Dulohupa.id- Lalu lalang kendaraan di simpang empat Jl Samratulangi, Kota Gorontalo saat itu, tak membuat saya melepaskan pandangan kepada pria di sudut Pasar Sentral. Pria itu adalah Mohamad Lamusu. Dengan benang dan jarum, ia tampak sibuk. Jari jemarinya sibuk memasukan benang di pinggiran sepatu hitam yang tampak kusam.
Ia adalah warga Kelurahan Limba I, Kota Gorontalo. Pekerjaanya sebagai penjahit sepatu membuatnya tampak lihai berkutat dengan benang dan jarum. Karena hanya dengan kedua benda itu pula, ia menggantungkan hidupnya, mengais rezeki.
Pria paruh baya itu bekerja sejak pukul 8 pagi hingga 6 sore. Meski tidak banyak, namun dari pekerjaannya itu ia mampu meraup Rp 100 ribu per hari. Tarif per sepatu sendiri ia patok di harga Rp 25 ribu. Kecuali tas, tarifnya dihitung per resleting.
Pandemi COVID-19 sendiri kata membuat Mohamad harus berjuang keras. Sebab, ia mesti menghidupi keluarganya di rumah. Cerita dia, karena virus corona, pendapatannya turun dan hanya mencapai Rp 50 ribu saja sehari. Itupun tak setiap hari.
Tidak hanya itu, Ia menuturkan sebuah sepeda motor miliknya pun rela dijual, demi memenuhi kebutuhan istri dan ketiga anaknya.
“Semenjak corona, ekonomi (sangat) menipis, (padahal) kebutuhan sehari-hari memang dari sini,” ujarnya, Sabtu pagi (24/7/2021).
Meski bekerja di bawah teriknya panas matahari, tangannya tidak berhenti menjahit. Bahkan sesekali ia tidak terhindar dari sengatan matahari, dan itu ia rasakan selama kurang lebih empat jam–dari tepat matahari diatas kepala pukul 12.00 siang hingga selesai salat Ashar.
Sebelumnya Mohamad memiliki tempat yang cukup nyaman di depan Pasar Sentral, namun karena adanya relokasi pedagang akibat pembangunan, ia mesti berpeluh mencari tempat lain. Sebab, di tempat sebelumnya menjadi sunyi pelanggan.
“ iyo, (sengatan sinar matahari itu) dari jam 12. (Tapi, meski begitu) mancari tidak boleh mengenal panas dan dingin,” katanya tersenyum sembari menjahit sepatu pelanggannya.
Ia mengungkapkan, pekerjaannya tersebut mulai digeluti sejak tahun 2013, karena itu, ia memperoleh beberapa pelanggan, yang selalu menemui jika sedang ingin menjahit sepatu.
“Rezeki tidak akan tertukar, Alhamdulillah kalau sekarang-sekarang, (pendapatannya) lumayan sudah Rp 100 ribu lebih,” tuturnya.
Kisah yang sama juga dibagikan oleh Abdul, seorang penjahit sepatu yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat Mohamad Lamusu. Kepada dulohupa.id ia menceritakan, bahwa sejak pandemi Covid-19, terlebih dengan diberlakukannya PSBB dan kemudian PPKM, pendapatannya menurun.
Penyebabnya karena jam kerjanya yang terpotong dengan pemberlakuan pembatasan masyarakat tersebut. Dari yang harusnya ia mampu meraup 150 ribu per hari, dengan pembatasan itu, kini hanya Rp 75 ribu.
“Semuanya dibatasi, Pak. Jadi pelanggan juga berkurang saat ini. Pendapatan juga tentu berkurang,” ungkap Abdul sambil menyelesaikan pekerjaanya.
Meski begitu, lebih baik sedikit menderita seperti itu. Daripada tidak sama sekali. Ia pun mengaku setuju dengan langkah pemerintah untuk membatasi mobilitas, supaya penyebaran virus ini mampu dihentikan.
“Karena jika tak dikendalikan virus ini, bisa jadi saya atau keluarga saya yang kena. Gak apa-apa penghasilan berkurang sedikit, asal virus ini selesai saja. Itu saja yang saya harapkan, Pak.” ungkap Abdul.
Menurut Abdul, masyarakat saat ini hanya perlu untuk bersabar sedikit saja, agar bisa menikmati kebebasan yang lebih banyak. Karena jika tidak, virus ini akan terus ada, dan kebijakan yang mencekik akan terus diterapkan. Sebab virus masih mewabah.
“Percaya, kalau saja kita mau dengarkan pemerintah, mungkin tidak akan seburuk ini virus ini. Saya tidak perlu menerima kondisi tidak ada pelanggan dalam waktu yang lama seperti ini.” tutup Abdul.
Abdul sendiri katanya, meski harus bekerja di luar, namun mengaku belum tertular virus Covid-19. Keluarganya pun tidak. Hal tersebut karena ia disiplin protokol kesehatan.











