Untuk Indonesia

Keluarga Ambil Paksa Jenazah Pasien COVID-19 di RSAS Gorontalo

Dulohupa.id- Keluarga mengambil paksa jenazah pasien COVID-19 di Rumah Sakit Aloe Saboe (RSAS) Gorontalo. Pasien asal Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara ini sebelumnya dinyatakan positif COVID-19 berdasarkan hasil rapid antigen.

Adapun pengambilan paksa terhadap jenazah ini sempat terekam jelas dengan kamera CCTV rumah sakit tersebut. Dalam video itu terlihat, bagaimana aksi adu mulut keluarga jenazah dengan petugas rumah sakit, sebelum akhirnya membawa jenazah tersebut menggunakan mobil tanpa menggunakan prosedur penanganan jenazah pasien positif COVID-19.

Kepala Sub Bagian Informasi RSAS Gorontalo mengungkapkan, bahwa pengambilan paksa tersebut karena pihak keluarga menolak jenazah tersebut dibawa menggunakan prosedur penanganan jenazah pasien COVID-19. Padahal kata dia, penanganan jenazah sesuai prosedur COVID-19 itu untuk mencegah risiko penularan virus corona tersebut. Apalagi sebelum meninggal, pasien tersebut sementara menjalani perawatan di ruangan isolasi COVID-19.

Meski kemudian pada swab test pertama ia diketahui negatif, namun sesuai prosedur, ia baru bisa dikatakan bebas COVID-19 jika pada swab test kedua tetap negatif. Sementara, pasien itu meninggal sebelum hasil swab test tersebut keluar.

“Yang jelas kita sebagai pihak rumah sakit, kewajiban kita menyampaikan bahwa (hasil) PCR pertama betul negatif. Tapi sebelum meninggal pagi itu, sempat diambil sampel untuk di-swab kedua, cuma kan PCR kedua ini ditunggu dua atau tiga hari,” ungkap Sumardin Suratinoyo di ruang kerjanya, Rabu (10/2).

Secara singkat Sumardin mengungkapkan kronologi dari pengambilan paksa jenazah tersebut. Menurutnya, saat itu pihak yang menangani jenazah sementara berkoordinasi dengan kepolisian dan satpol PP, namun keluarga melewati pintu belakang untuk mengambil paksa jenazah.

“Karena mereka (pihak keluarga jenazah) bawa, kita tidak tahu mereka bawa. Kita lagi dengan polisi tiba-tiba mereka lewat pintu depan sementara kita berada di depan kamar mayat  dengan satpol dan polisi. Tiba tiba jenazah mereka sudah bawa dan tidak melalui kamar mayat” katanya.

Makanya kata Sumardin, untuk mencegah tidak terjadi kembali pengambilan paksa jenazah, pihak RSAS akan lebih memperketat pengawasan di semua ruangan isolasi COVID-19.

Saat ini, setelah jenazah pasien COVID-19 tersebut dibawa, redaksi dulohupa.id mendapat informasi bahwa hasil swab kedua dari pasien tersebut, negatif.

Meski begitu kata Sumardin, bahwa “Siapa yang bertanggung jawab kalau hasilnya tiba-tiba positif, sementara pihak keluarga sudah mengambil melakukan salat jenazah dan memandikan tanpa protokol COVID,” tutup Sumardin.

Reporter: Abdi

Comments are closed.