Dulohupa.id – Perayaan Tumbilotohe atau malam pasang lampu telah menjadi sebuah kebiasaan dan tradisi masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan mulai malam ke 27 Ramadan atau menyambut malam Laitul Qadar.
Tumbilotohe sudah ada sejak ratusan tahun lamanya dan harus dibudayakan. Namun Bupati Bone Bolango menghimbau agar tradisi yang dilaksanakan tidak melampaui syariah dan nilai-nilai agama.
“Seiring dan sejalan Tumbilotohe ini adalah bagian dari tradisi yang sudah berusia ratusan tahun dan ada banyak makna yang terkandung didalamnya. Salah satunya adalah untuk menyambut malam laitul qadar, dan biasanya banyak masyarakat yang akan membayarkan zakat fitrahnya. Pada zaman dulu, Tumbilotohe ini sebenarnya untuk memandu masyarakat ke masjid dengan lampu-lampu yang ada di tepi jalan,” Ujar Hamim Pou.
Hamim berharap apa yang telah menjadi tradisi tidak akan lekang dimakan waktu, dan ia pun meyakini tradisi Tumbilotohe tidak akan mati meskipun dilapangan harga minyak tanah sangat mahal dan sulit untuk didapatkan oleh masyarakat.
“Saya dapat info harga minyak tanah itu sampai 35.000 per liternya, ditambah sulit untuk didapatkan. Sehingga masyarakat banyak yang beralih menggunakan lampu listrik. Namun apapun bentuknya, kita harus melihat substansinya yaitu malam laitul qadar adalah malam yang sangat luar biasa dan mulia. Saya juga mengingatkan agar masyarakat tidak lupa untuk membayarkan zakat fitrahnya ke Baznas,” Ungkap Hamim Pou.
Disisi lain, Wakil Bupati Bone Bolango, Merlan Uloli berharap agar kedepan setiap desa dapat menganggarkaan untuk kegiatan Gema Tumbilotohe di masing-masing desa. Sehingga aktivitas dan kreativitas masyarakat bisa tersalurkan tanpa terkendala dengan anggaran dari pemerintah daerah yang sangat terbatas.
Reporter: Kris











