Dari Sampah Menjadi Berkah Ala Bank Sampah Montolutusan

oleh -204 Dilihat
Bank Sampah Montolutusan
Kantor Bank Sampah Montolutusan. (Foto: Zulkifli Mangkau)

Banggai, Sulteng – Pagi itu, seorang wanita dengan kacamatanya yang khas terlihat begitu semangat memimpin sebuah rapat. Pertemuan yang aktif dilakukan setiap bulannya untuk mengeveluasi hasil kinerja mereka pun digelar. Yang hadir terdiri dari pengurus dan beberapa relawan yang bekerja untuk bank sampah yang telah tiga tahun belakangan ini mereka gagas dengan penuh semangat.

“Inovasi sampah harus kita pikirkan, jangan berharap terus pada penjualannya,” ujar Indri Agustina, direktur Bank Sampah Montolutusan, saat memimpin rapat tersebut.

Direktur Bank Sampah
Indri Agustina direktur Bank Sampah Montolutusan saat berpose di dalam rumah ecobrick yang digerakkan oleh Bank Sampah Montolutusan. (Foto: Zulkifli Mangkau)

Bank Sampah Montolutusan merupakan unit pengelolaan sampah yang digerakkan oleh masyarakat di Desa Paisubololi, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulteng. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, tapi memiliki semangat yang selalu menyala. Umurnya sudah 3 tahun sejak berdiri pada tanggal 16 Juni tahun 2019 dan masih eksis sampai sekarang ini.

“Saya tahu memilah sampah ini berkat bank sampah montolutusan. Saya mendengar sosialisasi mereka tentang sampah yang bisa dimanfaatkan, baik menjadi uang atau bisa memberikan dampak baik lainnya bagi lingkungan,” ungkap Efsuin warga Desa Paisbulololi yang merupakan nasabah aktif di Bank Sampah Montolutusan.

Menurut Efsuin, sampah-sampah itu berasal dari perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan di mana saja, terutama di sungai, lalu berakhir di laut. Tanpa disadari, banyak sampah mengambang di lautan khususnya sampah plastik yang dipungut Efsuin.

Buntut dari semua perilaku buruk itu menyebabkan bom waktu soal sampah di lautan, dan Indonesia harus menerima penghargaan menjadi negara penghasil sampah terbanyak dan berakhir ke lautan.

Bagi Efsuin mengumpulkan sampah bagaikan memanen emas yang tersembunyi, yang sedari dulu tak disadari banyak orang dapat memberikan dampak yang baik bagi ekonomi. Ia yang dulu menyepelekan sampah, kini berangsur mulai memberi perhatian. Perubahan itu ia dapatkan setelah menjadi nasabah di Bank Sampah Montolutusan dan terlibat aktif dalam struktur di dalamnya.

Resah dengan Sampah

Desa Paisubololi sendiri termasuk desa pesisir yang berjarak tidak jauh dengan pantai, yang dilewati satu anak sungai. Konon, sampah yang menumpuk di muara berasal dari setiap warga yang masih sembarangan dan menganggap sungai sebagai solusi; tong sampah berjalan.

Efsuin resah dengan sampah yang menumpuk dan tak terurus di desanya. Fasilitas seperti tong sampah atau bak sampah juga tidak tersedia. Akhirnya warga membuang sampah sembarangan secara sadar.

Kepala Desa Paisubololi, Redmon Samadwy,  juga mengakui kekurangan bak sampah di desa adalah sebuah masalah yang membuat sampah di desa tidak terurus dan dibiarkan begitu saja. Apalagi menyelesaikan masalah bak sampah yang tidak tersedia di desa tidak semudah membalikan telapak tangan.

“Masalah di desa itu bukan hanya pada bak sampah, tapi juga soal TPA atau TPS yang tidak ada di Kecamatan Batui Selatan,” ungkap Redmon.

Redmon juga khawatir, saat bak sampah diadakan oleh pihak desa tanpa ada fasilitas TPA di kecamatan akan menimbulkan masalah baru, sampah akan menumpuk, dan tidak teratasi.

