Scroll Untuk Lanjut Membaca
KESEHATANNASIONALPEMPROV GORONTALO

Gorontalo Duduki Peringkat Tiga Kasus Pernikahan Dini

461
×

Gorontalo Duduki Peringkat Tiga Kasus Pernikahan Dini

Sebarkan artikel ini
Pernikahan Dini
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dr Yana Yanti Suleman (kiri).

Dulohupa.id – Fenomena pernikahan diusia dini menjadi salah satu fenomena yang kerap terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Di Provinsi Gorontalo sendiri, kegiatan menikah di usia muda tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data tahun 2023, Gorontalo Duduki Peringkat Ke-3 kasus Pernikahan Dini dengan mayoritas masyarakatnya menikah di usia muda pada rentan umur 18 tahun.

“Jadi pernikahan dini itu berarti tidak sesuai dengan undang-undang perkawinan yang terbaru, dimana ditegaskan bahwa anak-anak itu sebelum berusia 18 tahun belum bisa menikah, provinsi Gorontalo termasuk 5 besar yaitu di urutan ke-3 pernikahan anak” ujar dr. Yana Yanti Suleman selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Jumat (05/04/2024)

dr. Yana juga mengatakan mereka telah melakukan berbagai upaya untuk pencegahan pernikahan anak atau pernikahan dini

“Yang pertama adalah memastikan seluruh desa di provinsi Gorontalo adalah desa ramah perempuan dan peduli anak, ketika desa ramah perempuan dan peduli anak berarti perempuan-perempuan di desa itu sadar bahwa tidak boleh menikahkan anaknya, perempuan itu harus speak up ketika ketika dia mau dinikahkan oleh orang tuanya karena ketika seorang anak dipaksa menikah oleh orang tuanya harusnya itu masuk pidana” ujar dr. Yana

“Yang selanjutnya adalah kita melakukan namanya pengarusutamaan gender, nah ketika pengarusutamaan gender kita memastikan gender dalam hal ini kan gender bukan harus perempuan dan laki-laki tapi bagaimana anak-anak, orang lansia, kemudian kelompok rentan, disabilitas gitu. Nah bagaimana kelompok-kelompok yang termarjinalkan ini yang kemudian menjadi objek”

“Misalnya ketika seorang perempuan yang diperkosa atau hamil kemudian dipaksa menikah atau dia sendiri melakukan seks bebas kemudian dipaksa menikah itu menurun kejadiannya, tentunya angka perkawinan anak juga akan menurun, berarti seks bebas harusnya turun, kejadian kekerasan seksual dan pemerkosaan turun sehingga perkawinan anak tentu harusnya turun” sambungnya.

Tak hanya mendapatkan peringkat Ke-3 Kasus Pernikahan Dini, Gorontalo juga duduki peringkat ke-2 terburuk Kasus Pengasuhan Anak

“Nah ingat, pengasuhan anak provinsi Gorontalo juga raport merah ia terburuk ke-2 se-Indonesia pengasuhan anak termasuk itemnya adalah memberikan ASI” Ujar dr. Yana

“Tentunya ini tidak semudah membalik telapak tangan apalagi provinsi Gorontalo yang sudah terbiasa menikahkan anak begitu saja, ketika kita menikahkan anak toh pestanya besar-besaran, maka itu butuh kolaborasi dan komitmen dari semua pihak mari kita jangan mendukung pernikahan anak ini seakan-akan body language bahasa tubuh kita membolehkan anak menikah dengan hadir dengan membuat tenda besar-besaran padahal yang menikah anak seharusnya tidak, jangan didukung. Tambahnya.

Dr. Yana juga berharap pernikahan anak ini tidak dilakukan dengan berbagai alasan

“Jadi harapan saya tentunya tidak dilakukan, tapi bagaimana ketika mereka tidak melakukan tapi persepsi mereka berbeda, toh sudah tahu bakupas bawang sudah menikah saja, jadi persepsi-persepsi itulah atau sudah tidak bisa kami biayai jadi menikah saja supaya orang lain yang membiayai. Jadi alasan-alasan ekonomi, alasan sosial budaya, alasan pendidikan banyak alasan orang tua kami sudah laporkan ke Ibu ketua penggerak PKK, kami akan melaksanakan webinar series karena sepertinya di Gorontalo butuh tentang informasi penting terkait tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak”pungkasnya.

Reporter: Indah