Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINE

Ojek 17 Tahun Penakluk Rimba Pinogu: Perjuangan Fahri Menyusuri Medan Ekstrem

×

Ojek 17 Tahun Penakluk Rimba Pinogu: Perjuangan Fahri Menyusuri Medan Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Ojek Pinogu
Fahri Mokodompit, salah satu tukang ojek di medan ekstren Pinogu. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Di usia yang baru menginjak 17 tahun, riuh rendah kehidupan remaja pada umumnya tak sepenuhnya mewarnai hari-hari Fahri Mokodompit. Saat rekan-rekan sebayanya menghabiskan waktu sore dengan bersantai usai bel sekolah berbunyi, warga Desa Tulabolo, Kabupaten Bone Bolango ini justru bersiap memacu motornya menyusuri Pinogu, salah satu rute paling berbahaya di Gorontalo.

Sebagai ojek 17 tahun yang masih duduk di kelas 3 SMA, Fahri melakoni peran ganda yang tak biasa, seorang siswa di pagi hari, dan tukang ojek penakluk medan ekstrem selepas jam sekolah.

Meneladani Jejak Sang Ayah Demi Membantu Keluarga

Keberanian dan ketangkasan Fahri menunggangi sepeda motor di jalanan curam dan berlumpur bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Jalur ekstrem bukanlah musuh baginya, melainkan ruang tumbuh. Ia mengaku memutuskan untuk turun ke jalanan sulit ini sejak masih berstatus siswa kelas 1 SMA.

Langkah ini ia ambil demi mengikuti jejak sang ayah, seorang ojek senior yang sudah lebih dulu melintasi rimba Pinogu dan kawasan tambang rakyat. Dari sang ayah pula ia belajar arti kerja keras. Penghasilan dari mengojek tidak ia habiskan begitu saja, melainkan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan orang tua serta mencukupi uang jajan sehari-hari.

Bukan Soal Otot, tapi Pakai Otak

Bagi masyarakat lokal, rute menuju Pinogu dikenal sebagai salah satu lintasan paling menantang. Tanah liat yang licin saat hujan, tanjakan terjal, serta jurang di sisi jalan menuntut konsentrasi penuh. Namun, di balik seragam sekolah yang dilepaskannya setiap siang, Fahri menjelma menjadi pengendara yang sangat lincah.

Menariknya, meski berstatus sebagai ojek 17 tahun, Fahri mampu bersaing ketat dengan para tukang ojek senior yang sudah belasan tahun mengarungi rute tersebut. Saat ditanya rahasia kemampuannya menaklukkan medan ganas itu, Fahri memberikan jawaban yang dewasa.

“Di medan ekstrem seperti ini, kita tidak bisa cuma mengandalkan otot. Yang paling penting itu pakai otak—harus tahu kapan tahan gas, pilih jalur roda yang tepat, dan baca kondisi jalan,” ungkap Fahri.

Performa Kuda Besi Modifikasi Khusus

Untuk menunjang aksinya di lintasan berat, Fahri mengandalkan sepeda motor yang telah dimodifikasi khusus. Mulai dari penyesuaian rantai, roda, hingga suspensi, kuda besinya dirancang sedemikian rupa agar sanggup menerjang jalur berlumpur tebal dan tanjakan batuan tanpa kendala teknis.

Fahri juga dikenal tidak pernah pilih-pilih muatan. Mulai dari mengantar penumpang yang butuh akses transportasi keluar-masuk kawasan terisolasi, hingga mengangkut barang-barang kebutuhan pokok yang berat, semua ia jalani dengan cekatan.

Di atas roda dua dan tanpa perlengkapan rumit, Fahri terus memacu motornya melintasi rimba Pinogu. Perjuangannya setiap hari menjadi bukti nyata daya juang seorang ojek 17 tahun dari Tulabolo yang tak gentar menantang alam demi membantu keluarga dan merajut masa depan.

Reporter: Petruk