“Saya sudah merencanakan program bak sampah di depan rumah, hanya saja muncul masalah baru. Warga tidak mau menghibahkan tanah mereka untuk dibuatkan bak sampah atau tong sampah di depan rumah mereka,” jelasnya.

Selemah-lemahnya iman, katanya, untuk mengurangi volume sampah warga desa mencari solusi dengan membakarnya atau dibuang ke sungai; sebuah perilaku yang dapat mengurangi sampah tapi bukanlah solusi terbaik.

Akhirnya, rencana pembangunan bak sampah di desa jadi angan-angan saja. Solusi yang dinginkan tak kunjung datang. Malah masalah terus berdatangan. Salah satunya hadir dari masalah pengelolaan sampah yang dikelola oleh perusahaan migas pertamina hulu energi yang berada di desa, lebih tepatnya subcon perusahaannya—JOB Tomori.

Alih-alih untuk mengurangi sampah, tapi malah menimbulkan sampah bertumpuk dan menggunung di lokasi yang telah disewakan oleh pihak desa ke perusahaan. Masalah itu berlarut-larut dan sampah tidak terurus.

Melihat permasalahan sampah di desa kian bertambah dari hari ke hari. Indri Agustina berinisiatif memberikan tawaran solusi kepada desa dan perusahaan.

“Ada masalah pada pengelolaan sampah yang dilakukan oleh perusahaan tersebut,” terangnya.

Kata Indri, hampir setiap hari sampah dari perusahaan berdatangan, ditumpuk, lalu dibakar begitu saja. Jika tidak dilakukan pengelolaan dan pemanfaatan seperti daur ulang akan menimbulkan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Indri kemudian mendatangi perusahaan JOB Tomori lalu menawarkan ide dan gagasannya kepada pihak perusahaan. Solusi yang dikemukakan mengenai ajakan kerjasama dalam mengelola sampah yang dihasilkan perusahaan agar bisa diurus dan bisa memberi dampak positif juga bagi warga sekitar khususnya terhadap lingkungan hidup di desa.

“Masalah buruk yang ditimbulkan akibat pembakaran akan berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat,” ujar Indri.

Gayung bersambut cepat, ide Indri terterima. Pihak perusahaan tak berpikir panjang. Mereka juga sadar, apa yang telah mereka mulai akan memancing persoalan, dan tawaran dari Indri merupakan solusi yang harus dipikirkan.

Indri yang sama sekali tak berpengalaman dalam hal pengelolaan sampah menggaet suaminya, Ruli. Ia meminta Ruli mendesain model pengelolaan. Lalu meminta saran kepada para sahabatnya yang tergabung dalam kelompok herbalis Batui Selatan. Dari pergumulan itu ia mendapatkan banyak wejangan dan membuka lebar jalan menuju sesuatu yang ia cari—bank sampah.

Indri kemudian menghubungi pihak Bank Sampah induk yang berkedudukan di pusat Kota Luwuk, Banggai. Respon pengurus bank sampah induk sangat baik. Salah satu yang mereka lakukan ialah membuat sosialisasi ke pemerintah desa, masyarakat, dan kemudian membuat struktur bank sampah. Indri yang punya gagasan didapuk sebagai direktur bank sampah, dan 12 orang warga menjadi anggota di dalamnya. Dan anggota bank sampah semua di dominasi anak muda yang sifatnya relawan. Mereka menyepakati nama bank sampah adalah Bank Sampah Montolutusan. Montolutusan dalam bahasa Saluan mengandung arti kekeluargaan atau persaudaraan.

“Kehadiran bank sampah di desa menjadi solusi sebenarnya, tapi perlu manajemen yang baik juga,” kata Redmon, “Bentuk dukungan pemdes yakni dengan memberikan sebidang tanah kepada bank sampah untuk bangunan fisiknya.”

Hadirnya bank sampah Montolutusan ini merupakan angin segar bagi Efsuin. Keresahannya mendapatkan jawaban. Ia memanfaatkan peluang itu dengan cara belajar dan memahami bagaimana terlibat di dalamnya, baik sebagai nasabah atau menjadi anggota pengurus.

