Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

- Advertisement -

Curhat Para Penambang Emas Ilegal Dengilo; Tak Ada Pilihan Selain Jadi Penambang

Dulohupa.id – “Bagai Makan Buah Simalakama”, Peribahasa ini menjadi salah satu gambaran nasib para penambang emas illegal yang beroperasi di Tambang emas, Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato. Resiko dampak lingkungan serta keamanan kerja, harus mereka kesampingkan setelah diperhadapkan dengan kebutuhan ekonomi usai dilanda pandemi Covid-19 selama berbulan-bulan. Berikut curhatan hati para penambang kepada awak media Dulohupa.id, terkait kontroversi rencana penutupan tambang emas illegal di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato Belakangan ini.

Ditemui beberapa waktu lalu Yayan Tani dan Djafar menceritakan panjang lebar kehidupan pribadi mereka hingga alasan mereka menjadi seorang penambang emas illegal di Kabupaten Pohuwato. Sebelum menjalani pekerjaan sebagai penambang, keduanya ternyata merupakan Karyawan swasta di salah satu perusahaan di Gorontalo. Saat itu, kehidupan mereka terbilang cukup baik. Penghasilan mereka dari perusahaan, diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kehidupan normal Yayan dan Djafar berubah drastis setelah pandemic Covid-19 menyerang Gorontalo. Badai ekonomi menghantam perusahaan tempat mereka bekerja. Keduanyapun mau tidak mau harus ikut terdampak. Di PHK dari kantor mereka bekerja, yang juga menjadi satu-satunya harapan bagi keduanya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya dulunya pegawai koperasi pak, tapi dirumahkan setelah pandemi masuk ke Gorontalo, dan itu bukan hanya saya sendiri, tapi seluruh karyawan,” Ujar Yayan ditengah wawancara bersama tim Dulohupa.id.

Lebih lanjut Yayan mengatakan, usai dipecat kantornya, ia benar-benar kehilangan arah. Yayan kebingungan untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari. Alasan inilah kemudian menjadi faktor utama ia dan Djafar banting stir menjadi seorang penambang emas illegal.

“Saya tak tahu harus bekerja di mana, tempat saya bekerja melakukan PHK kepada semua karyawan, dan juga berimbas kepada saya. Makanya jalan satu-satunya memilih menjadi penambang,”

Dari hasil menambang emas inilah, kemudian Yayan dan Djafar hingga kini masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka masing-masing.

“Yah, lumayan juga hasil yang kami dapatkan dari aktivitas menambang di sini, sangat cukup untuk membeli keperluan di rumah,” lanjut Yayan.

Sementara itu, disinggung mengenai resiko pekerjaan serta dampak lingkungan akibat tambang illegal itu, diakui oleh Yayan. Namun, alasan ekonomi menurutnya masih menjadi pertimbangan utama untuk ia dan rekan-rekan penambang lainnya, untuk tetap melakukan penambangan.

“Tapi meskipun sibuk mencari penghasilan dari pertambangan ini, kami juga selalu meminta kepada yang punya alat untuk melakukan penimbunan pada galian bekas tambang yang sudah tidak digunakan lagi, karena bisa berdampak buruk pada lingkungan,” Ujar Djafar rekan Yayan yang juga diiyakan oleh para penambang lain yang hadir dalam sesi wawancara itu.

Kedepan, baik Yayan dan Djafar berharap pemerintah bisa ikut mempertimbangkan nasib mereka sebelum kemudian mengambil kebijakan terkait tambang emas illegal di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato itu.