Scroll Untuk Lanjut Membaca
BUDAYAGORONTALOHEADLINERamadanVideo

Makna di Balik Tradisi Tumbilotohe yang Masih Pakai Lampu Botol

×

Makna di Balik Tradisi Tumbilotohe yang Masih Pakai Lampu Botol

Sebarkan artikel ini
Tumbilotohe
Seorang warga saat menyalakan lampu botol saat Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo di tahun 2023. Dok: Dulohupa

Dulohupa.id – Salah satu tokoh agama di Gorontalo, Rahmat Djafar menjelaskan makna tradisi Tumbilotohe atau (pasang lampu) yang masih menggunakan lampu botol tradisional.

Menurut Rahmat Djafar, Tumbilotohe pakai lampu botol untuk menjaga nilai budaya leluhur kita, khususnya umat beragama islam di Gorontalo saat menyongsong hari raya IdulFitri nanti.

“Saya lebih kenilai naturalnya yang masih alami, tujuannya untuk mempertahankan budaya leluhur kita,” ungkap Rahmat, Senin (17/4/2023).

Simak video Makna di Balik Tradisi Tumbilotohe yang Masih Pakai Lampu Botol:

Memang saat ini di Provinsi Gorontalo sudah banyak masyarakat yang mulai meninggalkan naturalnya tradisi Tumbilotohe. Sebab terlihat saat ini masyarakat banyak lebih memilih beralih ke lampu listrik atau tumbler warna warni. Hal Itu enggan dilakukan Rahmat, sebab kata dia akan menghilangkan naturalisasi tradisi tersebut.

Ia menceritakan sedikit kisah di masa para leluhur, bahkan mereka belum menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk menyalakan sumbu lampu yang ada di botol seperti saat ini.

“Kalu dulu itu bahkan bukan minyak tanah, dia semacam minyak tapi bukan minyak tanah, itu alami dan bisa bertahan sampai subuh tiba,” jelasnya.

Dengan melihat hal itu Rahmat enggan beralih ke lampu listrik, dirinya lebih mempertahankan menggunakan lampu botol dan alikusu sebagai tempat menaruh lampu tersebut.

“Meskipun saat ini minyak tanah mahal, saya lebih kenilai naturalnya yang masih alami,” ujarnya.

Menurut dia pada saat dahulu kala di malam 27 Ramadan di depan rumah masing-masing masyarakat dihimbau untuk memasang penerangan, sebab saat itu belum ada listik untuk menerangi jalan para pembagi zakat untuk menerangi jalan mereka. Dan itu juga sebagai penerang untuk orang-orang menuju ke masjid.

“Kalau kita lihat sejarahnya. Dulu, karena belum ada lampu atau listrik, di malam 27 Ramadan para pembagi zakat itu untuk membagikan zakat, mereka memerlukan penerangan, sehingga dihimbau para warga memasang lampu di depan rumahnya, selain itu tujuannya untuk penerangan orang-orang menuju ke masjid,” tutupnya.

Reporter: Hendrik Gano