di tengah era Digital.
“Digitalization Agribusiness ini adalah salah satu bidang yang saya koordinasikan di bawah koordinasi bidang tiga, dan menurut tema pelatihan yang saya terima di PENAS, kegiatan digitalisasi pertanian ini adalah kegiatan yang luar biasa,” ujar Oong Syahroni.

Ia menyebut pelatihan digitalisasi kepada petani dan nelayan terus dipertahankan setiap adanya event PENAS. Melalui kegiatan ini, Oong Syahroni berharap bisa meningkatkan kesadaran petani dan nelayan akan pentingnya pengembangan digitalisasi dan jaringan informasi dalam pengembangan agribisnis.
“Karena dampak dari kegiatan ini sudah banyak dirasakan oleh teman-teman peserta sebelumnya, sehingga tahun ini pun kita maksimalkan, terlebih di Gorontalo dan Alhamdulillah pesertanya luar biasa dan antusias,” pintanya.
Menurutnya sebagian besar pertanian saat ini sudah bergeser ke sistem digital, dimana awalnya dari petani tradisional menuju petani-petani yang modern. Petani dan nelayan diminta jangan gagal paham yang tidak mau adanya digitalisasi karena saat ini masyarakat sudah hidup di era digital. Diharapkan pelatihan ini dapat bermanfaat dalam membantu memudahkan pekerjaan petani.
“Sehingga pulang nanti, pelatihan ini menjadi bekal untuk dimultiplikasikan oleh petani agar hasil produksi dapat meningkat,” harap Oong Syahroni.
Sementara Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo yang turut terlibat memfasilitasi pelatihan itu mengapresiasi kepada peserta PENAS XVII yang hingga saat ini masih antusias.
“Selaku panitia di daerah, kami dari dinas Kearsipan dan Perpustakaan maupun dinas-dinas terkait hanya memfasilitasi, bagaimana pelatihan ini bisa berjalan baik,” tegas Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ridwan Hemeto.

Reporter: Enda











