Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEPERISTIWAVideo

Perjalanan Kasus Kematian Briptu RF hingga Dianggap Janggal Orangtuanya

×

Perjalanan Kasus Kematian Briptu RF hingga Dianggap Janggal Orangtuanya

Sebarkan artikel ini
Kasus Briptu RF
Petugas kepilisian saat mengamankan TKP penemuan mayat Briptu RF di dalam mobil dinas Polisi pada Sabtu (25/3/2023). Foto: Ist

Dulohupa.id – Kasus kematian anggota Polda Gorontalo, Briptu Rully Firmansyah (RF) yang diduga tembak diri menjadi perhatian publik. Bahkan kematian Briptu RF dianggap janggal oleh orangtuanya.

Sebelumnya Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Gorontalo telah menyampaikan hasil pemeriksaan kasus tersebut yang menyatakan bahwa, Briptu RF diduga menembak diri sendiri menggunakan senjata api karena permasalahan asmara dengan kekasihnya. Namun polisi hingga saat ini belum mengungkap siapa kekasih dari Briptu RF tersebut.

Berikut Video Perjalanan Kasus Kematian Briptu RF Hingga Dianggap Janggal Oleh Orangtuanya:

https://www.youtube.com/watch?v=kb1_o-_g0Ic&ab_channel=DulohupaTV

1. Profil singkat Briptu RF

Briptu Rully Firmansyah alias RF adalah anggota polisi Gorontalo yang berdomisili di Kelurahan Ngadirgo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah. Briptu RF kelahiran 8 Januari 1994 dan lulus jadi polisi tahun 2017. Almarhum merupakan anak pasangan dari Muslih dan Muniroh.

Briptu RF diketahui belum setahun bertugas di Polda Gorontalo menjadi Staf Pribadi Pimpinan (Spripim) Kapolda Gorontalo, Irjen Helmy Santika. Ayah Briptu RF adalah purnawiran Polri, seorang mantan penyidik Resmob Polrestabes Semarang.

Pacar Briptu RF
Foto Briptu Rully Firmansyah (RF) semasa hidup/Ist

2. Briptu RF adalah Spripim bukan Ajudan Kapolda

Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono menegaskan, Briptu RF bukan ajudan Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Helmy Santika.

Kata Wahyu, Briptu RF bertugas sebagai salah satu Staf Pribadi Pimpinan (Spripim) bagian pengamanan dan pengawalan.

“Berbeda tugasnya ajudan dan Spripim. Posisi ajudan bapak kapolda diisi dua orang yaitu Briptu Ricard dan Bripda Rahmat. Mereka berdua masih hidup dan sehat. ungkap Wahyu dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Wahyu menjelaskan, tugas Spripim ada empat bidang yakni mengurus akuntansi atau keuangan, mengurus peliputan atau produksi dokumen, Protokoler dan urusan pengamanan.

Polisi Tembak Diri Gorontalo
Petugas Kepolisian dalam konferensi pers pada Minggu (26/3/2023) saat menunjukan barang bukti berupa senjata api jenis Glock, dan sejumlah amunisi yang ditemukan di lokasi TKP Briptu RF menembak diri sendiri. Foto/Dulohupa

3. Kronologi penemuan Mayat Briptu RF

Briptu RF ditemukan oleh warga dalam kondisi tak bernyawa di dalam mobil dinas Polri pada Sabtu (25/3/2023) pagi di kawasan jalan GORR, Desa Ombulo, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.

Sebelumnya saksi yang hendak pergi ke kebun juga melihat mobil dinas tersebut terparkir dalam kondisi menyala pada Jumat sore. Pada keesokan harinya, saksi Ari Maliki masih melihat mobil Rush berwarna putih itu masih dalam kondisi menyala.

Saksi kemudian mendekati mobil dan melihat ada seorang laki-laki yang sudah tersandar di kursi mobil dalam kondisi mulut terbuka dan mata tertutup. Saksi kemudian melaporkannya ke aparat Desa Ombulo dan diteruskan ke Polsek Limboto Barat.

