Scroll Untuk Lanjut Membaca
KOTA GORONTALOPENDIDIKAN

Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty dan IAIN Gorontalo Kolaborasi Gelar Hari Santri Inklusif

×

Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty dan IAIN Gorontalo Kolaborasi Gelar Hari Santri Inklusif

Sebarkan artikel ini
Santri Ilnklusif

Gorontalo – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) IAIN Sultan Amai Gorontalo menyelenggarakan kegiatan bertema “Santri Inklusif: Belajar Al-Qur’an Tanpa Batas”, Selasa (22/10/2025).

Kegiatan ini menghadirkan suasana kebersamaan yang unik dan inspiratif, karena turut melibatkan TPQ Ulul Albab, yang para santrinya merupakan anak-anak dengar. Mereka berinteraksi dan belajar bersama santri tunarungu dalam suasana yang penuh kehangatan dan saling menghargai.

Fokus utama kegiatan adalah belajar Qur’an Isyarat dan Bahasa Isyarat Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) yang dipandu langsung oleh Abdul Kadir Umar, aktivis Gerkatin. Menurut Abdul Kadir, kegiatan ini merupakan langkah kecil namun penting untuk membuka akses pembelajaran Al-Qur’an yang lebih luas.

“Kami ingin menunjukkan bahwa santri tunarungu juga bisa memahami, membaca, dan mencintai Al-Qur’an melalui bahasa isyarat. Semua bisa belajar bersama tanpa ada batas komunikasi,” ujarnya dalam sesi pembelajaran.

Perwakilan dari Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Khaerul Asfar, M.Thi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan kelompok difabel dalam bidang keagamaan.

“Pengabdian masyarakat tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membuka akses dan kesempatan belajar bagi semua kalangan. Melalui pembelajaran Al-Qur’an Isyarat ini, kami ingin hadir untuk mendampingi masyarakat tunarungu agar tetap bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an secara bermakna,” ujarnya.

Sementara itu, ketua Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty, Ellen Podungge, menegaskan bahwa Hari Santri menjadi momen penting untuk meneguhkan nilai kesetaraan dalam pendidikan keagamaan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut, agar masyarakat semakin memahami bahwa santri dengan kebutuhan khusus juga memiliki semangat dan potensi besar dalam memahami Al-Qur’an,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan sesi doa bersama dalam bahasa isyarat, yang menggambarkan pesan kuat: semua santri setara di hadapan Allah, apa pun kemampuan dan cara mereka beribadah.