Gorontalo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memberdayakan masyarakat Desa Tulabolo Barat, Kecamatan Tulabolo Barat, Kabupaten Bone Bolango untuk kembangkan produk turunan Sorghum.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Karlena Arsyad, S.Pd., M.AP menjelaskan, pengolahan produk turunan sorghum ini dilakukan langsung oleh ibu-ibu masyarakat Desa Tulabolo Barat, serta dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa KKN MBKM.
Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala Desa Tulabolo Barat yaitu Erikstepen Lingude, S.Pd.I., M.Pd, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai sorghum oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yaitu Zulham Sirajuddin, Ph.D dan Mohammad Zubair Hippy, SE., M.Pd., M.Si dan dilanjutkan dengan pelatihan olahan produk turunan sorghum yang didampingi pula oleh DPL lainnnya yaitu Karlena Arsyad, S.Pd., M.AP dan Dr. St. Aisyah R., S.Pt., M.Si.



Karlena Arsyad memaparkan, Budidaya sorghum dan diversifikasi produk telah menjadi perhatian di sektor pertanian karena keserbagunaan sorghum dan potensinya untuk mengatasi berbagai tantangan pertanian dan pangan. Sorgum dikenal karena kemampuan adaptasinya terhadap beragam kondisi agroklimat.
Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah kering dan semi kering, menjadikannya tanaman penting di daerah yang kekurangan air. Sorghum secara inheren tahan terhadap kekeringan, menjadikannya tanaman yang tangguh di daerah yang rentan terhadap kekurangan air.
“Karakteristik ini berkontribusi terhadap ketahanan pangan di daerah yang pola curah hujannya tidak menentu, misalnya di Desa Tulabolo Barat,” ujar Karlena.
Baca Juga: Mahasiswa KKN UNG Sosialisasikan Budidaya Veltikultur dan Budikdamber
Lanjutnya, Sorgum merupakan bahan baku potensial untuk produksi biofuel. Hasil biomassanya yang tinggi dan kemampuannya untuk tumbuh di lahan marginal menjadikannya kandidat untuk inisiatif bioenergi. Sorgum merupakan makanan pokok di banyak belahan dunia, terutama di Afrika dan Asia. Sorghum digunakan untuk membuat berbagai produk makanan seperti tepung sorgum, bubur, roti pipih, dan makanan tradisional seperti di Nusa Tenggara Barat.
Selain itu, minuman berbahan dasar sorgum semakin populer di pasar yang sadar kesehatan karena kandungan nutrisi dan bebas glutennya. Sorgum juga merupakan komponen pakan ternak yang berharga, menyediakan nutrisi bagi ternak. Penggunaannya dalam formulasi pakan berkontribusi terhadap produksi ternak yang berkelanjutan. Batang sorgum dan ampas tebu dapat digunakan untuk menghasilkan produk yang dapat terurai secara hayati seperti bahan kemasan dan peralatan makan sekali pakai, sehingga berkontribusi terhadap alternatif yang ramah lingkungan.
Penelitian mengenai sorghum saat ini berfokus pada pengembangan varietas sorgum dengan sifat-sifat yang ditingkatkan, seperti peningkatan hasil, ketahanan terhadap hama dan penyakit, dan peningkatan kandungan nutrisi.
Dalam kegiatan di Desa Tulabolo Barat, varietas yang digunakan adalah varietas Numbu yang dihasilkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk membantu petani meningkatkan hasil panennya. Budidaya sorghum sejalan dengan beberapa SDG, termasuk meminimalisir kelaparan dan stunting, sebagai bagian dari aksi iklim, dan pertanian berkelanjutan.
“Kemitraan dan kolaborasi dalam kegiatan ini antara tim pelaksana dari UNG dan Desa Tulabolo Barat bertujuan untuk berbagi pengetahuan, praktik terbaik, dan teknologi terkait budidaya sorgum, sehingga memberikan manfaat bagi petani dan masyarakat lainnya di Desa Tulabolo Barat,’ jelas Karlena.
Oleh karena itu, budidaya sorgum dan diversifikasi produk memainkan peran penting dalam mengatasi ketahanan pangan, keberlanjutan, dan pembangunan ekonomi di Desa Tulabolo Barat. Praktik inovatif dalam kegiatan ini berkontribusi untuk membuka potensi penuh sorgum dalam beragam aplikasi pertanian dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Menengah (UMKM).
“Produk turunan yang dibuat di antaranya makanan Sorghum Siram, Sorba, kue onde-onde, dan pisang goreng. Semua produk ini diolah dengan menggunakan sorghum, baik yang berbentuk biji maupun tepung,” lanjut Karlena.




Pelatihan ini merupakan salah satu metode peningkatan kapasitas sorgum di masyarakat dalam aspek pengolahan dengan melibatkan aspek penting lainnya, diantaranya adalah menerapkan SSOP dan GMP selama pelatihan serta mengangkat kembali nilai pangan lokal di tengah masyarakat.
“Yang diharapkan dapat menjadi acuan produk dalam melaksanakan kegiatan UKM yang didukung oleh perangkat desa terkhusus Desa Tulabolo Barat,” pungkasnya.
Dulohupa – KKN MBKM Agribisnis