4. Hasil Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Setelah menerima laporan masyarakat, petugas kepolisian langsung mengamankan Tempat Kejadian PerKara (TKP). Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Gorontalo, Kombes Pol Nur Santiko mengungkapkan, tindakan yang dilakukan petugas adalah sudah memeriksa 10 saksi. Sementara barangbukti yang diamankan yaitu sebuah senjata api jenis Glock 17 C, satu buah Magazine kosong, lima butir amunisi kaliber 9 yang ditemukan di dasbord bawah mobil, 1 buah sarung senjata, 1 buah Handpone jenis Ipone, serta 1 butir proyektil peluru yang sudah digunakan untuk menembak.

5. Autopsi Jenazah Briptu RF Dibatalkan

Jenazah Briptu RF yang rencananya akan dilakukan autopsi di rumah sakit Bhayangkara Polda Gorontalo pada Minggu, (26/3/2023) pagi dibatalkan, karena keluarga Briptu RF dari Semarang yang tiba di rumah sakit menolak dilakukan autopsi.

Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono menjelaskan, ada 6 orang perwakilan yang hadir di rumah sakit Bhayangkara.

“Sebelum dilakukan autopsi, kami memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengecek kondisi jenazah. Tentunya kondisi jenazah masih utuh seperti pada saat ditemukan meninggal di TKP. Semuanya disaksikan oleh pihak keluarga,” jelas Wahyu.

Setelah melihat kondisi jenazah, kata Wahyu, pihak keluarga menyatakan keberatan dilakukan autopsi. Kemudian oleh penyidik meyakinkan kembali kepada keluarga tentang tujuan autopsi.

“Namun kembali pihak keluarga sudah sepakat untuk tidak diautopsi. Artinya dengan penolakan ini pihak keluarga telah menerima peristiwa ini terjadi. Namun pihak keluarga menginginkan agar penyidik segera mengungkap motif dibalik meninggalnya Briptu RF,” ungkap Wahyu.

6. Hasil Pemeriksaan Visum Luar Jenazah Briptu RF

Meskipun pihak keluarga menolak jenazah Briptu Rully Firmansyah (RF) dilakukan autopsi, Dokter Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri melakukan visum luar jenazah di rumah sakit Bhayangkara Polda Gorontalo pada Minggu (26/3/2023).

Dokters Puslabfor Mabes Polri, AKBP Wahyu Widayati mengungkapkan, sejumlah pemeriksaan visum luar dilakukan kepada Briptu RF. Pertama dari pakaian korban, Briptu RF menggunakan pakaian dua lapis. Pakaiannya berlubang terasa keras dan terbakar.

“Lubang pakaian itu bekas tembakan yang dilakukannya sangat dekat atau menembakkannya dengan cara tempel,” jelas AKBP Widayati dalam konferensi pers yang digelar Polda Gorontalo pada Minggu malam, (26/3/2023).

Sementara pada kulit dada sebelah kiri Briptu RF terdapat satu lubang tembakan dan mengenai jantung bagian atas. Pada dada sebelah kiri juga terdapat seperti moncong lingkaran selebar setengah sentimeter.

“Stempel moncong itu adalah senjata yang digunakan untuk menembak diri,” sambungnya.

Kemudian belakang punggung Briptu RF memiliki luka tembak keluar karena peluru tidak bersarang pada tubuh korban.

“Memang saya tidak berada di TKP, tapi tim Inafis melakukan olah TKP menyampaikan kursi tempat korban bersandar ada bekas lubang tembakan,” ucap Widayati.

Ia juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan terhadap korban seperti luka lecet atau memar. Memang ada warna biru tapi itu lebam mayat, bukan memar luka. Lebam mayat itu muncul setelah meninggal, sehingga darahnya mengendap.

Kemudian dari hasil olah TKP Inafis Polda Gorontalo tidak menemukan kerusakan mobil dari bagian luar. Sehingga Forensik Mabes Polri menyimpulkan bahwa tidak ada pertikaian dalam mobil.

