Dua Pesepeda asal Gorontalo Menuju Mekkah selama 14 Bulan, Begini Kisahnya!

oleh -64 Dilihat
Pesepda ke Mekkah
Andi Harvin Thalib dan Chairul Ma'atani (yang duduk) saat tiba di Gorontalo. (Foto: Eki/Dulohupa)

Dulohupa.id – Andi Harvin Thalib dan Chairul Ma’atani, dua pemuda asal Gorontalo sempat menjadi perhatian publik karena melakukan perjalanan menggunakan sepeda menuju tanah suci Mekkah, Arab Saudi.

Mereka sukses menempuh perjalanan selama 14 bulan dengan niat untuk menunaikan haji. Keduanya tiba di Mekkah, usai melintasi enam negara yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Oman, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Pada awal Bulan Juni 2021 lalu, dua pesepeda itu megambil titik start dari jalan nani Wartabone, Kota Gorontalo dengan bertajuk Petualangan Pemuda Muslim (Muslim Youth Journey).

Memulai perjalanan, keduanya menjajal pulau Sulawesi selama dua bulan hingga mereka tiba di Makassar. Selama perjalanan, mereka kerap bermalam di masjid-masjid yang mereka jumpai.

“Saya hanya memiliki uang 200 ribu waktu itu, tapi alhamdulilah dari berbagai pihak maupun komunitas banyak yang membantu kami selama perjalanan. Tidak ada sponsor utama, cuman alhamdulillah banyak teman-teman yang membantu kami,” kata Andi dan Chairul usai tiba di Gorontalo, Sabtu (24/9/2022).

Andi mengakui banyak tantangan yang dihadapi selama perjalanan karena pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) pandemi Covid-19 saat memasuki pulau Jawa.

“Di Pulau Jawa kami harus mematuhi aturan dengan melengkapi administrasi agar bisa melintasinya, Alhamdulillah bisa masuk,” tuturnya.

Selama di Pulau Jawa, Chairul sempat sakit karena kelelahan. Warga Tolangohula, Kabupaten Gorontalo itu sempat drop selama sebulan.

“Alhamdulillah dengan pertolongan Allah, kondisi Chairul membaik dan kami melanjutkan perjalanan menuju pulau Sumatera dari pelabuhan Merak menuju Lampung,” imbuh Andi.

Di Pulau Sumatera, Andir dan Chairul melakukan perjalanan selama tiga bulan hingga mereka bisa memasuki Singapura.

“Pasti banyak tantangan, salah satunya ban sepeda bocor dan rantainya patah, jadi banyak kali rusak. Tapi kami sudah membawa alat-alat untuk memperbaiki sepeda ,” kata Andi.

“Kami sebulan di Singapura dan tiba di Malaysia. Kami terus mengejar waktu selama di Malaysia karena izin tinggal hanya sebulan,” sambungnya.

Dari Malaysia, keduanya melanjutkan perjalanan menuju Thailand. Mereka mengaku sering dikejar anjing saat di Thailand.

“Alhamdulillah selama perjalanan tidak ada dari orang berniat jahat kepada kami, cuman di Thailand kami sering dikejar anjing. Karena banyak rumah yang kita lewati itu, ada anjingnya,” cerita Andi.

Dari Thailand, seharusnya mereka akan melintasi Myanmar dan India. Namun situasi Myanmar tengah konflik dan India tidak bisa dilalui karena tidak menerima visa elektronik. Akhirnya mereka memutuskan untuk naik pesawat menuju negara Oman dengan biaya penerbangan sekitar 7 juta rupiah.

“Selain Singapura, Oman juga paling mahal biaya kehidupan disana” ungkapnya.

Kemudian dari Oman ke Uni Emirat Arab, mereka sempat dihadang petugas perbatasan karena hanya memiliki visa penerbangan. Dengan sedikit kemampuan bahasa arab yang dimiliki keduanya, Andi dan Chairul melakukan negosiasi bersama petugas Uni Emirat Arab, sehingga diperbolehkan masuk.

Di Uni Emirat Arab, Andi dan Chairul sempat terhenti perjalanannya karena suhu panas di tanah arab, disertai gurun pasir yang harus dilalui. Mereka akhirnya menggunakan kereta api menuju Arab Saudi.

Tiba di Arab Saudi, mereka belum bisa mendapatkan visa haji meskipun telah meminta dukungan dari Kedutaan Besar Indonesia di Uni Emirat arab, Husin Bagis.

“Kami tidak bisa menunaikan haji karena kendala visa dan tidak bisa masuk daftar haji Indonesia. Kami akhirnya dibantu Travel di bandung, meskipun kami hanya bisa melaksanakan Umroh di Mekkah,” kata Andi.

“Alhamduliilah ini tekad kami. Meskipun jauh kami tidak berpikir untuk balik, kami hanya berpikir hal terburuk kita adalah kematian. Ketika berbicara kematian, kita harus siap dengan itu. Alhamdulillah hingga tiba di Gorontalo kami masih diberikan kesehatan,” pungkasnya.

(Eki/Dulohupa)