Scroll Untuk Lanjut Membaca
BOALEMOFeatureHEADLINEKESEHATAN

Kisah Pilu Bocah Kelamin Ganda di Gorontalo, Butuh Biaya Pengobatan

×

Kisah Pilu Bocah Kelamin Ganda di Gorontalo, Butuh Biaya Pengobatan

Sebarkan artikel ini
Bocah Kelamin Ganda
Petugas Polsek Botumoito saat menemui seorang bocah yang memiliki kelamin ganda. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Seorang bocah di Gorontalo yang didiagnosis memiliki kelamin ganda (Ambiguous Genitalia) sejak lahir membutuhkan biaya pengobatan. Sang bocah diketahui berusia 10 tahun berinisial JK yang merupakan warga Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Kondisi JK sebelumnya disarankan agar segera dilakukan pemeriksaan di rumah sakit. Namun karena keterbatasan biaya, JK hingga saat ini belum sama sekali diperiksa petugas medis.

Siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar tersebut saat ini tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah bantuan pemerintah yang berukuran 7×9 meter berdinding papan di Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

“Memang sudah sejak lahir begitu. Sewaktu lahir, petugas Puskems bilang tunggu beranjak dewasa, tapi sampai dia umur 10 tahun bentuk kelaminnya tetap seperti itu, tidak ada perubahan. Tidak ada biaya untuk diperiksa,” ujar Lian Kaidin selaku bibi dari JK.

Keterbatasan ekonomi membuat sejumlah petugas Polsek Botumoito simpati dan berupaya memfasilitasi dengan menghubungi puskesmas setempat untuk segera mendapat penanganan petugas kesehatan.

Dari hasil pemeriksaan pihak puskesmas Botumoito melalui dokter spesialis anak mengindikasi bahwa, bocah JK mengidap ambiguous genitalia atau kelainan kelamin ganda.

“Sudah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis anak dan hasil didiagnosis sementara anak tersebut mengalami ambiguous genitalia, hal ini akan didalami lagi dan akan diperiksa lagi secara spesifik,” kata Kepala Puskesmas Botumoito, Isra Rahmawati Saripi

Saat ini JK dianggap seorang anak laki-laki oleh kedua orang tuanya, kerabat maupun teman-temannya.

Keluarga berharap ada uluran tangan untuk membantu JK, sehingga jenis kelaminnya bisa segera ditentukan agar kelainan yang dialaminya tidak mempengaruhi kondisi psikologi saat ia dewasa nanti.

Redaksi