Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIGORONTALO

BI Gorontalo Edukasi Cinta Rupiah ke Wilayah Pelosok tanpa Internet

×

BI Gorontalo Edukasi Cinta Rupiah ke Wilayah Pelosok tanpa Internet

Sebarkan artikel ini
BI Gorontalo
Siswa SD Negeri 7 Bone di Desa Ilohuuwa, Kabupaten Bone Bolango diberikan edukasi cinta Rupiah. Foto: Humas BI

Gorontalo – Keterbatasan akses internet dan jaringan komunikasi tidak menjadi penghalang bagi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Gorontalo untuk memperluas edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah ke wilayah pelosok Kabupaten Bone Bolango.

Program tersebut menyasar siswa sekolah dan masyarakat yang berada di daerah dengan akses internet serta sinyal yang masih terbatas. Langkah ini dilakukan untuk memastikan edukasi mengenai Rupiah tidak hanya dinikmati masyarakat di wilayah perkotaan.

Deputi Kepala KPwBI Gorontalo, M. Andi Destriyan, mengatakan edukasi CBP Rupiah selama ini rutin menyasar dua kelompok utama, yakni pelajar dan masyarakat. Namun, kegiatan tersebut lebih banyak dilaksanakan di kawasan perkotaan yang memiliki akses komunikasi lebih memadai.

“Kami ingin masyarakat dan anak-anak siswa di daerah pelosok yang aksesnya terbatas juga memiliki hak dan kesempatan yang sama,” kata Destriyan.

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong BI Gorontalo membuat program khusus untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses.

Dalam pelaksanaannya, BI menggandeng komunitas 1.000 Guru untuk menjangkau sejumlah wilayah pelosok. Edukasi diberikan secara langsung kepada siswa di sekolah maupun masyarakat setempat.

Kegiatan untuk masyarakat dikemas melalui berbagai aktivitas dan perlombaan. Cara tersebut dilakukan agar pesan mengenai CBP Rupiah dapat diterima secara langsung dan lebih mudah dipahami.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran program adalah SD Negeri 7 Bone di Desa Ilohuuwa, Kabupaten Bone Bolango. Sekolah tersebut berada di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses internet, bahkan belum tersedia jaringan internet.

Bagi BI, kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk hadir secara langsung.

“Keterbatasan akses internet dan sebagainya bukan menjadi penghalang. Edukasi Rupiah tetap bisa berjalan meskipun jalannya sulit, internet belum ada, dan sinyal juga belum ada,” ujar Andi.

BI Gorontalo

Sebelum menentukan lokasi, BI terlebih dahulu melakukan pemetaan untuk melihat wilayah yang menjadi prioritas. Menurut Andi, pelaksanaan program di daerah terpencil membutuhkan persiapan lebih panjang, termasuk survei untuk memastikan kondisi wilayah yang akan menjadi sasaran edukasi.

“Tahun ini kami fokus di empat wilayah dulu. Untuk melakukan satu program di wilayah yang terpencil, perencanaannya membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan ada survei terlebih dahulu untuk melihat apakah wilayah tersebut layak,” katanya.

Edukasi yang diberikan tidak hanya mengenalkan bentuk dan ciri-ciri uang Rupiah. BI juga mendorong masyarakat memahami fungsi Rupiah sekaligus menggunakannya secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep CBP Rupiah sendiri mencakup tiga pesan utama. Cinta Rupiah diwujudkan dengan mengenali dan merawat Rupiah dengan baik. Bangga Rupiah berkaitan dengan penggunaan Rupiah sebagai simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, paham Rupiah diarahkan pada perilaku menggunakan uang secara bijak, termasuk menghindari kebiasaan boros dan membangun budaya menabung.

Melalui perluasan edukasi tersebut, BI Gorontalo berharap pengetahuan masyarakat dan siswa di wilayah pelosok mengenai CBP Rupiah semakin kuat.

“Harapan kami wawasan atau pengetahuan masyarakat dan siswa tentang Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah menjadi lebih kuat,” tutup Destriyan.