Scroll Untuk Lanjut Membaca
LINGKUNGAN

Dukung Kegiatan Japesda, Pemprov Sulteng Akan Bangun Kolaborasi Pengelolaan Gurita

×

Dukung Kegiatan Japesda, Pemprov Sulteng Akan Bangun Kolaborasi Pengelolaan Gurita

Sebarkan artikel ini
Nelayan Gurita/Doc Japesda

Potensi perikanan di Sulteng sebetulnya memang tidak main-main. Bupati Banggai, Erwin Yatim menuturkan, bahwa baru-baru ini Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah melakukan mengekspor 20,5 ton atau senilai Rp1,1 miliar hasil perikanan ke Meksiko. Menurut Erwin, ini merupakan potensi besar dan kebanggaan Kabupaten Banggai.

“Marilah kita serius menjaga dan mengelola wilayah kita yang sangat besar potensinya (ini). Bersama-sama kita bersinergi bersama masyarakat pesisir, pemerintah desa hingga provinsi,” terang Bupati.

Sedangkan gurita sendiri merupakan sumber daya perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.  Mayoritas penangkapnya yaitu nelayan skala kecil dan tradisional. Meski begitu, informasi mengenai produksi gurita sangat minim. Hal inilah yang menjadi salah satu fokus utama Japesda.

“Setiap hari, kami melakukan pendataan mulai dari jumlah tangkapan nelayan, bobot hingga jenis kelamin gurita. Data-data ini kemudian kami kembalikan ke nelayan, dan didistribusikan ke pemerintah,” kata Direktur Japesda, Nurain Lapolo.

Nurain melanjutkan, semua data dan informasi yang dihimpun Japesda dikembalikan kepada nelayan, agar mereka bisa menentukan dan memutuskan sendiri bagaimana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, agar tetap bisa dinikmati anak cucu mereka kelak.

Sebagai mitra Japesda, perwakilan Yayasan Pesisir Lestari(YPL), Rayhan Dudayev menerangkan soal pendekatan YPL yang menjadikan konservasi itu menjadi masuk akal dan tidak meminggirkan masyarakat.

“Kita mau masyarakat itu menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sumberdaya. Harapannya, dengan model yang kita lakukan, konservasi ini akan mendapatkan insentif ekonomi kepada masyarakat,” kata Rayhan.

Lokakarya berlangsung kurang lebih enam jam. Ada banyak interaksi dari peserta lokakarya selama diskusi berlangsung, termasuk dari pihak akademisi, perwakilan perusahaan perikanan hingga nelayan. Salah seorang nelayan dari Desa Uwedikan, Basir Abudia menjadi pemberi testimoni kegiatan Japesda di Desa Uwedikan selama hampir setahun terakhir.

“Kami tertarik. Kami merasakan dan melihat sendiri apa yang mereka kerjakan,” ujar Basir.

Redaksi