Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEPERISTIWA

Oknum Dosen UNG Intimidasi Mahasiswa saat Berunjuk Rasa

×

Oknum Dosen UNG Intimidasi Mahasiswa saat Berunjuk Rasa

Sebarkan artikel ini
Dosen Intimidasi Mahasiswa
Penggalan Video yang memperlihatkan seorang oknum dosen Universitas NegeriGorontalo (yang Gondrong) melakukan tindakan intimidasi kepada masa aksi/Ist

Dulohupa.id – Beredar Video yang memperlihatkan seorang oknum Dosen di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengintimidasi sejumlah mahasiswa saat melakukan unjuk rasa saat pelaksanaan Wisuda UNG, Sabtu (25/2/2023).

Dalam video, salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial UNG nyaris memukul mahasiswa. Bahkan intimidasi itu dilakukan oknum dosen dihadapan Rektor UNG dan ratusan orangtua mahasiswa yang menghadiri wisuda.

Kejadian itu bermula saat Rektor UNG, Eduart Wolok mempertanyakan aksi para mahasiswa yang dinilai tidak tepat karena bersamaan pelaksanaan wisuda. Sehingga sejumlah pihak termasuk oknum dosen berambut gondrong itu terpancing emosinya.

Peristiwa ini menjadi sorotan dari berbagai pihak, salah satunya Ali Sahap merupakan alumni Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG.

Ali menilai perbuatan oknum dosen tidak pantas diperlihatkan dan dipertontonkan. Menurutnya tindakan itu sangat tidak mencerminkan nilai-nilai kebaikan yang ada pada setiap pendidik, terlebih itu terjadi dilingkungan kampus.

“Tindakan seperti ini adalah tindakan “premanisme” yang tidak bisa dibiarkan terus menerus menghantui kampus UNG. Terlebih untuk menakut-nakuti mahasiswa yang akan melaksanakan unjuk rasa,” ucap Ali.

“Saya pribadi juga menilai bahwa adik-adik mahasiswa yang melakukan unjuk rasa tersebut telah keliru menentukan waktu untuk menyampaikan pendapat tetapi harus juga ditegur dan dibina secara baik-baik,” sambungnya.

Alumni UNG
Alumni Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo, Ali Sahap.

Ali mengatakan bahwa dirinya sebagai alumni UNG, terkhusus yang pernah belajar di Penjaskesrek, namun dosen-dosen yang punya Basic tinju, silat, karate dan lain-lain, ketika marah besar, tidak melakukan hal yang sama seperti yang dipertontonkan oleh oknum dosen dalam video tersebut.

“Saya mendapat informasi bahwa dosen yang bersangkutan merupakan dosen di Ilmu Komunikasi. Kalau memang betul, maka harusnya beliau tahu bagaimana berkomunikasi dengan baik. Menyelesaikan setiap problem dengan cara-cara yang baik pula, bukan gaya premanisme seperti itu,” Tegasnya.

Disisi lain, Ali Sahap turut memberikan apresiasi yang besar kepada Rektor UNG. Meskipun Rektor marah-marah, kata Ali, masih bisa mengontrol emosi, dan memberikan contoh yang baik mahasiswanya.

Dengan adanya persoalan ini, Ali berharap kepada Rektor UNG untuk melakukan pembinaan dan teguran keras pada dosen-dosen yang berprilaku seperti preman.

“Bukan hanya mahasiswa yang dibina, tapi dosen juga harus dibina,” pungkasnya.

Sebelumnya pelaksanaan Wisuda Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) diwarnai Aksi Unjuk Rasa, Sabtu (25/2/2023) siang.

Aksi tersebut merupakan buntut dari persoalan pemilihan presiden BEM 2023 yang dinilai bermasalah. Sehingga sejumlah mahasiswa menyampaikan tuntutan kepada Rektor UNG pada momentum Wisuda.

Namun, aksi tersebut justru dinilai tidak tepat sebab dinilai menganggu pelaksanaan wisuda dan menyulut emosi beberapa pihak yang merasa dirugikan dengan aksi sejumlah mahasiswa.

Melihat hal itu, Rektor UNG Eduart Wolok merasa kecewa dengan adanya aksi yang dilakukan dihadapan ratusan orang tua mahasiswa yang menghadiri gelaran wisuda.

“Dihadapan orang tua wisudawan, saya dianggap tidak bisa mendidik kalian, apakah saya pernah mengajarkan kalian seperti ini? Untung bukan orang tua wisudawan yang protes,” Tegas Rektor UNG dihadapan massa aksi.

Redaksi