Menurut Indri, menjadi nasabah di bank sampah sangat mudah. Cukup membawa sampah dan mendaftarkan diri secara suka rela. Dengan begitu, keresahan para warga akan sampah mereka yang tak terselesaikan mulai terpecahkan.

“Bank sampah yang kami kelola ini memang untuk masyarakat di desa. Utamanya memberikan edukasi soal sampah, dari pemilahan sampai mendapatkan keuntungan,” terang direktur bank sampah montolutusan tersebut.

Pihak pertamina hulu energi melalui Manajer Senior Humas SKK Migas Kalimantan-Sulawesi (Kalsul), Wisnu Wardhana mengungkapkan, permasalahan besar yang dihadapi saat ini ialah persoalan sampah. Baik di kota maupun di desa menghadapi masalah yang sama. Hal ini Wisnu katakan saat mengunjungi kantor Bank Sampah Montolotusan.

Menurut Wisnu, kerjasama antara Bank Sampah Montolutusan dengan PT Pertamina Hulu Energi dalam hal ini JOB Tomori yang beroperasi di Desa Paisubololi dapat membantu menekan permasalahan sampah plastik yang sedang diselesaikan oleh pemerintah Indonesia.

Pengurangan limbah plastik melalui bank sampah yang dapat melakukan inovasi dan edukasi kepada masyarakat, kiranya dapat memberikan dampak yang baik, entah dampak positif bagi lingkungan juga dampak secara ekonomi terutama pendapatan masyarakat meningkat.

“Karena itu kami dari SKK Migas Kalsul akan terus mendukung Bank Sampah Montolotusan dalam upaya pengelolaan sampah melalui program CSR yang berkelanjutan,” kata Wisnu dilansir dari media obormotindok.co.

Berkah dari Sampah

Semenjak awal berdiri, Indri dan pengurus bank sampah tak mengira mereka mendapatkan keuntungan yang lumayan. Misalnya, nasabah yang mereka targetkan hanya berkisar di seputar desa saja, kini melebar sampai di bagian perkotaan. Tercatat nasabah yang terdaftar sebanyak 300 orang dan masih terus bertambah.

Kata Indri, setidaknya sampah yang terkumpulkan dari setiap nasabah setiap bulannya khusus kardus saja bisa sampai 700an kilo, plastik 30an kilo. Sampah ini yang diolah setiap harinya di bank sampah.

“Nasabah kita setiap harinya meningkat, dari yang berkeluarga sampai anak muda. Keuntungan yang didapatkan bisa menghidupi keluarga, yang diperoleh dari hasil penjualan sampah,” tutur Indri.

Perahu Bank Sampah
Perahu plastik merupakan inovasi dari relawan muda yang bergabung dengan bank Sampah Montolutusan. (Foto: Zulkifli Mangkau)

Indri menjelaskan, sistem di bank sampah montolutusan sendiri terbagi menjadi tiga metode; sampah disetor untuk ditabung, dijual, atau tukar sembako. Untuk hal menabung, bisa dalam bentuk tabungan uang atau dalam bentuk emas. Dan untuk membuktikannya, salah satu penerima manfaat tabungan di bank sampah ialah Efsuin.

“Dia rajin menabung sampahnya, paling sedikit dia menabung Rp500 ribu dan paling banyak Rp1 juta. Tabungan itu yang dia gunakan membiayai persalinan anaknya,” terang Indri.

Perputaran ekonomi di desa juga mulai membaik sejak hadirnya bank sampah. Masyarakat yang harus mengeluarkan uang puluhan ribu demi kebutuhan pokok di rumah, kini sudah bisa ditukar dengan sampah.

Menurut Indri, total omset yang didapatkan dari pengelolaan sampah di desa sebesar Rp60 juta. Itu hanya dikumpulkan dari kurun waktu satu tahun. Namun, sebanyak 15-20 persen keuntungan digunakan untuk biaya operasional.

“hanya 10 persen keuntungan diambil buat bank sampah, 15-20 persen untuk biaya operasional, dan sisanya digunakan untuk modal,” Indri memperjelas.

