Dulohupa.id – Warga Kecamatan Tibawa berupaya meminta tolong kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gorontalo agar bisa memangkas pohon besar yang berada di kawasan lapangan namun justru diacuhkan.
Salah satu warga yang juga sebagai pedagang di areal lapangan sepak bola itu mengaku, ia sudah dua kali mendatangi DLH untuk mengatakan keinginan mereka. Tetapi hal itu tidak sama sekali diindahkan.
“Tidak ada pak. So dua kali ini ada pigi akan. Apa nanti sudah ada korban baru itu mo datangi?” ungkap, Rahim Puluhulawa (64) kepada wartawan.
Rahim mengkhawatirkan ini bisa membahayakan para pedagang yang ada di lokasi. Begitu juga dengan siswa siswa-siswi yang sering melintas di jalan.
“Jelas bahaya lah. Coba bapak lihat sendiri. Ini ranting pohon yang mudah rapuh. Terus sampai kapan ini mo dibiarkan begini,” kata Rahim.
Rahim juga membeberkan rasa kekecewaannya terhadap dinas tersebut yang terkesan acuh tak acuh.
“Yang kami minta hanya pemangkasan ranting. Kan ada namanya pemeliharaan lingkungan. Tapi ini tidak ada. Mereka justru bilang ada kerja sama dengan PLN,” ucap Rahim.
Baca Juga: Berburu Durian di Pelabuhan Paguat, Dijual Mulai Rp7.000 per Buah
Sementara Kepala Bidang Kebersihan DLH Kabupaten Gorontalo, Syarifuddin Pulukadang saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya tidak pernah ketemu dengan warga yang mengeluhkan terkait hal itu.
“Mereka datang memang tidak ketemu dengan saya. Mungkin ketemunya dengan orang lain,” ucap Syarifuddin saat di konfirmasi, Kamis (18/1/2024).
Syarifuddin juga beralasan alat pemangkas yang sering dipakai oleh DLH alami kerusakan dan tidak bisa digunakan lagi.
“Pada waktu itu kami punya sensor (alat pemangkas) rusak semua. Ini saja ada armada cuman 1. Itupun kecil,” kata dia.
lanjut Syarifuddin, pemangkasan pohon itu telah diberikan izin untuk dapat dilakukan mandiri dan bisa diambil alih oleh pihak pemerintah Kecamatan dengan catatan harus dipantau.
“Dari pihak kecamatan sudah kami izinkan. Tinggal mereka yang pantau. Tetapi dengan cara menanam degan pohon lain,” beber Syarifuddin Pulukadang.
Reporter: Herman Abdullah











