Untuk Indonesia

Pedagang Pohon Cinta Protes Karena Dipaksa BKD Pasang Alat Perekam Transaksi

Dulohupa.id- Sejumlah pedagang di kawasan wisata Pohon Cinta Marisa, memprotes Badan Keuangan Daerah (BKD) karena memaksa mereka menggunakan alat perekam transaksi untuk penarikan pajak. 

Seorang pedagang kepada dulohupa.id mengaku, bahwa awalnya pemasangan alat tersebut hanya sebagai uji coba. Namun kini BKD melakukan pengancaman penutupan rumah makan, jika tidak memasang alat tersebut. 

Lebih membuat emosi pedagang lagi, bahwa BKD seakan menutup mata terhadap kondisi mereka yang serba sulit di tengah pandemi Covid-19. Misalnya BKD yang menuduh pedagang  bermain curang, padahal memang alat tersebut tidak mencatat transaksi dalam beberapa hari karena memang rumah makannya tutup. 

“Awalnya ini alat hanya sebagai uji coba, dan kita juga sudah menyetor pajak, akan tetapi pada saat alat ini tidak dipergunakan, karena warung saya sering tutup, tiba-tiba tim yang turun kelapangan mengancam akan menutup rumah makan saya,” ujarnya, kesal. 

Selain itu, seorang pedagang lainnya mengungkapkan, bahwa ancaman penutupan rumah makan mereka oleh BKD, tidak diawali dengan surat peringatan. la merasa kaget tiba-tiba usaha rumah makannya sudah terancam ditutup.

“Sebelumnya tidak ada surat peringatan, tiba-tiba mereka mau menutup tempat saya, bahkan surat peringatan tersebut ada pada saat mereka sudah turun lapangan, ini kan membuat kita bingung. (apalagi) pemasangan alat sistem online wajib pajak juga ini terpasang tidak secara menyeluruh di semua tempat usaha,” sambung dia. 

Sementara itu, Suslana Wuso, Plt Kepala Bidang Penetapan dan Pencegahan BKD Pohuwato mengaku, bahwa memang pihaknya secara rutin turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan alat perekam transaksi. Hal itu kata Suslana, untuk melihat apakah alat tersebut dipasang dengan baik atau ada kendala penggunaannya. 

Namun katanya, saat timnya melakukan sidak, justru menemukan bahwa banyak tempat usaha yang justru melepas alat tersebut, atau menggunakan alat dengan tidak maksimal. Salah satunya rumah makan di Pohon Cinta. 

“Hampir seluruh rumah makan dalam menggunakan alat tersebut tidak digunakan dengan maksimal, dan ada beberapa laporan bahwa tiap pengunjung yang makan di tempat tersebut (Pohon Cinta) tidak diinput dalam alat tersebut,” sambung dia. 

Tak hanya itu, Suslana mengaku karena sudah ada surat teguran dan laporan-laporan dari beberapa orang, sehingga pada saat timnya turun lapangan terbawa emosi dan bersitegang dengan pemilik usaha rumah makan di Pohon Cinta. 

“Mungkin semalam itu, karena tim di lapangan sering ketemu, dan dihubungi lewat telepon, dan pemilik usaha banyak alasan, dan juga sudah diberikan beberapa kali teguran, maka pada saat tim turun lapangan sempat bersitegang dengan pemilik usaha tersebut,” ungkap dia. 

Ia mengaku, bahwa alat itu diawasi oleh tim IT. Mereka bisa melihat alat tersebut digunakan untuk apa. Menariknya, rupanya di sejumlah tempat usaha, alat itu hanya digunakan untuk mengakses internet yang tak ada hubungannya dengan perekaman transaksi. Buntutnya, data internet dalam alat itu, cepet habis. 

“Ini bahkan ada kedapatan, beberapa tempat usaha yang sudah terpasang alat tersebut, baru dua minggu kuotanya sudah habis, dan dilihat oleh tim IT, alat tersebut bukan hanya dilakukan untuk transaksi, akan tetapi juga dilakukan untuk membuka internet dan membuka youtube,” tutupnya.

Reporter: Hendrik Gani

Comments are closed.