Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
NASIONAL

Disebut Mirip Kelelawar, Ternyata Ini Profil Istana IKN dan Makna Desain

×

Disebut Mirip Kelelawar, Ternyata Ini Profil Istana IKN dan Makna Desain

Sebarkan artikel ini
Istnana IKN
Penampakan Istana Kepresidenan IKN di Kalimantan Timur. Foto: Sekretariat Presiden.

Dulohupa.id – Sosial media diramaikan komentar warganet soal penampakan Istana Garuda IKN (Ibu Kota Negara Nusantara) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Netizen menyinggung penampilan sayap istana berwarna cokelat gelap sehingga menimbulkan kesan suram dan bahkan disebut seperti kelelawar hitam.

Selain itu, netizen juga menyoroti bangunan yang menyerupai Garuda mengepakkan sayap itu disebut mirip kelelawar lantaran warnanya hitam. Bahkan Istana Garuda dinilai beraura mistis karena menyerupai kerajaan siluman kelelawar.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana desain IKN merupakan hasil kreasi orisinal anak bangsa yang perlu diapresiasi.

“Kita harus bangga, desain Istana Garuda IKN merupakan karya orisinalitas anak bangsa yang menunjukkan rasa bangga dan percaya diri bangsa Indonesia dalam bidang pembangunan infrastruktur. Desain istana tersebut melibatkan 44 orang ahli, mulai dari profesor, doktor, ahli tanah, dan berbagai spesialis lainnya yang berkontribusi untuk memastikan bahwa desain istana tidak hanya indah, tetapi juga aman dan fungsional demi menciptakan aspek ketahanan bangunan yang akan menjadi simbol nasional,” Ujarnya.

Profil Istana Kepresidenan IKN & Makna Desain

Istana Kepresidenan IKN berdiri di wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Istana ini berdiri di lahan seluas 55,7 Ha dengan luas tapak mencapai 334.200 meter persegi.

Kompleks Istana Kepresidenan tersebut terdiri dari lapangan upacara, bangunan istana, bangunan kantor presiden, bangunan kantor sekretariat presiden, bangunan kantor staf khusus presiden.

Istana Kepresidenan IKN juga memiliki bangunan pavilion presiden, wisma negara, mess paspampres, masjid, museum, botanical garden, bangunan check point, dan bangunan-bangunan pendukung. Saat ini IKN masih proses perampungan.

Tinggi Istana Garuda di IKN mencapai 44 meter dari jalan dan 88 meter dari permukaan laut. Secara keseluruhan, ketinggian dari istana ini mencapai 70 meter dari puncak bangunan Garuda.

Desain lingkungan sekitar istana juga diperhatikan dengan cermat. Nyoman mengungkapkan bahwa tebing di sekitar istana akan ditanami berbagai tanaman untuk menciptakan suasana asri dan sejuk.

Desainer atau perancang Istana Garuda di IKN, Nyoman Nuarta menjelaskan perubahan siluet garuda di Kantor Presiden itu dilakukan bukan tanpa alasan.

Hal itu dilakukan guna menekankan arti bahwa sang garuda merunduk dan sayapnya tampak memeluk, menggambarkan makna bahwa Burung Garuda sebagai Lambang Negara sedang melindungi bangsa Indonesia.

“Kalau Garuda ngedongak, sombong dong. Terserah lah itu image orang. Saya buat sayapnya itu memeluk seperti melindungi,” kata NOtoritas

Nyoman menegaskan bahwa desain Istana Garuda melibatkan 44 orang ahli, demi menciptakan aspek keamanan dan ketahanan bangunan yang akan menjadi simbol nasional tersebut.

Halaman Istana Kepresidenan IKN digunakan untuk upacara HUT RI ke-79.
Area Istana Kepresidenan IKN memiliki bentuk menyerupai burung garuda yang tengah mengepakan sayap. Hal inilah yang membuat Istana Negara IKN disebut sebagai Istana Garuda.

Desain Istana Negara di IKN sangat berbeda dengan Istana Merdeka di Jakarta, atau Istana Bogor di Jawa Barat. Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono desain berbeda ini dimaksudkan untuk menghilangkan nuansa kolonial seperi Istana Negara di Pulau Jawa.

Ia menjelaskan bahwa desain Istana Garuda yang berbeda menunjukkan kemandirian bangsa Indonesia yang bisa dibanggakan.
Filosofi desain burung garuda ini sebagai perwujudan sinergi antara seni, sains, dan teknologi. Perpaduan ketiganya dianggap selalu mewarnai keberadaan bangunan-bangunan ikonik di seluruh dunia.

Awalnya, desain kepala burung di Istana Garuda akan dibuat menghadap ke samping. Namun, desain tersebut diurungkan, dimana perancang membuat kepala burung menghadap ke depan.

Menurut Deputi Sosial Budaya Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Alimudin ada makna di balik perubahan itu. Kepala burung yang menghadap ke depan membuktikan bahwa pembangunan Indonesia tak lagi Jawa-sentris, melainkan Indonesia-sentris.

Desain burung garuda ditransformasikan dan diwujudkan dalam bentuk pola arsitektur dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti estetika, nilai guna, serta manfaat bagi kemajuan pariwisata Indonesia.

Desain burung garuda ini juga erat kaitannya dengan Indonesia yang memiliki berbagai perbedaan, pandangan, keragaman adat istiadat dan perilaku, serta perbedaan kepercayaan dan agama.

Burung garuda menjadi simbol persatuan sekaligus bagian dari lambang negara, Bhineka Tunggal Ika. Desain burung garuda Istana Negara IKN dibangun dari kerangka baja, serta cangkang dari tembaga, kuningan, galvalum dan kaca.

Nantinya tembaga dan kuningan tersebut akan mengalami proses oksidasi, sehingga perlahan-lahan akan berwarna hijau tosca yang matang.
Pembangunan Istana Garuda IKN membutuhkan biaya yang besar. Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebelumnya sempat membocorkan bahwa proyek Pembangunan Gedung Istana Negara di IKN menelan anggaran mencapai Rp1,34 triliun.

Desain burung garuda di Istana Negara IKN dirancang oleh seniman asal Bali, I Nyoman Nuarta. Ia merupakan seniman ternama dalam negeri yang membuat patung raksasa Garuda Wisnu Kencana (GWK) Badung, Bali.

Nyoman Nuarta pertama kali mendapatkan undangan untuk mengikuti sayembara konsep desain bangunan gedung khusus di IKN pada 2020.

Setelah melewati tahap presentasi dan penyeleksian dari Menteri PUPR dan Presiden Jokowi, Nyoman Nuarta terpilih sebagai desainer untuk Istana Negara IKN.

Menurutnya, dengan desain burung garuda untuk Istana Negara IKN, seolah presiden yang akan bekerja di sana berada di garis depan untuk memimpin bangsa ini menggapai cita-cita, keadilan sosial, serta kemakmuran bersama.

Secara simbolik, peran tersebut mengandung bahasa keindahan, keramahtamahan, keteduhan, kemandirian, hingga kewibawaan sebagai pemimpin bangsa yang besar.