“Jika ada pertikaian, pasti ada luka-luka perlawanan, tapi kami periksa tidak ada. Di tangan korban ada darah, setelah dibersihkan tidak ada luka,” jelasnya.

“Menurut asumsi saya atas kasus ini bahwa, jarak waktu kematian Briptu RF akan lebih cepat karena tembakan mengenai dada dan tembus ke jantung,” pungkas Dokter Forensik Mabes Polri.

Visum Briptu RF
Dokters Puslabfor Mabes Polri, AKBP Wahyu Widayati . Foto/Dulohupa

7. Motif Briptu RF Tewas Tembak Diri

Direktur Diskrimum Polda Gorontalo, Kombes Pol Nur Santiko membeberkan, Briptu RF mengakhiri hidupnya karena ada indikasi masalah asmara. Hal itu berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan, serta memeriksa saksi yakni teman dekat dari korban.

“Sampai saat ini berdasarkan penyelidikan, Ini terkait motif asmara yang terpendam. Dari keterangan saksi teman korban, Briptu RF pernah mengeluh soal hubungan dengan kekasihnya,” ungkap Kombes Santiko dalam konferensi pers yang digelar Minggu malam (26/3/2023).

Polisi masih menelusuri siapa wanita yang berhubungan dengan Briptu R-F karena hubungan mereka secara jarak jauh atau LDR. Selain itu, Briptu RF juga memiliki hubungan dengan wanita yang baru.

“Wanita ini siapa, kita masih mendalami hal ini karena hubungan mereka LDR. Kenapa timbul kekecewaan dari diri korban. Kemudian dari penyelidikan yang baru kami dapatkan, ada wanita baru yang berhubungan dengan korban. Keterangan itu kami dapatkan dari teman sejawat korban,” ungkapnya.

“Sementara dari keluarga sendiri, permasalahan asmara ini belum mereka tahu. Keluarga hanya tahu korban punya asmara dengan wanita yang si LDR. Mereka tidak tahu ada wanita yang baru. Kami masih melakukan pendalaman,” sambung Santiko.

Santiko juga menjelaskan, korban juga pernah mengirim video berbaur kematian kepada sejumlah temannya berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi.

“Video-video ini berupa alam kubur yang dikirim ke sejumlah temannya,” tandasnya.

8. Jenazah Briptu RF Dipulangkan

Polda Gorontalo melaksanakan upacara persemayaman untuk melepas jenazah Briptu Rully Firmansyah (RF) yang akan dipulangkan ke kampung halamannya di Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/3/2023).

Upacara dipimpin Direktur Samapta Polda Gorontalo, AKBP Moh Zamronipagi sekitar pukul Pukul 04:30 Wita bertempat di Rumah Sakit (Rumkit) Bhayangkara Polda Gorontalo.

Dalam upacara ini turut dihadiri Wakapolda Gorontalo, Brigjen Pol Pudji Prasetijanto Hadi, serta para pejabat utama jajaran Polda Gorontalo.

Usai upacara, jenazah Briptu RF langsung diberangkatkan ke bandar udara Djalaluddin untuk melanjutkan pemberangkatan ke Semarang.

Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Briptu Rully Firmansyah (Rf). Dirinya menyebut korban merupakan putra terbaik yang dikenal sopan, rajin dan santun hanya sedikit pendiam.

“Kami keluarga besar Polda Gorontalo pada kesempatan ini menyampaikan rasa duka yang mendalam, kami merasa kehilangan karena yang meninggal ini adalah putra terbaik, kesehariannya dikenal baik, rajin, kemudian sopan, santun namun agak pendiam orangnya. Mari kita sama-sama doakan agar almarhum diterima di sisinya dan keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan ketabahan.” Ucap Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono.

