Untuk Indonesia

Mendagangkan Merkuri di Gorontalo, Dua Pria Diringkus Intelkam Polda Gorontalo

Dulohupa.id- Personel Direktorat Intelkam Polda Gorontalo membekuk dua pria yang diduga melakukan perdagangan bahan berbahaya dan beracun (B3) jenis merkuri di Gorontalo.

Kedua pria tersebut adalah FA (26) asal Desa Hulubalang, Kecamatan Palele Barat, Kabupaten Buol profesi sebagai penambang dan AM (43) asal Desa Lokodoka, Kecamatan Gadung, Kabupaten Buol profesi sebagai petani.

Dalam konferensi pers siang tadi, Rabu (27/1) Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Wahyu Tri Cahyono mengungkapkan, bahwa penangkapan kepada kedua pelaku tersebut berdasarkan informasi yang diberikan masyarakat.

“Untuk kronologis penangkapan atas dasar informasi masyarakat yang mana ada transaksi besar (transaksi merkuri) akan masuk ke Provinsi Gorontalo dari Kecamatan Buol,” ungkap Wahyu.

Berdasarkan informasi terhadap transaksi tersebut, pihaknya kata Wahyu lantas bergerak dan mulai menyelidiki kebenaran informasi itu. Dan benar saja, saat melakukan penyidikan, pihaknya berhasil melakukan penangkapan terhadap pelaku FA, dan menemukan sejumlah merkuri di rumahnya.

“Berdasarkan keterangannya (FA), mineral jenis merkuri tersebut adalah milik I dan A, yang berada di Kota Seram, Maluku Utara. Dari hasil introgasi kepada pelaku FA, mineral jenis merkuri tersebut diperintahkan I untuk dijualkan kepada seseorang yang bernama IN, dengan harga Rp 1.050.000,- per botol. Yang mana I menjanjikan kepadanya, akan diberi uang jalan Rp 500 ribu apabila telah menjual 60 botol mineral jenis merkuri tersebut,” ujarnya.

Lanjut Wahyu, dari pengakuan pelaku, mereka baru kali ini melakukan hal ini. Keduanya pun belum sempat menjual barang berbahaya tersebut.

Adapun dalam kasus tersebut, personel Direktorat Intelkam Polda Gorontalo mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya 60 botol mineral jenis merkuri, 1 unit Hp merk Vivo Y12 warna hitam milik FA, dan satu unit handphone merk Nokia type RH-93 warna hitam milik AM.

“Untuk kedua pelaku akan dikenakan pasal 161 Undang-Undang nomor 3 tahun 2020 atas perubahan terhadap Undang-Undang nomor 4 tahun 2009, tentang Pertambangan Minerba, dengan ancaman hukuman terhadap kedua pelaku adalah maksimal 5 tahun penjara,” pungkasnya.

Merkuri sendiri adalah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dilarang di seluruh dunia berdasarkan Konvensi Minamata untuk Merkuri. Indonesia meratifikasi konvensi ini pada 19 Oktober 2017 dan diperkuat melalui Undang-undang No.11/2017 tentang Pengesahan Konvensi Minamata tentang merkuri.

Reporter: Fandiyanto Pou

Comments are closed.