Scroll Untuk Lanjut Membaca
PERSPEKTIF

Daster Merah Putih di Hari Kemerdekaan

×

Daster Merah Putih di Hari Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Kemerdekaan
Daster digunakan laki-laki dalam euforia pada lomba semarak kemerdekaan RI. Foto/ist

Dulohupa.id – Kata merdeka untuk siapa?. Ditengah gencarnya distorsi semangat kemerdekaan, entah terdegradasi atau kian melejit naik, kontemporer bendera bajak laut serial anime “One Piece” tengah disandingkan dengan sang merah putih pemupuk semangat.

Memang, akhir-akhir ini pengibaran bendera anime Mugiwara tengah disoroti. Selain itu, ada hal lain yang juga tak kalah menarik. Di Kota Gorontalo, terdapat pelarangan trans-puan untuk ikut dalam kegiatan di HUT RI ke-80.

Dilansir pemberitaan Dulohupa.id pada antero 01 Agustus 2025 bertajuk “Wali Kota Gorontalo Larang Waria Ikut serta Kegiatan HUT RI ke-80” menerangkan Adhan Dambea sebagai Walikota Gorontalo dengan tegas melarang mereka “trans-puan” untuk terlibat dalam kegiatan kemerdekaan tahun ini, sebagai salah satu dasar pada kuatnya adat istiadat Gorontalo.

Adhan menyebut “Tidak boleh! Waria tidak bisa ikut dalam perayaan. Jangan beri kesempatan kepada mereka”, larangan ini mencakup partisipasi mereka dalam kegiatan gerak jalan. Selain kepala daerah, salah satu legislatif kota juga ikut bersuara terkait pelarangan ini. Yaa, sosok Totok Bachtiar, yang menyarankan kepada kepala daerah untuk mencopot lurah/camat yang memberikan ruang pada trans-puan tampil dalam kegiatan-kegiatan hari kemerdekaan.

Tak hanya itu, Totok Bachtiar pun dengan tegas melarang penyelenggaraan lomba semarak kemerdekaan yang mempertontonkan mereka “laki-laki” mengenakan pakaian daster dengan alasan apapun. Mungkin karena daster merujuk pada simbol “untuk pakaian perempuan”.

Kota Gorontalo yang memang berlabel “Adat bersendikan Syarah, Syarah bersendikan Kitabullah” adalah nilai filosofi yang hidup dalam nafas masyarakat. Hampir tak bisa dipungkiri, jika nilai filosofi tersebut kemudian diperhadapkan dengan perilaku yang berkonotasi “menyimpang (waria)” coba dipaksa masuk pada cara pandang toleransi, akan tertolak. Maka, kita mungkin akan selesai untuk memperpanjang argumen pembelaan kepada mereka “trans-puan”, meski coba diintip menggunakan pisau analisisa hak asasi.

Sementara, sedikit merujuk pada pengertian trans-puan ialah istilah untuk individu yang terlahir sebagai laki-laki tetapi mengidentifikasi diri sebagai perempuan, dan seringkali mengekspresikan diri sebagai perempuan melalui cara berpakaian, berperilaku, dan sebagainya. Trans-puan jika merujuk pada penjelasan, merupakan kondisi hormon estrogen yang lebih dominan dibandingkan dengan hormon testosteron yang umumnya lebih dominan pada laki-laki normal.

Sentil-sentil sedikit, 17 Agustus 1945 yang menjadi memorandum bangsa dan rakyat Indonesia, adalah bukti perjuangan bukan pemberian. Panjang sejarah penjajahan sebagai bukti nyata penuntutan kebebasan rakyat Indonesia dari bangsa lain. Telah dekat, 17 Agustus 2025 adalah kado sebagai pertanda kemerdekaan harus melekat pada rakyat.

Pada era sekarang, sedikit banyak kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan dari diskriminasi dan ketidaksetaraan. Lebih lanjut, kemerdekaan sendiri jika didefinisikan menurut KBBI ialah sebuah kebebasan, lepas, tidak mendapat tekanan dari luar, tidak terjajah, dan lain-lain. Maka, mari kita semua berasumsi, apakah memang kata merdeka itulah yang disebut kebebasan?.

Ketika kita diperhadapkan pada situasi lelaki berpakaian daster dengan alasan untuk menambah euforia pada lomba-lomba peringatan kemerdekaan, atau para trans-puan yang ikut serta meramaikan kegiatan di hari kemerdekaan, adalah dua kondisi yang berada. Namun, salah dan benarnya dari dua situasi ini ada di tangan kita.

Yang pasti, kita sebagai rakyat wajib turut andil dalam kebahagiaan 80 warsa perjalanan bangsa Indonesia setelah merdeka dari penjajahan.

Penulis: Ridha Yansa