Jenazah Briptu RF
Upacara Persemayam Briptu RF untuk dipulangkan ke Kampung Halamannya di Semarang/Ist

9. Kapolda Gorontalo Minta Maaf

Kapolda Gorontalo Irjen Pol Helmy Santika meminta maaf kepada orangtua Briptu Rully Firmansyah (RF) karena tidak bisa menjaga almarhum. Hal itu disampaikan Irjen Helmy saat menemui orangtua Briptu RF di rumah duka Kelurahan Ngadirgo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah pada Senin (27/3/2023).

Tangisan Kapolda Gorontalo dan ayah Briptu RF juga terlihat saat keduanya berpelukan. Diketahui Muslih yakni ayah Briptu RF merupakan purnawiran Polri.

“Saya mengantar pulang pak, saya minta maaf tidak bisa menjaga Rully. Dia anak yang baik, saleh, tapi keadaan ini memang membuat kita syok khususnya saya,” kata Irjen Helmy saat menghadiri pemakaman jenazah Briptu RF.

Kapolda Gorontalo Irjen Helmy Santika
Kapolda Gorontalo Irjen Helmy Santika saat memberikan sambutan saat pelaksanaan upacara persemayaman dan pemakaman jenazah Briptu Rully Firmansyah di rumah duka di Kota Semarang. Foto: Humas Polda

10. Orangtua Rasa Janggal atas Kematian Briptu RF

Muslih selaku ayah Briptu RF mengaku ragu dengan masalah asmara yang disebut Polda Gorontalo jadi pemicu Briptu RF mengakhiri hidupnya. Kata Muslih, anaknya tidak pernah mengeluh soal masalah yang selama ini dia hadapi. Namun, secara tiba-tiba, muncul kabar bahwa anaknya tewas bunuh diri gara-gara masalah asmara.

Purnawiran polisi itu mengungkap sifat asli anaknya itu sangat terbuka. Briptu RF selalu bercerita ketika ada masalah entah itu masalah kecil ataupun besar. Dari hal inilah sang ayah tidak percaya jika anaknya bunuh diri hanya gara-gara asmara.

“Orangnya diam, ya baik juga sih, kalau ada apa-apa baik juga sih ngomong, orangnya pokoknya dekat dengan beliaunya,” jelas mantan penyidik kepada awak media.

Irjen Helmy Santika
Ayah Briptu RF menangis saat berpelukan dengan Kapolda Gorontalo Irjen Helmy Santika saat berpelukan di rumah duka. Foto: Humas Polda

Muslih juga mengungkap tidak pernah mendengar adanya keluhan ataupun persoalan dari Briptu RF.

“Selama ini tidak pernah ada sedikitpun mengeluh persoalan yang terjadi, ibaratnya kalau ada hujan pasti ada mendung. Ini nggak ada mendung, hujan gitu loh, itu yang kita pertanyakan sampai saat ini,” ujar Muslih di rumah duka.

Muslih mengaku anaknya memang sempat berkonflik dengan mantan pacarnya yang merupakan anggota Densus 88. Namun konflik itu diduga hanya karena Briptu RF dan mantan pacarnya itu memiliki kesibukan yang padat.

Ia menyebut tak mengetahui masalah anaknya. Namun, dia menilai masalah tersebut hanya karena kesibukan masing-masing.

“Kalau tunangannya itu kan juga memang pernah datang ke sini, dan saya juga pernah melamar ke sana, cuma konflik itu kan konflik pribadi. Saya tidak bisa menyimpulkan sebenarnya kalau saya duga itu ya karena saling sibuk sendiri karena calonnya itu kan Densus 88 kalau anak saya di ajudan,” ungkap sang ayah, Muslih di Semarang.

Muslih mengatakan, pihaknya saat ini masih berduka dan butuh waktu untuk berpikir apa yang akan dilakukan terkait kasus kematian Briptu RF. Ia meminta Kapolda Gorontalo untuk mengusut tuntas penyebab meninggalnya Briptu RF.

Sementara terkait pacar Briptu RF diduga anggota Densus 88, pihak Polda Gorontalo belum buka suara terkait hal tersebut setelah dihubungi wartawan Dulohupa.

Tim Dulohupa