Tas Sampah
Olahan produk tas dari bank Sampah Montolutusan yang terbuat dari sisa bungkusan detergen dan pewangi pakaian. (Foto: Zulkifli Mangkau)

Tahun 2021 adalah masa suram yang dialami oleh bank sampah. Kerugian yang mereka derita tidaklah sedikit. Omset yang diharapkan berlalu begitu saja. Sejak masuknya Corona semua terbalik. Bank sampah menerima tamparan paling keras dengan kerugian puluhan juta, bahkan harus memutar otak untuk menjalankan usaha lain agar tetap hidup. Indri membeberkan, total kerugian yang didapatkan sebesar Rp20-30 juta. “Omset tidak ada, malah rugi yang banyak.”

Redmon, kepala Desa Paisubololi juga awalnya sempat ragu dengan kehadiran bank sampah montolutusan. Tapi, berjalannya waktu, ia sadar dan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh pengurus bank sampah.

Sandal Sampah
Sendal anak-anak yang didesain oleh relawan Bank Sampah Montolutusan, sebagai upaya mendaur ulang kembali sampah koran menjadi sesuatu yang bernilai. (Foto: Zulkifli Mangkau)

Menurutnya, kehadiran bank sampah turut memberi pemahaman kepada masyarakat tentang sampah. Pemahaman itu terlihat dari maraknya warga desa yang menyortir sampah dari ranah rumah tangga.

“Setidaknya ada perubahan perilaku, yang dulunya buang sampah sembarangan kini mulai tertata. Jika diukur, sudah 80 persen warga di sini sudah paham soal pemilahan sampah,” jelas kades tersebut.

Dampak positif lainnya adalah masalah sampah yang dapat merusak lingkungan mulai teratasi. Tapi, ada banyak harapan yang diinginkan oleh Bank Sampah Montolutusan dan pengurusnya. Utamanya soal keterlibatan pemdes melalui kebijakan atau peraturan. Misalnya, menghadirkan peraturan desa (Perdes) mengenai sampah di desanya. Karena jika tidak diatur, orang yang dari luar desa masih dengan sembarangnya membuang sampah di sungai dan berakhir di muara, yang secara administratif masuk dalam kawasan desa Paisubololi itu sendiri.

Redmon tak ingin membantah. Keinginannya untuk membuat perdes juga sudah direncanakan. Hanya saja, persoalan TPA yang belum ada di kecamatan yang menjadi masalah tersendiri, apalagi soal kesepakatan warga dalam mendukung perdes soal sampah ini nantinya.

“Kita mau mendorong pihak kecamatan memikirkan TPA dulu, baru membuat perdes ini juga tidak mudah,” tegasnya.

Indri mengatakan, kehadiran bank sampah montulusan adalah satu-satunya bank sampah yang masih aktif berkegiatan di Banggai, dari 46 yang ada. Atas geliat itu, mereka mendapat berbagai kunjungan dan penghargaan. Kini semangat Bank Sampah Montolutusan mengalir deras, banyak desa tetangga yang ingin meniru apa yang mereka sudah lakukan.

Rumah Pemberdayaan
Rumah Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang dibangun menggunakan ecobrick kolaborasi dari JOB Tomori dan Bank Sampah Montolutusan. Rumah Pemberdayaan ini terletak di Desa Paisubololi, Batui Selatan, Banggai, Sulteng. (Foto: Zulkifli Mangkau)

Atas kerjasama Bank Sampah Montolutusan dengan JOB Tomori sendiri, selain fokus dalam pengelolaan sampah dan daur ulang, mereka juga berhasil membangun Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak (RPIA) yang berada di Desa Paisubololi,  yang keseluruhan bangunannya terbuat dari sampah plastik yang telah didesain menjadi ecobrick. Baik bank sampah dan pihak JOB mengklaim bangunan RPIA tersebut ramah lingkungan dan tahan gempa, karena struktur bangunannya di desain dengan model mitigasi bencana alam, khususnya gempa bumi.

“Harapannya kerjasama ini tidak akan putus dan terus berlanjut. Apalagi yang kami gerakkan ini untuk penyelematan lingkungan hidup,” ungkap Indri dengan penuh harap.**

Penulis: Zulkifli Mangkau