Dulohupa.id – Rahman Abdullah, orangtua dari MRA korban pengeroyokan di SMP Negeri 1 Limboto mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Senin (26/9/2022).
Ayah korban mendatangi dinas pendidikan untuk mengadukan peristiwa penganiayaan menimpa anaknya yang diduga dilakukan 6 kakak kelasnya di lingkungan sekolah.
Rahman juga mengadukan pihak sekolah yang dinilai tidak bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
“Dari pihak sekolah tidak ada penanganannya, tanggungjawab dari sekolah tidak ada. Bahkan tidak satupun guru dari sekolah tidak ada yang datang ke rumah, sedangkan anak saya sampai sekarang masih muntah darah,” ungkap Rahman kepada Dulohupa.
Ia menginginkan ada tindakan secara penuh dari pihak sekolah karena kejadiannya di dalam sekolah.
“Kami ingin pihak sekolah hanya tanggungjawab saja. Memang sekolah pernah memediasi, tapi orangtua pelaku akan membantu kami untuk mengobati anak saya, jika berkas laporan kami ke polisi ditarik,” ucap Rahman yang berprofesi tukang bentor tersebut.
Sementara pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo sudah menerima laporan dari pihak sekolah dan keluarga korban atas kejadian tersebut.
“Kami rencananya waktu dekat ini akan mengundang pihak korban dan siswa yang terlibat dugaan penganiayaan. Kami akan cari tahu dulu kejadian sebenarnya, dan akan berupaya untuk memediasi,” jelas Kasubag Kepegawaiaan Dikbud Kabupaten Groontalo.
Sebelumnya pihak SMP Negeri 1 Limboto berupaya memediasi kedua belah pihak yang bertikai untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun keluarga korban dengan tegas kasus itu akan dilaporkan kepada polisi.
“Kami sudah memberikan sanksi kepada peserta didik yang terlibat dengan skorsing 1 pekan. Kami juga berupaya membantu korban untuk berobat dan memediasi kedua belah pihak. Kelanjutannya kami hanya menunggu prosesnya bagaimana, karena sudah dilaporkan ke polisi,” kata kepala SMP Negeri 1 Limboto, Irwan DJ Podu.
Seperti diberitakan sebelumnya, MRA menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan 6 siswa SMP Negeri 1 Limboto yang merupakan kakak kelasnya. Korban yang duduk di kelas VIII itu dikeroyok hingga babak belur usai para siswa salat Zhuhur di Musholah sekolah pada Rabu (21/9/220) sekitar pukul 12.40 Wita.
Peristiwa bermula saat korban akan melaksanakan salat Zhuhur di Musholah, diminta para seniornya dari kelas IX memintanya untuk maju ke shaf depan. Namun permintaan itu ditolak korban.
Menurut korban, usai salat dirinya dipukul dan ditendang bebeberapa kali hingga terjatuh. Korban mengalami luka lebam di wajah dan cedera di bagian kepala.
Reporter: Enda/Dulohupa











