Dulohupa.id – Kenaikan harga rokok kembali memicu polemik di kalangan masyarakat, terutama bagi para perokok yang menganggap rokok sebagai kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah telah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT), yang berdampak signifikan pada harga jual eceran rokok di pasaran.
Harga rokok saat ini berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per bungkus. Di Gorontalo, harga rokok putih seperti Marlboro bahkan mencapai Rp50.000 per bungkus di beberapa swalayan. Kenaikan ini jauh melebihi harga beberapa bahan pokok yang juga menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Kenaikan ini jauh melebihi harga beberapa bahan pokok yang juga menjadi kebutuhan utama masyarakat. Bagi sebagian masyarakat, rokok telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas sehari-hari.
Untuk Untuk memberikan perspektif yang lebih jelas mengenai dampak kenaikan harga rokok, berikut perbandingan dengan harga bahan pokok:
-Beras: Rp15.000 per kilogram.
-Minyak Kelapa: Rp18.000 per kilogram.
-Bawang Merah: Rp60.000 per kilogram.
-Bawang Putih: Rp50.000 per kilogram.
-Cabai (Rica): Rp70.000 per kilogram.
-Telur: Rp2.200 per butir atau Rp65.000 per bak.
-Bensin: Rp10.000 per liter, sedangkan harga eceran Rp12.000 hingga Rp14.000 per liter.
-Gas LPG 3 kg: harga pangkalan Rp18.000 sedangkan harga eceran Rp25.000.
-Solar : Rp6.800 per liter
Kenaikan harga rokok ini tentunya tidak hanya berdampak pada para perokok, tetapi juga menimbulkan berbagai dampak sosial dan ekonomi. Bagi sebagian masyarakat, rokok adalah bagian tak terpisahkan dari rutinitas sehari-hari.
Kenaikan harga yang signifikan ini memaksa mereka untuk mengalokasikan anggaran yang lebih besar, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya beli untuk kebutuhan pokok lainnya, karena merasa terbebani dengan kenaikan ini, mengingat penghasilan mereka yang pas-pasan.
“Rokok sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi saya. Dengan kenaikan harga ini, saya harus mengurangi pembelian rokok dengan membeli rokok eceran” ujar Abdul M. Duhe, seorang perokok aktif di kota Gorontalo saat diwawancarai.
Reporter: Indah












