Scroll Untuk Lanjut Membaca
BOALEMOHEADLINE

Jembatan di Wonosari Nyaris Ambruk, Pemerintah Boalemo Tutup Mata

×

Jembatan di Wonosari Nyaris Ambruk, Pemerintah Boalemo Tutup Mata

Sebarkan artikel ini
Jembatan Wonosari
Jembatan di RT 15, Desa Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo yang Nyaris Ambruk. foto/ist

Dulohupa.idJembatan beton di Desa Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo nyaris ambruk dan tak aman dilalui. Pemerintah Boalemo dinilai tutup mata seolah-olah masyarakat dibiarkan menikmati fasilitas umum yang rusak tersebut.

Struktur beton bagian tengah jembatan telah retak dan mulai runtuh bahkan menyisakan celah besar yang sangat membahayakan. Masyarakat pun terpaksa harus melalui jalan tersebut, karena akses yang paling dekat menjadi jalur transportasi hanya melewati jembatan itu.

Jembatan ini juga merupakan akses utama warga untuk menuju pusat kecamatan, sekolah, pasar, dan fasilitas umum lainnya di kecamatan Wonosari. Namun karena kerusakan yang makin parah, warga tak lagi berani melintas menggunakan kendaraan roda empat. Bahkan untuk pejalan kaki dan motor pun kini harus ekstra hati-hati.

Melihat situasi darurat ini, warga melakukan gotong royong dan membangun jalur darurat dengan cara membentangkan papan kayu di sela-sela struktur jembatan yang ambruk dan berlubang besar. Jalur darurat itu dibuat di atas kerangka beton yang sudah mulai roboh agar masyarakat tetap bisa melintas meski sangat berisiko.

Ketua Umum AMPKPRG (Aliansi Mahasiswa dan Pelajar Kawasan Paguyaman Raya Gorontalo), Raman Tamu menyoroti kondisi jembatan yang kian memprihatinkan. Ia mengatakan bahwa struktur jembatan tersebut telah mengalami kerusakan parah dan berada dalam kondisi sangat kritis sehingga tidak lagi layak digunakan sebagai jalur penghubung.

Menurutnya, jika tidak segera mendapatkan perhatian dan penanganan dari pihak terkait, dikhawatirkan jembatan tersebut bisa runtuh sepenuhnya dan membahayakan keselamatan warga yang melintas.

“Kondisinya sudah sangat kritis. Bagian tengah jembatan mulai runtuh, sehingga warga terpaksa membentangkan papan kayu di sela-sela struktur yang ambruk agar jembatan masih bisa dilewati. Hal ini harus segera mendapat perhatian dari pemerintah untuk segera ditangani,” ungkap Raman.

Raman mengecam keras lambannya respons pemerintah daerah terhadap krisis infrastruktur ini. Menurutnya, tindakan warga yang membangun jalur darurat sendiri adalah bukti nyata kurangnya perhatian dari pihak berwenang terhadap keselamatan masyarakat.

“Ini mestinya jadi tanggung jawab pemerintah. Warga tidak seharusnya membahayakan diri dengan membuat jalur darurat seadanya. Sampai dimana kepedulian pemerintah saat ini untuk menanggulangi hal tersebut?. Seolah-olah pemerintah mau masyarakat menikmati jembatan yang nyaris roboh tersebut. Apakah nanti ada korban jiwa dulu baru pemerintah berkgerak?,” tegas Raman.

Ia menambahkan, bila kerusakan jembatan ini terus dibiarkan tanpa penanganan, bukan tidak mungkin akan terjadi kecelakaan fatal.

“Kalau sampai ada korban, siapa yang bertanggung jawab?,” ujarnya.

Warga pun mengaku hanya bisa mengandalkan kemampuan sendiri. Dengan alat dan bahan seadanya mereka mengikat dan menyusun papan kayu agar bisa menopang kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Namun mereka sadar ini hanya solusi sementara yang penuh risiko.

Bahkan, beberapa warga secara sukarela berjaga hingga larut malam di sekitar jembatan. Mereka memastikan jalur darurat bisa dilalui dengan aman dan membantu pengguna jalan yang kesulitan saat melintas.

Reporter: Hendrik Gani